Melihat Tren Konsumen Indonesia, Benarkah Bijak dalam Berbelanja?
Di tengah perlambatan ekonomi dan tekanan inflasi, tren belanja digital masyarakat Indonesia justru menunjukkan penguatan.
Data dari Google dan Temasek mencatat pertumbuhan e-commerce Indonesia masih berada di kisaran dua digit, sekitar 14 persen pada 2025.
Kondisi ini mengindikasikan adanya pergeseran mendasar dalam cara masyarakat berbelanja, dari yang sebelumnya impulsif dan berbasis diskon, menjadi lebih terencana dan rasional.
Commercial Director Lazada Indonesia Erika Agustin menjelaskan bahwa perubahan ini merupakan hasil dari proses panjang adaptasi konsumen terhadap ekosistem digital.
Baca juga: Belanja Online Indonesia Bergeser, Kepercayaan Jadi Penentu di 2026
Menurutnya, konsumen Indonesia kini telah memasuki fase yang lebih matang dalam berbelanja online.
“Berdasarkan riset dari Cube Asia kita melihat memang ada pergeseran perilaku konsumen kita di Indonesia. E-commerce di Indonesia ini sudah lama sekali sebenarnya ada,” ujar Erika dalam program Naratama Kompas.com, dengan tema Era Belanja Online Sekarang: Murah Yes, Tapi Trust Is A Must! dikutip Selasa (3/2/2026).
“Jadi dari 10 tahun yang lalu, 12 tahun yang lalu dan sekarang kita melihat konsumen Indonesia itu sudah mulai lebih dewasa dalam berbelanja, namanya itu confidence commerce, di mana konsumen kita sudah bukan lagi mencari promo saja,” lanjut Erika.
Ia menjelaskan, jika sebelumnya konsumen cenderung mengejar harga termurah, kini keputusan belanja didorong oleh kepercayaan terhadap platform dan produk yang ditawarkan.
“Sekarang mereka lebih bijaksana dan teredukasi. Konsumen mencari platform dan produk yang memberikan rasa percaya diri saat berbelanja. Mereka sudah sangat melek digital dan familier dengan transaksi online,” katanya.
Erika menambahkan, tingkat literasi digital yang semakin tinggi membuat konsumen memahami pola promosi di berbagai platform e-commerce.
Strategi belanja pun menjadi lebih terencana, misalnya dengan memanfaatkan momen promo tertentu.
“Konsumen sekarang sudah paham pola seperti double date. Mereka akan menyimpan barang di keranjang belanja terlebih dahulu, lalu membeli saat promo berlangsung. Jadi belanjanya lebih strategis,” jelasnya.
Perubahan signifikan juga terlihat jika dibandingkan dengan kondisi satu dekade lalu, ketika konsumen masih cenderung skeptis terhadap belanja online dan mengandalkan diskon sebagai faktor utama pengambilan keputusan.
“Jadi dari 10 tahun yang lalu, 12 tahun yang lalu dan sekarang kita melihat konsumen Indonesia itu sudah mulai lebih dewasa dalam berbelanja. Jadi namanya itu confidence commerce, di mana konsumen kita sudah bukan lagi mencari promo saja,” ujar Erika.
Pandangan Mengenai Perang Harga
Terkait perang harga di industri e-commerce, Erika menilai fenomena tersebut belum sepenuhnya hilang.
Namun, konsumen kini jauh lebih selektif dan tidak lagi semata-mata berorientasi pada harga.
“Mungkin tidak 100 persen hilang, tapi sekarang orang sudah lebih bijaksana. Harga memang penting, tapi di balik harga, value-nya apa sih? Jadi apakah platformnya cukup tepercaya? Apa sellernya cukup tepercaya? Ratingnya gimana? Apakah barangnya asli atau tidak? Jadi sudah bisa memilah-milah nih,” kata dia.
Tag: #melihat #tren #konsumen #indonesia #benarkah #bijak #dalam #berbelanja