BI Buka Ruang Penurunan BI Rate pada 2026, Ini Pertimbangannya
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). Jadwal operasional BI Nataru 2025/2026. Jadwal operasional BI saat libur Nataru 2025/2026. Jadwal operasional BI Desember 2025.(SHUTTERSTOCK/FRRN)
18:56
3 Februari 2026

BI Buka Ruang Penurunan BI Rate pada 2026, Ini Pertimbangannya

Bank Indonesia (BI) menyatakan, kebijakan suku bunga pada 2026 diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan di tengah ketidakpastian global yang diperkirakan masih tinggi.

BI menegaskan, arah kebijakan akan tetap fokus pada pencapaian sasaran inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah, dengan tetap memanfaatkan ruang yang tersedia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Dalam Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025, BI menyatakan, kebijakan moneter pada 2026 akan diarahkan untuk pencapaian sasaran inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah dengan tetap memanfaatkan masih terbukanya ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Baca juga: BCA Proyeksikan BI Rate Turun Dua Kali Tahun Ini

Ilustrasi Bank IndonesiaSHUTTERSTOCK/HARISMOYO Ilustrasi Bank Indonesia

BI menilai, dengan prakiraan inflasi yang tetap terkendali dalam sasaran ke depan dan pertumbuhan ekonomi yang masih berada di bawah kapasitas potensial, ruang pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh pada 2025 masih dapat dimanfaatkan lebih lanjut pada 2026.

Namun, kebijakan tersebut tetap mempertimbangkan dinamika global yang sarat ketidakpastian.

Inflasi terkendali, ruang pelonggaran masih terbuka

Bank sentral menegaskan, kebijakan suku bunga pada 2026 akan tetap bersifat forward-looking dan pre-emptive untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan Pemerintah sebesar 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.

“Pertama, kebijakan suku bunga Bank Indonesia terus diarahkan secara forward-looking dan pre-emptive untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan pemerintah yaitu 2,5 plus minus 1 persen pada tahun 2026 dan 2027, dengan tetap memanfaatkan ruang penurunan lebih lanjut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” tulis BI.

Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan.SHUTTERSTOCK/JANEWS Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan.

Baca juga: BI Rate Tetap 4,75 Persen, Saatnya Masyarakat Menggeliat

Sejalan dengan rendahnya inflasi dan kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, BI telah menurunkan suku bunga kebijakan moneter BI Rate sebanyak enam kali atau sebesar 150 basis poin (bps), dari 6,25 persen pada September 2024 menjadi 4,75 persen pada September 2025.

Level tersebut merupakan yang terendah sejak 2022.

Selain itu, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16–17 September 2025, BI juga memutuskan untuk menurunkan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 3,75 persen.

Bank sentral menyebut, penurunan BI Rate ini dilakukan lebih besar untuk lebih mendorong peran perbankan dalam memanfaatkan pelonggaran likuiditas bagi sektor riil.

Baca juga: Jaga Rupiah dan Inflasi, LPEM UI Sarankan BI Rate Dipertahankan

Ke depan, BI menyatakan masih terdapat ruang untuk penurunan lebih lanjut BI Rate.

“Ke depan, dengan pertimbangan tetap rendahnya prakiraan inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen serta sejalan dengan upaya bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, Bank Indonesia memandang masih terbuka ruang bagi penurunan suku bunga BI Rate lebih lanjut,” tulis BI.

Namun demikian, pemanfaatan ruang tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan data dan kondisi ekonomi.

“Pemanfaatan ruang penurunan lebih lanjut suku bunga BI Rate akan didasarkan pada asesmen terhadap data dan kondisi yang berkembang (data dependent), khususnya dengan mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak negatif berlanjutnya ketidakpastian global," kata bank sentral.

Baca juga: Rupiah Melemah, Ekonom Perkirakan BI Rate Bakal Dipertahankan di 4,75 Persen

Ketidakpastian global masih tinggi

Di tengah ruang pelonggaran yang masih tersedia, BI mengingatkan bahwa ketidakpastian global diperkirakan masih berlanjut pada 2026.

