Mengapa Orang Berselingkuh meski Hubungannya Bahagia? Ini 6 Alasannya
- Perselingkuhan kerap dipahami sebagai tanda hubungan yang bermasalah. Dalam praktiknya, tidak sedikit kasus perselingkuhan justru terjadi pada pasangan yang tampak harmonis, penuh kasih, dan jauh dari konflik besar.
Fakta ini sering menimbulkan kebingungan, bahkan luka emosional yang mendalam bagi pihak yang diselingkuhi.
Menurut para terapis, perselingkuhan tidak selalu berkaitan dengan ketidakbahagiaan dalam hubungan. Justru, dalam banyak kasus, akar masalahnya lebih berhubungan dengan kondisi psikologis individu itu sendiri.
Baca juga: Apakah Memimpikan Orang Lain, Apakah Termasuk Perselingkuhan?
“Perselingkuhan dalam sebuah hubungan tidak selalu berarti seseorang merasa sepenuhnya tidak bahagia atau ingin mengakhiri hubungan tersebut,” ujar Stacy Thiry, konselor kesehatan mental berlisensi di Grow Therapy, dikutip Best Life, Selasa (3/2/2026).
Para pakar mengungkap sejumlah alasan mengapa seseorang bisa berselingkuh meski berada dalam hubungan yang terlihat bahagia.
6 Alasan seseorang berselingkuh meski hubungannya bahagia
1. Harga diri yang rendah
Seseorang dengan harga diri rendah kerap bergumul dengan perasaan kosong, malu, dan tidak berharga, meski berada dalam hubungan yang suportif. Kondisi ini dapat mendorong mereka mencari validasi dari luar.
Psikolog klinis Monica Vermani menjelaskan, rendahnya rasa percaya diri sering memicu kebutuhan akan perhatian dan pengakuan eksternal.
Thiry menambahkan, perhatian dari orang lain bisa menjadi penambal sementara bagi perasaan tidak cukup dalam diri seseorang.
Bahkan ketika pasangan sudah memberikan afirmasi, pujian dari orang baru kerap terasa lebih menggugah.
“Digoda atau diperhatikan oleh orang lain bisa memberi dorongan ego yang instan,” ujar Ken Fierheller, seorang psikoterapis terdaftar.
2. Mencari sensasi dan lonjakan dopamin
Pengalaman baru terbukti memicu pelepasan dopamin, zat kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang dan antusiasme. Inilah yang membuat perselingkuhan kerap terasa menggairahkan di awal.
Baca juga: 5 Alasan Perselingkuhan Masih Bisa Dimaafkan Menurut Psikolog
Renée Zavislak, terapis pernikahan dan keluarga, menyebut bahwa sensasi ini sering disalahartikan sebagai tanda kebahagiaan baru.
Padahal, menurut konselor kesehatan mental, Kristie Tse, seseorang bisa saja mencintai pasangannya namun tetap tergoda oleh sensasi yang baru.
“Bukan karena pernikahannya buruk, melainkan karena dorongan akan pengalaman baru,” jelas Tse.
Oleh karena itu, Thiry menekankan pentingnya pasangan untuk terus menciptakan pengalaman baru bersama agar hubungan tidak terasa monoton.
3. Kebutuhan seksual yang tidak sejalan
Perbedaan kebutuhan seksual adalah hal yang umum dalam hubungan jangka panjang. Namun, jika tidak dibicarakan secara terbuka, ketimpangan ini bisa menjadi celah munculnya perselingkuhan.
Fierheller menjelaskan, pasangan dengan dorongan seksual lebih tinggi bisa merasa tidak terpenuhi secara konsisten.
Meski ini bukan pembenaran, kondisi tersebut meningkatkan risiko seseorang mencari orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.
Komunikasi terbuka tentang kebutuhan dan keinginan seksual dinilai krusial agar pasangan dapat mencari titik temu yang sehat dan saling menghormati.
4. Trauma masa lalu yang belum terselesaikan
Pengalaman masa kecil, termasuk menyaksikan perselingkuhan orangtua, dapat membentuk pola relasi di masa dewasa.
Vermani menyebut, individu yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini kerap membawa ketidakpercayaan dalam hubungan romantisnya.
Tse menambahkan, gaya keterikatan tidak aman, seperti anxious atau avoidant attachment, juga berkontribusi terhadap risiko perselingkuhan. Meski demikian, trauma bukan alasan untuk membenarkan perilaku tidak setia.
“Terapi dapat membantu seseorang memahami pola ini dan membangun hubungan yang lebih sehat,” ungkap Tse.
Baca juga: Cegah Perselingkuhan, Lakukan Cara Ini agar Tidak Bosan dengan Pasangan
5. Merasa kesepian secara emosional
Kesepian tidak selalu berarti sendirian. Seseorang bisa merasa sepi meski memiliki pasangan, terutama ketika jarak fisik sering terjadi.
Terapis Rachel Goldberg menjelaskan, pasangan yang sering bepergian bisa meninggalkan kekosongan emosional.
Dalam situasi ini, perselingkuhan sering bermula dari hubungan emosional sebelum berkembang menjadi fisik.
6. Kontrol impuls yang lemah
Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam menahan godaan. Goldberg menyebut, individu dengan riwayat perilaku impulsif cenderung mencari pelarian dari stres dengan cara instan.
Kabar baiknya, kemampuan mengendalikan impuls bisa dilatih melalui terapi, termasuk dengan meningkatkan empati dan kesadaran diri terhadap dampak perilaku pada orang lain.
Perselingkuhan dalam hubungan yang tampak bahagia menunjukkan bahwa kebahagiaan relasi tidak selalu mencerminkan kesehatan emosional individu di dalamnya.
Kesadaran diri, komunikasi terbuka, dan keberanian mencari bantuan profesional menjadi kunci menjaga hubungan tetap utuh dan sehat.
Baca juga: Mengapa Butuh Waktu Lama untuk Memaafkan Perselingkuhan?
Tag: #mengapa #orang #berselingkuh #meski #hubungannya #bahagia #alasannya