Cedera Saat Menstruasi Lebih Sulit Sembuh, Mitos atau Fakta?
Ilustrasi perempuan yang mengalami cedera.()
11:10
8 Januari 2026

Cedera Saat Menstruasi Lebih Sulit Sembuh, Mitos atau Fakta?

- Banyak perempuan merasa tubuhnya lebih rentan saat menstruasi. Mulai dari mudah lelah, nyeri, hingga merasa gerakannya kurang stabil. 

Tak sedikit pula yang merasa cedera yang terjadi saat haid membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anggapan itu bukan tanpa dasar. 

Studi ilmiah menemukan bahwa cedera yang terjadi saat menstruasi memang berpotensi membutuhkan waktu pemulihan yang lebih panjang dibandingkan cedera yang terjadi di fase siklus menstruasi lainnya.

Benarkah cedera saat menstruasi lebih sulit sembuh? 

Cedera tak lebih sering, tapi lebih berat

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Sports and Active Living meneliti hubungan antara siklus menstruasi dan tingkat keparahan cedera. 

Studi ini dilakukan oleh peneliti di Spanyol dan Inggris dengan melibatkan 33 pesepak bola profesional perempuan selama empat musim kompetisi.

Selama periode tersebut, para atlet mencatat hari-hari menstruasi, hari tanpa perdarahan, serta melaporkan cedera yang dialami. 

Dari total 852 siklus menstruasi, peneliti mencatat 80 cedera pada tungkai bawah, dengan 11 di antaranya terjadi saat atlet sedang mengalami perdarahan menstruasi.

Menariknya, hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan tidak lebih sering mengalami cedera saat menstruasi.

Namun, cedera yang terjadi pada fase ini cenderung lebih parah dan membutuhkan waktu pemulihan yang jauh lebih lama.

“Cedera yang terjadi selama menstruasi menyebabkan tiga kali lebih banyak hari yang dibutuhkan (untuk recovery), dibandingkan dengan cedera yang terjadi pada waktu lain,” ujar Eva Ferrer, MD, salah satu penulis studi dan dokter spesialis kedokteran olahraga di Sant Joan de Déu Hospital, Barcelona, dilansir dari SELF Magazine, Rabu (7/1/2025).

Data penelitian menunjukkan, cedera jaringan lunak seperti otot, tendon, dan ligamen yang terjadi saat menstruasi menyebabkan kehilangan 684 hari latihan per 1.000 jam latihan. 

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan cedera yang terjadi di luar fase menstruasi, yaitu sekitar 206 hari.

Peran hormon dalam proses pemulihan

Para ahli menilai, perbedaan ini tak lepas dari fluktuasi hormon yang terjadi selama siklus menstruasi. 

Menurut dokter spesialis kedokteran olahraga di NewYork-Presbyterian Brooklyn Methodist Hospital dan asisten profesor di Columbia University Medical Center, Jessica Tsao, MD, siklus menstruasi memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh.

“Siklus menstruasi memengaruhi kontrol neuromuskular, metabolisme, respons imun, hingga proses perbaikan jaringan,” kata Tsao.

Saat menstruasi, kadar hormon estrogen berada pada titik terendah. Padahal, estrogen berperan penting dalam perbaikan jaringan otot dan sintesis protein.

“Kadar estrogen yang rendah dapat mengurangi perbaikan otot dan sintesis protein,” jelas Tsao. 

Ia menambahkan, menstruasi juga sering disertai kelelahan, nyeri, gangguan tidur, serta kehilangan zat besi akibat perdarahan. Kombinasi faktor ini dapat mengganggu koordinasi gerak dan memperlambat proses penyembuhan cedera.

Implikasi bagi perempuan yang aktif berolahraga

Meski penelitian ini dilakukan pada atlet profesional, para ahli menilai temuan tersebut relevan bagi perempuan yang rutin berolahraga atau aktif secara fisik. 

Namun, bukan berarti menstruasi harus menjadi alasan untuk berhenti beraktivitas sepenuhnya.

“Tidak ada satu pendekatan yang berlaku untuk semua perempuan,” ujar Tsao.

Menurutnya, penyesuaian latihan sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi tubuh secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan fase siklus menstruasi.

Faktor lain seperti stres, kualitas tidur, kelelahan, dan asupan energi juga berperan besar terhadap risiko cedera dan proses pemulihan. 

Oleh karena itu, perempuan disarankan lebih peka terhadap sinyal tubuh, terutama saat sedang menstruasi.

Beberapa penyesuaian sederhana bisa dilakukan, seperti memperpanjang waktu pemanasan, mengurangi intensitas latihan, atau memberikan waktu pemulihan yang lebih panjang.

“Selama menstruasi, kamu mungkin perlu memberi tubuh waktu recovery lebih lama atau menurunkan intensitas latihan,” ungkap Tsao.

Manfaat mencatat siklus menstruasi

Studi ini juga menyoroti pentingnya pelacakan siklus menstruasi, terutama bagi perempuan yang aktif berolahraga. 

Dengan mencatat bagaimana tubuh merespons latihan, performa, dan pemulihan di setiap fase siklus, perempuan dapat menyusun strategi latihan yang lebih aman dan efektif.

“Melacak bagaimana perasaan, performa, dan pemulihan seseorang di berbagai bagian siklus dapat menjadi masukan berharga dalam menyusun rencana latihan,” kata Tsao.

Lebih lanjut, pelacakan siklus juga dapat membantu mendeteksi gangguan menstruasi, yang bisa menjadi tanda overtraining atau meningkatnya risiko cedera. 

Meski demikian, para peneliti mengingatkan agar temuan ini tidak digeneralisasi secara berlebihan. 

Penelitian tersebut melibatkan sampel kecil dari satu tim profesional dan menggunakan pencatatan kalender, bukan pemeriksaan hormon secara langsung. 

Faktor lain seperti stres, kualitas tidur, nutrisi, serta penggunaan kontrasepsi hormonal juga belum sepenuhnya diperhitungkan.

Meski memiliki keterbatasan, para ahli sepakat bahwa penelitian ini menjadi langkah penting dalam memahami hubungan antara siklus menstruasi, cedera, dan proses pemulihan. 

Bagi perempuan, temuan ini bisa menjadi pengingat untuk lebih mendengarkan tubuh dan tidak mengabaikan proses pemulihan, terutama saat menstruasi.

Tag:  #cedera #saat #menstruasi #lebih #sulit #sembuh #mitos #atau #fakta

KOMENTAR