Stabilitas Makro dan Reformasi Pasar Modal, Daya Tarik Investasi RI
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kepada awak media usai Indonesia Economic Summit di Jakarta pada Selasa (3/2/2026). (KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)
19:24
3 Februari 2026

Stabilitas Makro dan Reformasi Pasar Modal, Daya Tarik Investasi RI

Di tengah fragmentasi ekonomi global dan ketidakpastian pasar yang masih berlangsung, Indonesia tetap berada dalam radar investor global.

Stabilitas makroekonomi, arah kebijakan yang konsisten, serta komitmen terhadap integrasi pasar internasional menempatkan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi yang dinilai relevan, kompetitif, dan berjangka panjang.

Kombinasi faktor struktural yang dimiliki Indonesia dinilai jarang ditemukan secara bersamaan di negara berkembang lain.

Baca juga: Purbaya Yakin Ekonomi RI Bisa Tumbuh 8 Persen pada 2029: Jika Saya Masih di Sini

Ilustrasi ekonomi, perekonomian. SHUTTERSTOCK/TIPPAPATT Ilustrasi ekonomi, perekonomian.

Stabilitas makroekonomi yang relatif terjaga, sistem demokrasi yang relatif matang, serta basis demografi muda yang produktif menjadi penopang utama daya tarik tersebut.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang konsisten, Indonesia menawarkan kepastian jangka menengah yang dibutuhkan investor global di tengah volatilitas pasar internasional.

Fondasi makroekonomi yang stabil dan agenda reformasi yang berkelanjutan menjadikan Indonesia dipandang sebagai negara dengan arah kebijakan yang jelas dan memiliki kapasitas untuk menangkap peluang investasi jangka menengah dan panjang.

Isu tersebut menjadi salah satu topik dalam gelaran hari pertama Indonesia Economic Summit 2026.

Baca juga: Ekonomi 2026 Stabil, Mengapa Tekanan Rumah Tangga Masih Terasa?

Negosiasi perdagangan dan komitmen investasi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan berbagai pencapaian terkait indikator makroekonomi maupun kemajuan signifikan dalam negosiasi perdagangan Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Indonesia Economic Summit di Jakarta pada Selasa (3/2/2026).KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Indonesia Economic Summit di Jakarta pada Selasa (3/2/2026).

"Sebagian besar negosiasi perdagangan telah diselesaikan, dengan Kanada, dengan UE, dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), dan kami sedang dalam proses menyelesaikan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat," ungkap Airlangga, Selasa (3/2/2026).

Penyelesaian negosiasi perdagangan dengan sejumlah mitra utama dinilai memperluas akses pasar dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Selain negosiasi perdagangan, Airlangga juga menyinggung komitmen pembiayaan transisi energi yang diperoleh Indonesia bersama negara-negara G20.

Baca juga: Pesan Prabowo untuk Investor hingga Mitra Internasional: Fundamental Ekonomi Indonesa Tetap Kuat dan Tangguh

Ia menyampaikan, Indonesia mendapatkan komitmen Just Energy Transition Partnership (JETP) sebesar 21,4 miliar dollar AS dan telah dimanfaatkan sekitar 3,5 miliar dollar AS.

Di sisi lain, Australia juga menyatakan rencananya untuk berinvestasi di Indonesia. Pada tingkat regional, pemerintah mengajak Sarawak Air Malaysia untuk berkolaborasi dalam membuka konektivitas transportasi guna mendukung destinasi pariwisata di luar Jakarta dan Bali.

Selain itu, kerja sama dengan Singapura difokuskan pada pengembangan kawasan ekonomi khusus dan program digital.

“Ini berarti ada banyak modal dalam pipeline yang siap untuk diinvestasikan di Indonesia," kata Airlangga.

Baca juga: Program Sosial Tambang Dairi Dorong Ekonomi Desa Sepanjang 2025

Menurutnya, aliran komitmen investasi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan yang diperhitungkan di tengah dinamika global.

Kehadiran berbagai mitra internasional dalam kerja sama perdagangan dan investasi dinilai memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi domestik.

Reformasi pasar modal

Dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga menyampaikan agenda reformasi pasar modal yang baru saja diluncurkan pemerintah. Reformasi tersebut difokuskan pada empat pilar utama, yakni efisiensi, transparansi, tata kelola, dan penegakan hukum.

Ilustrasi pasar saham.PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.

Langkah tersebut diambil untuk meningkatkan kepercayaan pelaku pasar serta memperkuat daya saing pasar keuangan Indonesia. Ia menilai respons pasar menunjukkan sinyal positif terhadap kebijakan tersebut.

Baca juga: RI Butuh Perubahan Struktural untuk Capai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

“Hingga pagi ini, pasar modal telah kembali ke zona hijau, yang menandakan respons pasar yang positif," ungkapnya.

Upaya pembenahan pasar modal menjadi bagian dari strategi lebih luas untuk memperkuat stabilitas sektor keuangan sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan jangka panjang.

Pasar keuangan yang efisien dan transparan menjadi salah satu indikator penting bagi investor portofolio maupun investor institusi internasional.

Platform membangun kepercayaan

Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council, Arsjad Rasjid, dalam sambutannya menekankan bahwa kehadiran forum tersebut menjadi platform strategis untuk membangun kepercayaan investor di tengah dunia yang penuh dengan multiple layers of unknowns.

Baca juga: Walau IHSG Keok 2 Hari Beruntun, Purbaya Pede Fondasi Ekonomi RI Tetap Kuat

Menurut Arsjad, kepastian menjadi elemen krusial dalam keputusan investasi global. Ia menegaskan fokus forum tersebut pada tiga pilar utama.

