Tren Perbankan 2026: AI Ubah Cara Bank Cari Untung
Ilustrasi bank digital(SHUTTERSTOCK/ESB PROFESSIONAL)
22:24
24 Februari 2026

Tren Perbankan 2026: AI Ubah Cara Bank Cari Untung

– Industri perbankan memasuki fase baru pada 2026, ketika kecerdasan buatan (AI), uang digital, dan persaingan memperebutkan dana nasabah mengubah cara bank mencari pertumbuhan. Batasan lama yang dulu dianggap wajar, dari keterbatasan teknologi hingga struktur organisasi, kini mulai runtuh.

Laporan Accenture menyebut, bank tidak lagi cukup berbenah secara bertahap. Perubahan dinilai harus menyentuh model bisnis, pengelolaan risiko, hingga strategi mempertahankan dana simpanan dan kredit yang menjadi fondasi industri.

“Industri perbankan tengah memasuki era baru yang ditandai oleh runtuhnya berbagai batasan yang selama ini membentuk cara bank beroperasi,” ujar Tri Hindriasari, Banking Lead Accenture Indonesia, melalui keterangan pers, Selasa (24/2/2026).

Ia menambahkan, konvergensi generative AI, agentic AI, aset digital, dan model bisnis baru tidak hanya menantang batas-batas tersebut, tetapi juga membentuk ulang industri secara mendasar.

Baca juga: Studi Ritel Terbaru, 45 Persen Konsumen Pakai AI buat Belanja Ramadhan

Uang Digital dan Risiko Pendapatan Bank

Salah satu perubahan paling mendasar terjadi pada evolusi uang. Stablecoin, Central Bank Digital Currencies (CBDC), serta simpanan yang ditokenisasi bergerak dari tahap uji coba menuju implementasi lebih luas. Pembayaran terprogram membuat dana tidak sekadar berpindah, tetapi membawa data dan instruksi otomatis.

Menurut riset Accenture, hingga 13 triliun dollar AS atau sekitar Rp 208.000 triliun (kurs Rp 16.000 per dollar AS) nilai transaksi berpotensi bermigrasi ke metode pembayaran alternatif sebelum akhir dekade ini. Tanpa strategi yang tepat, bank berisiko kehilangan pendapatan berbasis biaya dalam jumlah besar.

Perubahan ini memaksa bank tak lagi bergantung pada pola simpanan pasif. Uang terprogram memungkinkan dana bergerak otomatis sesuai kebutuhan nasabah, mulai dari pengelolaan imbal hasil hingga eksekusi instruksi tanpa campur tangan manusia.

Baca juga: Transformasi Customer Experience: Suara Nasabah yang Menjadi Kompas CIMB Niaga

AI dan Perubahan Pengalaman Nasabah

Transformasi juga menyentuh relasi bank dengan nasabah. Antarmuka AI kini berkembang dari sekadar alat otomatisasi menjadi asisten berbasis konteks. Nasabah berharap bank hadir di berbagai platform, termasuk ruang interaksi digital berbasis AI.

Ekspektasi tersebut menyerupai gelombang awal digitalisasi, tetapi dengan intensitas lebih tinggi. Nasabah menginginkan pengalaman real time yang personal, seperti dilayani bankir yang memahami kebutuhan mereka. Ketika bank gagal mengenali preferensi nasabah, jarak emosional pun muncul.

Di sisi lain, AI membuka ruang bagi pihak ketiga berada di antara bank dan nasabah, meningkatkan risiko disintermediasi. Tantangan ini mengingatkan industri pada kemunculan dompet digital beberapa tahun lalu. 

Meski begitu, kehadiran fisik dan interaksi manusia dinilai tetap penting dalam membangun kepercayaan, terutama untuk keputusan finansial kompleks.

Baca juga: AI di Customer Experience, Pendorong Daya Saing Ekonomi Digital RI

Perebutan Dana Rp 3.200.000 Triliun

Persaingan industri juga bergeser langsung ke neraca bank. Selama ini, simpanan dan kredit menjadi sumber utama pendapatan. Namun kini stablecoin, perusahaan kripto, hingga lembaga pembiayaan swasta mulai menantang peran tersebut.

Accenture mencatat lebih dari 200 triliun dollar AS atau sekitar Rp 3.200.000 triliun dana simpanan dan pinjaman global berada dalam pusaran persaingan baru. Angka tersebut mencerminkan skala dana yang diperebutkan dalam ekosistem keuangan modern.

Di tengah tekanan itu, bank dituntut melampaui pendekatan berbasis produk. Mereka perlu membangun proposisi nilai terintegrasi agar tidak mudah dibandingkan secara instan oleh agen AI yang hanya mencari penawaran terbaik.

Tri menegaskan, perubahan ini bukan sekadar soal efisiensi biaya.

“Bank dapat memperoleh pemahaman risiko yang lebih menyeluruh dan bersifat real-time, sekaligus mengubah pengalaman nasabah menjadi rangkaian interaksi yang berkesinambungan,” ujarnya.

“Bagi perbankan di Indonesia, inilah saatnya melampaui perubahan yang bersifat inkremental dan mulai membayangkan kembali bagaimana pekerjaan dilakukan, bagaimana kepercayaan dibangun, dan bagaimana manfaat dapat diciptakan.”

Selain soal model bisnis, laporan tersebut juga menyoroti perubahan dunia kerja. Konsep “10x bank” memungkinkan satu pegawai mengoordinasikan berbagai kapabilitas AI untuk menghasilkan dampak berlipat. 

Implementasi awal menunjukkan peningkatan produktivitas pengembangan perangkat lunak, percepatan proses Know Your Customer (KYC), serta pengambilan keputusan risiko yang lebih adaptif.

Namun Accenture mengingatkan, teknologi saja tidak cukup. Kepemimpinan dan budaya organisasi menjadi faktor penentu apakah AI akan mendorong pertumbuhan atau sekadar menghasilkan efisiensi jangka pendek.

Pada akhirnya, fondasi industri tetap bertumpu pada kepercayaan. Tetapi cara bank beroperasi, mengelola risiko, dan bersaing diperkirakan berubah mendasar. Tahun 2026 dinilai menjadi titik penting bagi bank yang ingin bertahan sekaligus tumbuh di tengah lanskap keuangan tanpa batas.

Tag:  #tren #perbankan #2026 #ubah #cara #bank #cari #untung

KOMENTAR