Harga Emas dan Perak Menguat Usai Anjlok, Ini Penyebabnya
Ilustrasi emas batangan.(PEXELS/JINGMING PAN)
20:56
3 Februari 2026

Harga Emas dan Perak Menguat Usai Anjlok, Ini Penyebabnya

Harga emas dan perak dunia kembali menguat pada Selasa (3/2/2026), setelah mengalami koreksi tajam pada akhir pekan lalu.

Meski demikian, posisi harga kedua logam mulia itu masih jauh di bawah rekor tertingginya yang tercapai beberapa hari sebelumnya.

Pergerakan yang volatil ini terjadi setelah reli panjang sepanjang satu tahun terakhir, yang mendorong emas dan perak mencatat kenaikan luar biasa.

Baca juga: Preferensi Investasi Logam Mulia Warren Buffett: Perak, Bukan Emas

Ilustrasi emas. Apa prediksi harga emas untuk tahun 2030?DOK. Pixabay/Global_Intergold. Ilustrasi emas. Apa prediksi harga emas untuk tahun 2030?

Dikutip dari Al Jazeera, dalam periode antara pelantikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tahun lalu hingga akhir Januari 2026, harga emas hampir melonjak dua kali lipat, sementara harga perak naik hampir empat kali lipat.

Lonjakan tersebut kemudian terhenti secara tiba-tiba pada Jumat akhir pekan lalu, ketika harga emas dan perak masing-masing anjlok sekitar 10 persen dan 28 persen dalam satu hari.

Penurunan berlanjut pada Senin (2/2/2026), dengan emas ditutup sekitar 4,5 persen lebih rendah dan perak turun sekitar 6,5 persen.

Namun pada Selasa, keduanya kembali bangkit. Harga emas naik sekitar 3,5 persen dan perak menguat sekitar 4,5 persen.

Baca juga: Kian Diburu, JP Morgan Prediksi Harga Emas Dunia Sentuh 6.300 Dollar AS

Fluktuasi ekstrem ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor: apa yang mendorong reli besar selama setahun terakhir, dan apa yang memicu koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir?

Ketidakpastian global dan daya tarik aset lindung nilai

Secara historis, emas dan perak dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven). Logam mulia kerap diburu investor saat ketidakpastian ekonomi dan gejolak geopolitik meningkat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara di dalam pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada 21 Januari 2026.AFP/MANDEL NGAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara di dalam pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada 21 Januari 2026.

Dalam setahun terakhir, kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih menjadi salah satu faktor yang mendorong volatilitas pasar. Kepemimpinannya yang dikenal tidak konvensional memicu ketidakpastian di berbagai sektor.

Mulai dari kebijakan tarif, tekanan terhadap independensi bank sentral AS Federal Reserve (The Fed), hingga ancaman untuk mengambil alih wilayah otonom Denmark, Greenland, Trump dinilai menghantam ortodoksi dan menimbulkan kegelisahan di pasar keuangan.

Baca juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini 3 Februari 2026: Turun Jadi Rp 2,844 Juta Per Gram

Tekanan terhadap independensi The Fed, bank sentral AS, menjadi salah satu isu yang disorot. Trump berulang kali mendesak Ketua The Fed saat itu, Jerome Powell, agar memangkas suku bunga.

Kombinasi kebijakan yang tidak terduga dan tekanan terhadap bank sentral turut mendorong pelemahan dollar AS.

Dalam kondisi tersebut, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman dan relatif stabil nilainya, seperti emas dan perak.

Sejumlah analis berpendapat, kenaikan harga logam mulia juga mencerminkan krisis kepercayaan yang lebih dalam terhadap sistem ekonomi global, setelah bertahun-tahun menghadapi inflasi tinggi dan lonjakan utang pemerintah.

Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini 3 Februari 2026: UBS Rp 2,963 Juta, Galeri24 Rp 2,948 Juta

Utang pemerintah AS kini telah mencapai 38 triliun dollar AS, tertinggi di dunia secara nominal. Meski demikian, sejumlah negara besar seperti Jepang dan Italia memiliki rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) yang lebih tinggi dibandingkan AS.

