Kenapa Orang Disebut Problematik? Ini Arti dan Tandanya
Kenapa seseorang disebut problematik? Istilah ini semakin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial.
Tak jarang, label tersebut disematkan pada individu yang dianggap “penuh drama” atau kerap menimbulkan konflik.
Namun, apa sebenarnya arti problematik, dan kapan seseorang bisa disebut demikian? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Arti Problematik?
Secara umum, problematik merujuk pada sesuatu yang mengandung masalah atau berpotensi menimbulkan persoalan.
Istilah ini tidak selalu ditujukan pada individu, tetapi juga dapat menggambarkan situasi, kebijakan, atau kondisi tertentu yang memicu perdebatan.
Dalam konteks personal, seseorang disebut problematik ketika perilakunya berulang kali menciptakan konflik, ketidaknyamanan, atau ketegangan dalam hubungan sosial.
Baca juga: Mengenal Hopeless Romantic: Arti, Ciri-Ciri, dan Dampaknya dalam Hubungan
Pengertian Problematik Menurut KBBI
Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), problematik berarti “bersifat problem” atau “mengandung masalah.” Secara bahasa, kata ini bersifat deskriptif, bukan menghakimi.
Namun dalam praktiknya, istilah ini kerap digunakan untuk menyebut individu yang dinilai memiliki pola perilaku bermasalah dan berdampak pada orang lain.
Kenapa Seseorang Disebut Problematik?
Menurut sejumlah psikolog, perilaku yang dianggap “bermasalah” biasanya berkaitan dengan pola komunikasi, regulasi emosi, dan kemampuan refleksi diri.
Psikolog klinis Amerika, Dr. Ramani Durvasula, dalam berbagai tulisannya tentang hubungan tidak sehat menyebut bahwa pola konflik berulang sering kali muncul dari kurangnya empati dan rendahnya kesadaran diri.
Individu yang kesulitan memahami dampak perilakunya terhadap orang lain cenderung terjebak dalam siklus konflik.
Sementara itu, dikutip dari Psychology Today, orang yang terus-menerus defensif dan menyalahkan orang lain biasanya memiliki mekanisme pertahanan diri yang kuat untuk melindungi harga diri yang rapuh.
Baca juga: Ciri-ciri Keluarga Toxic yang Bisa Memengaruhi Kesehatan Mental
Beberapa alasan seseorang disebut problematik antara lain:
Sering Memicu Konflik
Konflik yang terjadi bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan pola pertengkaran yang berulang tanpa penyelesaian sehat.
Sulit Diajak Komunikasi
Respons defensif, menolak kritik, atau memutarbalikkan fakta membuat komunikasi menjadi tidak efektif.
Cenderung Menyalahkan Orang Lain
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai externalization of blame, yakni kecenderungan memindahkan tanggung jawab kepada pihak lain.
Emosi Tidak Stabil
Kesulitan mengelola emosi dapat membuat reaksi menjadi tidak proporsional terhadap situasi.
Ciri-ciri Orang yang Problematik
Tidak semua orang yang pernah berbuat salah bisa disebut problematik. Namun, ada pola yang kerap muncul.
Kurang Introspeksi
Psikolog organisasi Adam Grant pernah menulis bahwa kemampuan refleksi diri merupakan kunci pertumbuhan pribadi. Tanpa refleksi, seseorang cenderung mengulang kesalahan yang sama.
Suka Memperbesar Masalah Kecil
Hal sepele dapat berkembang menjadi konflik besar karena kurangnya kemampuan mengelola perspektif.
Manipulatif atau Gaslighting
Istilah gaslighting merujuk pada manipulasi psikologis yang membuat orang lain meragukan realitasnya sendiri. Perilaku ini sering dibahas dalam kajian hubungan tidak sehat.
Sulit Menjaga Hubungan Jangka Panjang
Relasi yang terus berakhir dengan pola konflik serupa bisa menjadi tanda adanya masalah perilaku yang belum terselesaikan.
Problematik dalam Hubungan dan Lingkungan Kerja
Perilaku problematik bisa muncul dalam berbagai konteks.
Dalam Hubungan Percintaan
Cemburu berlebihan, kontrol yang ketat, atau komunikasi pasif-agresif sering kali membuat hubungan tidak stabil.
Dalam Pertemanan
Drama yang berulang dan gosip dapat merusak kepercayaan dalam lingkaran sosial.
Di Lingkungan Kerja
Dikutip Harvard Business Review, karyawan yang defensif dan enggan menerima umpan balik cenderung menghambat kolaborasi tim dan menciptakan budaya kerja yang tidak sehat.
Apa Bedanya Problematik dan Toxic?
Istilah problematik dan toxic sering digunakan bergantian, padahal keduanya memiliki perbedaan.
Problematik merujuk pada perilaku yang sering menimbulkan masalah. Sementara toxic menggambarkan pola perilaku yang secara konsisten merugikan kesehatan mental orang lain.
Dengan kata lain, tidak semua yang problematik bersifat toxic, tetapi perilaku toxic hampir selalu problematik.
Penyebab Seseorang Bersikap Problematik
Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pola asuh, pengalaman trauma, stres berkepanjangan, hingga kurangnya keterampilan komunikasi dapat membentuk pola perilaku yang sulit diubah.
Beberapa individu mungkin mengembangkan mekanisme pertahanan yang tidak sehat sebagai cara bertahanz dari pengalaman masa lalu.
Baca juga: Ciri-ciri Sekolah Montessori Menurut Pakar, Tak Hanya dari Kurikulum
Cara Menghadapi Orang yang Problematik
Menghadapi orang yang problematik membutuhkan pendekatan yang bijak.
Tetapkan Batasan yang Jelas
Batasan membantu menjaga kesehatan mental dan mencegah konflik berkepanjangan.
Jangan Terpancing Emosi
Regulasi emosi yang baik dapat mencegah eskalasi konflik.
Fokus pada Solusi
Alihkan diskusi dari saling menyalahkan ke penyelesaian konkret.
Bisakah Sikap Problematik Diubah?
Pada dasarnya, perilaku dapat berubah jika individu memiliki kesadaran dan kemauan untuk memperbaiki diri.
Prosesnya memang tidak instan dan mungkin membutuhkan dukungan profesional seperti konseling.
Alih-alih terburu-buru melabeli seseorang sebagai problematik, memahami arti dan tandanya membantu kita bersikap lebih bijak.
Sebab, di balik perilaku yang terlihat bermasalah, sering kali ada persoalan yang belum terselesaikan.