Orangnya Ramah, Jepang Jadi Sasaran Empuk Mata-mata Rusia
- Jepang tengah diguncang skandal misi mata-mata atau spionase Rusia yang mengungkap kerentanan perlindungan rahasia industri negara tersebut.
Kasus ini mencuat di tengah upaya pemerintah Tokyo memperketat undang-undang anti-spionase.
Pada 20 Januari, Kepolisian Tokyo menyerahkan berkas kasus yang melibatkan mantan pejabat perdagangan Rusia kepada jaksa.
Baca juga: Jepang Temukan Sumber Kekayaan Raksasa di Dasar Laut, Ubah Peta Ekonomi Dunia
Pejabat tersebut diduga melanggar undang-undang persaingan tidak sehat Jepang, sebagaimana dilansir SCMP, Selasa (3/2/2026).
Meski identitas tersangka Rusia maupun karyawan Jepang yang terlibat tidak diungkap ke publik, detail kasus ini cukup mengejutkan para pengamat keamanan.
Tersangka asal Rusia diyakini sebagai agen rahasia dari Dinas Intelijen Luar Negeri (SVR) yang menyamar di misi dagang.
Dia dilaporkan mendekati targetnya, yakni seorang karyawan perusahaan Jepang, di jalanan sekitar dua tahun lalu.
Modusnya terbilang klasik. Dia berpura-pura menjadi warga Ukraina dan menanyakan arah jalan.
Sebagai tanda terima kasih, ia mengajak pria Jepang tersebut minum bersama. Hubungan ini kemudian berkembang menjadi pertukaran uang dan informasi yang rutin.
Baca juga: Hujan Salju Ekstrem Landa Jepang, 30 Orang Dilaporkan Tewas
Memanfaatkan keramahan orang Jepang
"Mendekati target di jalan adalah taktik kuno, tapi tampaknya Rusia rutin menggunakannya," kata James Brown, profesor hubungan internasional di Temple University Tokyo sekaligus penulis buku Cracking the Crab: Russian Espionage Against Japan.
Menurut Brown, taktik ini sangat efektif di Negeri Sakura.
"Mungkin ini bekerja lebih baik di Jepang dibandingkan tempat lain karena orang Jepang sangat sopan," ujarnya.
Penyidik mengungkapkan bahwa karyawan Jepang tersebut telah dua kali menyerahkan detail teknologi peralatan mesin (machine-tool) terbaru perusahaannya pada November 2024 dan Februari 2025.
Sebagai imbalannya, dia menerima uang tunai sebesar 700.000 yen atau sekitar Rp 75 juta.
Brown mencatat adanya pergeseran motivasi spionase. Jika dulu didorong oleh ideologi, kini faktor finansial lebih mendominasi, yang sering kali berujung pada pemerasan setelah target menerima hadiah.
"Hadiah kecil bisa dengan mudah menjadi daya tawar untuk memeras informasi. Ketika seseorang bertanya jalan dan kemudian merasa berterima kasih, itu berlanjut ke ajakan minum, dan dari sanalah semuanya dimulai," jelas Brown.
Baca juga: Tas Tersangkut Kereta Gantung, Wisatawan di Jepang Meninggal Dunia
Momentum politik
Kasus ini muncul di saat yang krusial bagi pemerintahan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.
Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa saat ini memang tengah mendorong undang-undang anti-spionase yang lebih kuat.
"Saya pikir Jepang sebenarnya senang kasus ini muncul sekarang," kata Brown. Ia menambahkan bahwa momentum ini sangat membantu agenda pemerintah dalam memperketat hukum.
Senada dengan itu, Yakov Zinberg, profesor hubungan internasional di Universitas Kokushikan, melihat adanya kalkulasi politik di balik pengungkapan kasus ini menjelang pemilu.
"Terlalu kebetulan kasus ini mencuat tepat sebelum pemilu di saat mereka sedang mempromosikan legislasi baru," ujar Zinberg.
Menurutnya, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa ancaman mata-mata itu nyata, dan pemerintah adalah pihak yang paling berkomitmen menanganinya.
Baca juga: Tak Mau Bergantung pada China, Jepang Keruk Unsur Tanah Jarang di Sedimen Laut Dalam
Berbeda dengan kasus enam tahun lalu yang melibatkan mantan karyawan SoftBank, Yutaka Araki, otoritas Jepang kali ini memilih untuk menutup rapat identitas perusahaan maupun individu yang terlibat.
Agen Rusia yang dicurigai tersebut diketahui telah meninggalkan Jepang hampir setahun lalu.
Brown menduga otoritas sengaja membiarkannya pergi untuk menjaga martabat dan menghindari ketegangan hubungan energi antara Tokyo dan Moskwa.
Namun, tanpa adanya undang-undang yang efektif, para ahli memperingatkan bahwa Jepang akan tetap menjadi target empuk spionase.
Surat kabar Sankei bahkan secara terang-terangan menyebut Jepang sebagai surga bagi Rusia dan mata-mata lainnya dan mendesak reformasi hukum segera dilakukan.
Baca juga: Pesan Tersembunyi di Balik Tembakan Rudal Balistik Korut ke Laut Jepang
Tag: #orangnya #ramah #jepang #jadi #sasaran #empuk #mata #mata #rusia