“Tujuan kami adalah memastikan Indonesia tetap atraktif, kompetitif, dan produktif. Fokus kami tertuju pada tiga pilar utama yakni Kepastian (Certainty), Kapabilitas (Capability), dan Modal (Capital),” tegas Arsjad.

Ia menjelaskan, kepastian regulasi dan kebijakan menjadi fondasi utama. Kapabilitas mencakup kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur, sementara modal berkaitan dengan ketersediaan pembiayaan untuk mendukung ekspansi usaha dan proyek strategis.

Forum tersebut juga diharapkan mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai sektor untuk menyelaraskan prioritas pembangunan nasional dengan kebutuhan investor global.

Baca juga: Indonesia Terjebak Inersia Ekonomi, Bappenas dan Prasasti Dorong Reformasi Struktural

Ilustrasi bisnis, pertumbuhan bisnis.PIXABAY/TUNG NGUYEN Ilustrasi bisnis, pertumbuhan bisnis.

Peluncuran B57+ Asia-Pasifik

Dalam rangkaian forum tersebut, diluncurkan pula Business 57+ (B57+) Asia-Pacific Regional Chapter.

Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara Islam dan mitra strategisnya, dengan Indonesia diposisikan sebagai simpul utama kerja sama di kawasan Asia-Pasifik.

Presiden Islamic Chamber of Commerce and Development, Abdullah Saleh Kamel, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peluncuran B57+ merupakan inisiatif kolektif yang didedikasikan untuk masa depan kemanusiaan yang lebih baik.

”Dunia usaha, investasi, perdagangan, dan keuangan, dapat memainkan peran utama dalam memajukan masyarakat kita. Visi ini sejalan dengan komitmen para pemimpin politik di negara-negara seperti Arab Saudi, Indonesia, Malaysia, Turki, dan Pakistan yang secara aktif berupaya memberdayakan sektor swasta melalui reformasi legislatif dan infrastruktur digital,” kata Kamel.

Baca juga: Pelabuhan Patimban Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Jawa Barat

Inisiatif tersebut diharapkan memperluas jejaring bisnis dan mempercepat arus perdagangan serta investasi lintas kawasan.

Indonesia, sebagai salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dipandang memiliki peran strategis dalam menjembatani kerja sama antarnegara anggota.

Stabilitas dan demografi sebagai daya tarik

Chief Economist Indonesian Business Council (IBC), Denni Purbasari, mengatakan karakteristik Indonesia sebagai negara demokrasi dengan penduduk muda yang besar menjadi faktor pembeda dalam menarik investasi global.

“Sebagai negara demokrasi dengan penduduk muda yang besar, diperkuat oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil di sekitar 5,1 sampai 5,2 persen, menjadi daya tarik tersendiri bagi Indonesia untuk meraih investasi global,” kata Denni.

IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia 2025 akan tumbuh di bawah 5 persen. Sementara per kuartal II-2025, BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi RI 5,12 persen. SHUTTERSTOCK/NUMBER1411 IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia 2025 akan tumbuh di bawah 5 persen. Sementara per kuartal II-2025, BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi RI 5,12 persen.

Baca juga: IHSG Turun dan Sinyal Ketidakpastian Ekonomi

Ia menambahkan, komitmen pemerintah terhadap keterbukaan (openness) dan reformasi (reform), serta kestabilan ekonomi makro dan politik, menjadi faktor penting dalam menarik investor asing.

“Komitmen pemerintah terhadap openness dan reform, kestabilan ekonomi makro dan politik, menjadi faktor yang menarik bagi investor asing untuk masuk, baik melalui direct investment maupun portofolio,” ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5,1 hingga 5,2 persen dinilai memberikan sinyal konsistensi kebijakan dan daya tahan ekonomi domestik. Dalam situasi global yang ditandai fluktuasi suku bunga dan ketidakpastian geopolitik, stabilitas tersebut menjadi pertimbangan utama bagi investor jangka panjang.

Peluang di sektor prioritas

Sejumlah program prioritas pemerintah juga disebut membuka ruang kemitraan yang lebih luas antara pelaku usaha dalam negeri dan investor global. Denni menyampaikan, peluang tidak hanya terbatas pada rantai pasok kendaraan listrik.

Baca juga: Bank Indonesia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5,5 Persen pada 2027

“Sektor yang menarik tidak hanya terkait rantai pasok kendaraan listrik, tapi juga di sektor tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perkebunan, dan perikanan yang mendukung ketahanan pangan, sektor energi terbarukan, kesehatan, jasa keuangan, bahkan sektor pendidikan termasuk vokasi yang semakin serius ditingkatkan oleh pemerintah agar skill masyarakat Indonesia mampu menjawab tantangan,” ungkapnya.

Program ketahanan pangan, ketahanan energi, dan penguatan sektor kesehatan menjadi bagian dari agenda strategis nasional.

Di bidang energi, komitmen terhadap transisi menuju energi terbarukan membuka peluang investasi pada pembangkit listrik berbasis sumber daya bersih, pengembangan teknologi penyimpanan energi, serta infrastruktur pendukung lainnya.

Sementara itu, sektor pendidikan dan vokasi diposisikan sebagai penopang peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Baca juga: Standard Chartered Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI 5,2 Persen pada 2026

Penguatan keterampilan tenaga kerja dinilai penting untuk memastikan kesiapan Indonesia dalam menghadapi transformasi industri dan digitalisasi ekonomi.

Tag:  #stabilitas #makro #reformasi #pasar #modal #daya #tarik #investasi

KOMENTAR