Ilustrasi tarif Trump. Presiden Prabowo dan Presiden Trump sepakat menurunkan tarif ekspor RI ke AS menjadi 19 persen.canva.com Ilustrasi tarif Trump. Presiden Prabowo dan Presiden Trump sepakat menurunkan tarif ekspor RI ke AS menjadi 19 persen.

Risiko tersebut bersumber dari berbagai faktor, mulai dari dampak kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) dan geopolitik dunia, melambatnya pertumbuhan global dan meningkatnya fragmentasi ekonomi, tingginya utang dan suku bunga negara maju, hingga kerentanan pasar keuangan global.

Selain itu, BI juga menyoroti semakin maraknya penerbitan dan perdagangan mata uang kripto dan aset keuangan digital oleh pihak swasta sebagai salah satu faktor yang menambah kompleksitas lanskap keuangan global.

“Tingginya ketidakpastian perekonomian global ini perlu terus diwaspadai dan direspons dengan kebijakan yang tepat untuk menjaga ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dalam memitigasi dampak negatifnya terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di dalam negeri,” tulis BI.

Baca juga: Menanti Arah BI Rate 2026 di Tengah Dinamika Global

Dalam konteks tersebut, volatilitas aliran modal asing dan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah diprakirakan masih akan berlanjut pada 2026.

Kondisi ini mengharuskan BI tetap mengarahkan kebijakan moneter juga pada stabilisasi nilai tukar rupiah guna memitigasi dampak negatif terhadap stabilitas perekonomian nasional.

“Dengan keharusan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dimaksud, kebijakan moneter pada tahun 2026 akan terus dilakukan secara konsisten, berhati-hati, dan terukur sesuai dinamika yang terjadi pada perekonomian global dan domestik,” ujar BI.

Penguatan transmisi ke perbankan

Selain arah suku bunga, BI menekankan pentingnya memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter, khususnya dalam mendorong penurunan suku bunga perbankan.

Baca juga: HSBC Proyeksikan BI Rate Turun 75 Basis Poin pada 2026

Menurut BI, penurunan BI Rate selama 2024–2025 telah diikuti penurunan signifikan suku bunga INDONIA di pasar uang dan yield Surat Berharga Negara (SBN) di seluruh tenor. Kondisi tersebut meningkatkan transaksi, efisiensi, dan kedalaman pasar keuangan nasional.

Namun, penurunan suku bunga deposito dan kredit perbankan dinilai masih berjalan lambat. BI mencatat, lambatnya penurunan suku bunga deposito dipengaruhi oleh tingginya suku bunga deposan besar (special rate).

Ilustrasi suku bunga. SHUTTERSTOCK/MONSTER ZTUDIO Ilustrasi suku bunga.

Sementara itu, penurunan suku bunga kredit tertahan oleh masih tingginya premi risiko dan biaya overhead dalam pemberian kredit.

“Bank Indonesia juga akan terus menempuh langkah-langkah untuk memperkuat efektivitas transmisi penurunan BI-Rate khususnya pada penurunan suku bunga perbankan,” ungkap BI.

Baca juga: KALEIDOSKOP 2025: BI Rate Turun dari 6 Persen ke 4,75 Persen

Upaya tersebut dilakukan melalui kombinasi penurunan BI-Rate, ekspansi likuiditas moneter, serta koordinasi erat dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk mendorong pertumbuhan kredit dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Ekspansi likuiditas dan strategi “pro-market

Arah kebijakan moneter 2026 tidak hanya bertumpu pada suku bunga, tetapi juga pada ekspansi likuiditas melalui strategi operasi moneter yang disebut pro-market.

“Ekspansi likuiditas moneter dengan strategi operasi moneter pro-market terus diperkuat untuk efektivitas transmisi penurunan suku bunga dan mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas,” tulis BI.

Besaran ekspansi likuiditas didasarkan pada prakiraan Uang Primer (M0) dan uang beredar dalam arti luas (M1 dan M2), yang sejalan dengan indikator ekonomi relevan.

Baca juga: Transmisi BI Rate ke Suku Bunga Perbankan Masih Lambat, Ini Strategi BI

BI juga mempertimbangkan perkembangan aliran modal asing (Net Foreign Asset/NFA) dan operasi keuangan Pemerintah (Net Claims on Government/NCG).