Diego Franzin, head of portfolio strategies di Plenisfer Investments, menyebut karakter unik emas sebagai daya tarik utamanya.

“Di dunia di mana hampir setiap aktivitas keuangan mengandung risiko kredit, baik risiko negara, bank sentral, maupun perantara, emas tetap menjadi satu-satunya aset tanpa pihak lawan," jelas Franzin.

"Emas tidak memberikan janji, tidak membayar bunga, dan tidak bergantung pada keputusan politik. Emas hanya ada begitu saja. Dan justru karena itulah emas memberikan keamanan," imbuhnya.

Baca juga: Harga Emas dan Perak Hari Ini Anjlok, Aksi Jual Guncang Pasar Global

Ilustrasi emas batangan. Demam Emas Memicu Skandal Penipuan Investasi Emas di China: Perusahaan Gagal Bayar, Uang Rp 24,1 Triliun Tak Bisa DitarikDOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan. Demam Emas Memicu Skandal Penipuan Investasi Emas di China: Perusahaan Gagal Bayar, Uang Rp 24,1 Triliun Tak Bisa Ditarik

Ia menambahkan, dalam sistem yang didasarkan pada tingkat utang pemerintah dan swasta yang mencapai rekor tertinggi, karakteristik ini memiliki nilai yang belum pernah terjadi sebelumnya

Peran bank sentral dan diversifikasi dari dollar AS 

Faktor lain yang turut menopang permintaan emas adalah pembelian oleh bank sentral, khususnya di negara-negara berkembang.

Bank sentral di China dan Turkiye, misalnya, disebut meningkatkan cadangan emas mereka sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS.

Diversifikasi cadangan devisa ini memperkuat permintaan struktural terhadap logam mulia.

Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok Tajam, Apa Faktor Utamanya?

Lonjakan permintaan tersebut mendorong harga emas menyentuh rekor hampir 5.595 dollar AS per ons pada Kamis pekan lalu. Sementara itu, harga perak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran hampir 122 dollar AS.

Namun reli tajam tersebut tidak berlangsung lama.

Koreksi tajam: faktor Trump atau aksi ambil untung?

Pada Jumat, pasar berbalik arah secara drastis. Harga emas dan perak jatuh masing-masing sekitar 10 persen dan 28 persen.

Penurunan berlanjut pada Senin sebelum keduanya kembali pulih sebagian pada Selasa.

Baca juga: Saat Harga Emas Guncang, Investor Ritel Memilih Tetap Tenang

Analis tidak sepakat mengenai penyebab utama kejatuhan tersebut.

Sebagian pihak mengaitkannya kembali dengan faktor politik. Pada Jumat, Trump mengumumkan pencalonan Kevin Warsh untuk memimpin The Fed.

Warsh merupakan mantan anggota dewan gubernur The Fed yang beranggotakan tujuh orang. Penunjukan ini dinilai relatif konvensional dibandingkan nama-nama lain yang sempat masuk dalam daftar pendek Trump.

Kevin Warsh, sosok yang ditunjuk oleh Presiden AS Donald Trump sebagai Ketua The Fed pengganti Jerome Powell.FEDERAL RESERVE HISTORY Kevin Warsh, sosok yang ditunjuk oleh Presiden AS Donald Trump sebagai Ketua The Fed pengganti Jerome Powell.

Investor menyambut positif langkah tersebut karena sebelumnya muncul kekhawatiran bahwa Trump akan menunjuk sekutu yang cenderung memangkas suku bunga tanpa memperhatikan risiko inflasi.

Baca juga: Harga Emas Turun, Imbas Sentimen The Fed dan Aksi Ambil Untung

Selain itu, pada Jumat Trump juga menyatakan harapannya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, setelah berminggu-minggu melontarkan ancaman aksi militer terhadap negara tersebut.

