Apa Itu Grooming, yang Dialami Aurelie Moeremans di Usia 15 Tahun?
- Aktris sekaligus penyanyi Indonesia Aurelie Moeremans, mengungkapkan masa lalu yang kelam dan traumatis, yang ia alami saat berusia 15 tahun.
Lewat buku berjudul Broken Strings, perempuan berusia 32 tahun ini memilih untuk berhenti diam dan bersuara.
Dalam bab-bab awal Broken Strings, Aurelie menceritakan kisahnya yang bertemu dengan sosok laki-laki bernama Bobby, bukan nama sebenarnya, yang kala itu sudah berusia 29 tahun.
Pertemuan di lokasi syuting iklan menjadi awal dari proses grooming. Ia mengungkapkan bagaimana Bobby perlahan memisahkan dirinya dari realitas.
Laki-laki yang beda usianya lebih dari 10 tahun itu juga mengontrol cara Aurelie berpakaian, sampai membatasi komunikasinya dengan dunia luar.
Broken Wings adalah sebuah catatan penyembuhan sekaligus peringatan bagi publik tentang bahaya laten grooming, dan manipulasi dalam hubungan.
Namun, apa itu grooming?
Mengenal grooming pada anak dan remaja
Apa itu grooming?
Grooming, juga disebut dengan child grooming, adalah proses manipulasi, yang mana seseorang membangun hubungan, rasa percaya, dan koneksi emosional dengan seorang anak.
Tujuan child grooming adalah untuk memanipulasi, mengeksploitasi, atau melakukan kekerasan terhadap anak.
Istilah ini sering berkaitan dengan tindakan pedofilia, yaitu ketertarikan seksual terhadap anak-anak di bawah umur.
"Intinya sih ada intensi buruk tadi, intensi untuk memanipulasi atau untuk melakukan kekerasan seksual, juga eksploitasi terhadap anak," jelas Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog, dikutip dari Kompas.com, Jumat (9/1/2026).
Tidak dilakukan secara terang-terangan
Menurut psikolog anak, remaja, dan keluarga ini, proses child grooming tidak dilakukan secara terang-terangan atau dengan paksaan fisik seperti penculikan.
Sebaliknya, pelaku menggunakan pendekatan halus seperti memberikan perhatian, menunjukkan rasa sayang, atau menciptakan situasi yang membuat anak merasa nyaman.
Sebab, para pelaku ingin meraih kepercayaan anak, sehingga mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi.
"Seolah-olah ada intensi untuk sayang, padahal sebenarnya intensinya adalah memanfaatkan si anak tersebut," tutur Farraas.
Misalnya, pelaku sering memberikan perhatian melalui pesan teks, menunjukkan kepedulian berlebihan, memberikan hadiah, sering memuji, dan mengapresiasi.
Ketika kepercayaan sudah terbangun, pelaku dapat mulai membuat permintaan-permintaan, yang umumnya bernuansa seksua. Misalnya meminta foto, sampai mengarahkan anak untuk melakukan tindakan seksual.
Mengapa korban tertarik pada orang dewasa?
Ada perasaan bangga
Farraas menjelaskan, ada beberapa alasan mengapa anak bisa tertarik pada orang dewasa, dan menjadi korban child grooming.
Salah satunya adalah adanya perasaan bangga ketika mereka bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang lebih dewasa, terutama jika orang itu sudah lebih matang secara ekonomi dan pendidikan.
"Jadi ngerasanya tuh kayak 'Ih keren kok aku bisa pacaran sama orang yang kayak gini yang udah punya ini, udah punya itu'," ujar dia.
Mereka merasa, pasangan yang lebih tua ini memiliki banyak hal yang tidak dimiliki oleh teman sebayanya, seperti kestabilan ekonomi, perhatian, dan pengalaman hidup, yang membuat mereka merasa terkesan.
Mencari figur ayah
Selanjutnya adalah mencari figur ayah, karena mungkin kurang hadir dalam kehidupan mereka.
"Kayak punya isu sama figur ayah, jadi ketika dikasih perhatian sama laki-laki dewasa jadi lebih rentan," tutur Farraas.
Ketika perhatian itu datang dari pria dewasa, mereka dapat dengan mudah tergoda untuk menerima perhatian dari orang yang lebih dewasa.
Mencari apresiasi
Bisa pula anak di bawah umur tertarik dengan orang dewasa karena mencari apresiasi. Sebab, kebutuhan emosionalnya tidak terisi oleh orang-orang di rumah.
"Punya isu keluarga, dia punya kebutuha yang selama ini tidak terisi. Mungkin dia orangtuanya tidak hadir secara emosional," kata Farraas.
Dampak grooming pada anak
Disadur dari Kompas.com, dampak grooming pada anak dan remaja berkaitan dengan kesehatan mental mereka.
Para korban cenderung menderita masalah kesehatan mental jangka panjang yang serius, seperti kecemasan, depresi, stres pascatrauma, dan pikiran untuk bunuh diri.
Apabila korban sampai diminta untuk membuat konten intim, mereka cenderung mengalami banyak rasa malu dan menyalahkan diri sendiri atas pelecehan tersebut.
Tanda anak jadi korban grooming
Farraas mengungkapkan bahwa child grooming tidak semudah itu untuk dideteksi, terutama jika komunikasi orangtua dan anak tidak baik, dan anak sudah remaja.
Namun, ada beberapa tanda yang bisa menjadi petunjuk awal bahwa mungkin mereka telah menjadi korban grooming.
Di antaranya adalah perubahan sikap yang signifikan, seperti anak lebih banyak menyembunyikan sesuatu, mulai mengunci perangkat digital mereka, tampak lebih tertutup, dan sering menyendiri.
Selanjutnya adalah perubahan dalam pola keuangan anak, seperti mereka tiba-tiba membeli barang baru tanpa alasan yang jelas atau punya uang yang lebih banyak dari uang sakunya.
"Yang paling kelihatan banget sih ya, banyak ngerahasiain sesuatu, pokoknya kayak enggak mau ceritain tentang itu (aktivitas anak)," kata Farraas.
Ketika orangtua mencoba menanyakan hal-hal terkait aktivitasnya, korban grooming mungkin menunjukkan sikap defensif, menghindar, atau terlihat gelisah.
Tag: #grooming #yang #dialami #aurelie #moeremans #usia #tahun