Pada 2025, ekspansi likuiditas tercermin dari penurunan volume Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 186,07 triliun dan penurunan suku bunga SRBI tenor enam bulan sebesar 231 bps menjadi 4,85 persen.

Selain itu, hingga 31 Desember 2025, BI telah membeli SBN di pasar sekunder sebesar Rp 332,14 triliun.

Kebijakan tersebut diikuti penurunan yield SBN tenor dua tahun dan 10 tahun masing-masing sebesar 197 bps dan 119 bps menjadi 4,99 persen dan 6,07 persen. Penurunan ini dinilai membantu menurunkan beban bunga SBN dalam APBN.

Ilustrasi obligasi. SHUTTERSTOCK/OK-PRODUCT STUDIO Ilustrasi obligasi.

Baca juga: BI Rate Bertahan di 4,75 Persen Pada RDG Terakhir Tahun 2025

Ke depan, BI menyatakan akan melanjutkan ekspansi likuiditas sesuai program moneter 2026, baik melalui seluruh instrumen yang tersedia maupun melalui pembelian SBN di pasar sekunder dengan koordinasi erat kebijakan fiskal pemerintah.

Penguatan instrumen dan pendalaman pasar

Dalam strategi pro-market, BI menyiapkan sejumlah langkah penguatan instrumen pasar uang dan pasar valas.

Pertama, optimalisasi transaksi repo dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dengan melibatkan bank yang memanfaatkan Central Counterparty (CCP) guna memperkuat mitigasi risiko dan meningkatkan efisiensi pasar.

Kedua, pengembangan pasar Overnight Index Swap (OIS) melalui penerbitan Floating Rate Note (BI-FRN) dan matchmaking OIS untuk tenor di atas overnight guna membentuk struktur suku bunga berbasis transaksi pasar uang. Pengembangan OIS dilakukan mengingat penggunaan JIBOR sebagai suku bunga acuan tidak dilanjutkan pada 2026.

Baca juga: Ekonom Proyeksikan BI Pertahankan BI Rate 4,75 Persen

Ketiga, perluasan underlying repo dalam operasi moneter dengan surat berharga berkualitas tinggi lainnya yang diterbitkan lembaga jasa keuangan yang dibentuk atau didirikan Pemerintah.

Keempat, perluasan investor Sukuk Bank Indonesia (SUKBI) agar dapat dimiliki oleh bank dan nonbank, termasuk penduduk dan bukan penduduk, sebagai penguatan instrumen moneter sekaligus untuk menarik capital inflow.

Langkah-langkah tersebut, menurut BI, ditujukan untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan mempercepat pendalaman pasar keuangan.

Stabilitas eksternal dan cadangan devisa

Ilustrasi bunga utangSHUTTERSTOCK/BILLION PHOTOS Ilustrasi bunga utang

Di tengah dinamika global, BI juga menekankan pentingnya menjaga kecukupan cadangan devisa.

Baca juga: The Fed Pangkas Suku Bunga, Bagaimana dengan BI Rate?

Cadangan devisa dinilai penting untuk mendukung kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Kebijakan tersebut didukung dengan pengelolaan lalu lintas devisa sesuai kaidah internasional.

BI juga menyatakan akan terus memperkuat koordinasi moneter dengan kebijakan fiskal Pemerintah untuk mencapai sasaran inflasi, menjaga stabilitas makroekonomi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berdaya tahan.

Secara keseluruhan, kebijakan suku bunga dan moneter pada 2026 akan ditempuh melalui empat instrumen pokok, yakni kebijakan suku bunga yang forward-looking dan pre-emptive, ekspansi likuiditas dengan strategi pro-market, kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah, serta penjagaan kecukupan cadangan devisa.

Baca juga: OJK: Penurunan BI Rate 2025 Mulai Turun ke Kredit, Tapi Strategi Bank Jadi Kunci

Dalam kerangka tersebut, BI menegaskan, kebijakan moneter 2026 akan terus dilakukan secara konsisten, berhati-hati, dan terukur sesuai dinamika yang terjadi pada perekonomian global dan domestik untuk mencapai sasaran inflasi dan memanfaatkan ruang dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada tahun 2026 dan 2027 mendatang.

Tag:  #buka #ruang #penurunan #rate #pada #2026 #pertimbangannya

KOMENTAR