Sebagian analisis menyebut bahwa prospek kondisi ekonomi yang lebih stabil dan penguatan dolar AS mendorong investor melepas kepemilikan logam mulia.

Namun, tidak semua analis sepakat dengan penjelasan tersebut.

Mark Matthews, head of research for Asia di Julius Baer, menilai koreksi lebih disebabkan oleh kondisi harga yang sudah terlalu tinggi.

Baca juga: 3 Pemicu Harga Emas Melonjak dan Penyebabnya Turun

“Penjelasan yang lebih mungkin adalah harga logam mulia anjlok hanya karena harganya sudah meroket pada minggu sebelumnya. Begitu aksi ambil untung dimulai, hal itu langsung berlanjut dengan cepat,” ujar Matthews kepada Al Jazeera.

Menurutnya, lonjakan harga yang terlalu cepat menciptakan kondisi parabolic, sehingga ketika aksi ambil untung dimulai, tekanan jual membesar dan mempercepat penurunan harga.

Prospek ke depan: target 6.300 dollar AS

Memprediksi arah pasar memang bukan perkara mudah. Namun, sejumlah analis masih melihat ruang kenaikan untuk emas dalam jangka menengah hingga panjang.

Dalam catatan riset pada Minggu (1/2/2026), analis JPMorgan memperkirakan harga emas dapat mencapai 6.300 dollar AS per ons pada akhir 2026, atau sekitar 30 persen lebih tinggi dari harga saat ini.

Baca juga: Harga Emas Turun Setelah Reli Panjang, Analis Ungkap Penyebabnya

“Emas tetap menjadi aset lindung nilai portofolio yang dinamis dan multifaset, dan permintaan investor terus meningkat melebihi ekspektasi kami sebelumnya," kata analis JP Morgan Gregory Shearer, Jason Hunter, Ali Ibrahim, dan Ananyashree Gupta dalam laporannya.

Ilustrasi perak, harga perak, investasi perak. Harga perak dunia anjlok tajam pada perdagangan Jumat (30/1/2026), setelah Presiden Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed).PIXABAY/PAUL (PWLPL) Ilustrasi perak, harga perak, investasi perak. Harga perak dunia anjlok tajam pada perdagangan Jumat (30/1/2026), setelah Presiden Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed).

Sementara itu, Matthews menilai minat beli kemungkinan akan kembali meningkat setelah pasar dianggap stabil.

"Dua pendorong fundamental mereka tetap tidak berubah, yaitu dollar AS akan terus terdepresiasi, dan bank sentral akan meningkatkan kepemilikan emas mereka," ujar Matthews.

“Kenaikan harga mungkin tidak akan setajam sebelumnya, dan itu adalah hal yang baik," sambungnya.

Baca juga: Harga Emas dan Perak Dunia Koreksi Jelang Pengumuman Calon Ketua Fed

Volatilitas sebagai cermin ketidakpastian

Pergerakan harga emas dan perak dalam beberapa hari terakhir mencerminkan dinamika pasar global yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen.

Di satu sisi, logam mulia terus dipandang sebagai pelindung nilai dalam sistem keuangan yang sarat utang dan risiko kredit. Di sisi lain, reli tajam yang terlalu cepat juga membuka ruang koreksi ketika investor melakukan aksi ambil untung.

Dengan harga emas yang sempat menyentuh hampir 5.595 dollar AS per ons dan perak mendekati 122 dollar AS sebelum terkoreksi, pasar kini menantikan arah selanjutnya.

Apakah reli akan berlanjut menuju target 6.300 dollar AS per ons seperti diproyeksikan analis, atau pasar akan bergerak lebih mendatar setelah volatilitas ekstrem?

Baca juga: Prediksi Harga Emas 2030: Ekonom Sebut Bisa Tembus Rp 5 Juta per Gram

Yang jelas, selama ketidakpastian ekonomi, kebijakan moneter, dan dinamika geopolitik tetap membayangi, emas dan perak akan terus menjadi sorotan utama investor global.

Tag:  #harga #emas #perak #menguat #usai #anjlok #penyebabnya

KOMENTAR