Sering Mengumpat dan Malas? Ternyata Itu Ciri Orang dengan IQ Tinggi Menurut Riset
Banyak kebiasaan yang kita anggap wajar ternyata justru dihindari oleh orang ber-IQ tinggi. (Freepik)
21:20
22 Februari 2026

Sering Mengumpat dan Malas? Ternyata Itu Ciri Orang dengan IQ Tinggi Menurut Riset

Banyak yang mengira orang jenius selalu identik dengan nilai akademik sempurna atau sosok kaku yang hanya bicara soal rumus. Padahal, kecerdasan intelektual (IQ) tingkat tinggi sering kali muncul dalam bentuk kebiasaan yang tak terduga, bahkan terkadang dianggap menyimpang dari norma sosial atau dipandang negatif oleh lingkungan sekitar.

Kecerdasan bukan hanya soal angka di atas kertas, melainkan bagaimana otak memproses informasi, berkreasi, hingga merespons tekanan emosional. Menariknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa semakin tajam pemikiran seseorang, semakin kompleks pula cara mereka memandang dunia. Hal inilah yang memicu munculnya sifat-sifat unik yang mungkin tidak dimiliki orang pada umumnya.

Melansir dari YourTango, berikut adalah delapan ciri unik yang sering ditemukan pada pemilik IQ sangat tinggi.

1. Rentan Terhadap Gangguan Mental

Meskipun terdengar kontradiktif, memiliki otak yang terlalu encer ternyata bisa menjadi beban bagi kesehatan mental. Data dari komunitas pemilik IQ tinggi, Mensa, menunjukkan bahwa anggotanya memiliki prevalensi gangguan kecemasan yang jauh lebih besar dibanding masyarakat umum. Kondisi ini sering disebut sebagai "pedang bermata dua" dari kecerdasan luar biasa.

Tokoh besar seperti Edgar Allan Poe hingga Amy Winehouse sering dikaitkan dengan kondisi ini dalam sejarah. Para peneliti menduga ada kaitan biologis antara protein otak yang mendukung daya ingat tajam dengan risiko gangguan bipolar atau skizofrenia. Artinya, sirkuit otak yang bekerja terlalu cepat untuk memecahkan masalah juga lebih rentan mengalami "korsleting" emosional.

Selain itu, kemampuan memproses informasi dengan kecepatan tinggi membuat orang cerdas sulit untuk beristirahat. Otak yang terus bekerja tanpa henti ini meningkatkan risiko fase mania atau kelelahan mental yang kronis, yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat berujung pada depresi.

2. Gemar Mengumpat

Jangan salah sangka jika melihat seseorang yang cerdas sering mengeluarkan kata-kata kasar. Kebiasaan mengumpat bukan berarti seseorang kekurangan kosa kata atau tidak berpendidikan. Studi linguistik justru membuktikan bahwa orang dengan IQ tinggi cenderung memiliki kosa kata yang jauh lebih luas, termasuk dalam pemilihan kata-kata makian.

Bagi mereka, mengumpat adalah bentuk ekspresi emosi yang jujur dan spontan. Mereka tidak merasa perlu memfilter citra diri agar terlihat "sopan" setiap saat, terutama jika kata-kata tersebut dirasa paling tepat untuk menggambarkan situasi yang sedang terjadi. Kecerdasan verbal yang tinggi memungkinkan mereka memilih kata yang paling memiliki dampak emosional kuat.

Namun, orang cerdas biasanya memiliki kontrol sosial yang baik. Mereka tahu kapan harus menahan diri dan kapan bisa melepaskan ekspresi tersebut. Jadi, kebiasaan ini lebih merupakan tanda kejujuran intelektual daripada sekadar kurangnya tata krama.

 

3. Berani Mengambil Risiko Besar

Orang dengan kecerdasan tinggi biasanya tidak takut dengan tantangan atau situasi yang belum pasti. Sebuah riset menemukan bahwa individu yang berani mengambil keputusan berisiko memiliki volume "materi putih" (white matter) yang lebih banyak di area otak tertentu. Bagian ini berfungsi mendukung komunikasi antar sel saraf dan pengambilan keputusan yang cepat.

Bagi mereka, risiko bukanlah tindakan nekat tanpa perhitungan. Mereka melihat sebuah tantangan sebagai eksperimen rasional untuk menguji teori atau kemampuan diri. Rasa ingin tahu yang besar mengalahkan rasa takut akan kegagalan, karena mereka percaya pada kemampuan mereka untuk memecahkan masalah jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Kombinasi antara kepercayaan diri dan kemampuan analisis yang tajam membuat mereka sering melakukan langkah-langkah ekstrem yang dianggap gila oleh orang lain. Padahal, di kepala mereka, semua variabel sudah dihitung dengan matang sebelum langkah pertama diambil.

4. Sering Terlihat "Malas"

Pernah melihat seseorang hanya duduk diam melamun sementara orang lain sibuk bekerja? Bisa jadi mereka sedang bekerja lebih keras di dalam kepala. Pemilik IQ tinggi tidak mudah bosan dengan pikiran mereka sendiri. Mereka lebih suka memproses informasi secara mendalam (reflektif) daripada terus-menerus melakukan aktivitas fisik yang tidak bermakna bagi mereka.

Fenomena ini sering disalahartikan sebagai kemalasan atau kurangnya ambisi. Padahal, orang cerdas cenderung lebih efisien dalam menggunakan energi mereka. Mereka hanya akan bergerak aktif jika tugas tersebut menantang secara intelektual. Jika tidak, mereka lebih memilih menghemat tenaga sambil menyusun strategi di dalam pikiran.

Kemampuan untuk tetap diam dan berpikir adalah bentuk stimulasi mental yang tinggi. Bagi mereka, aktivitas fisik yang repetitif tanpa tujuan jelas justru membosankan, sehingga mereka sering terlihat "santai" padahal otaknya sedang mensimulasikan berbagai ide dan solusi rumit.

5. Selalu Ingin Melampaui Ekspektasi

Sifat overachiever sangat melekat pada orang dengan kecerdasan di atas rata-rata. Mereka jarang merasa puas dengan hasil yang sekadar "cukup" atau memenuhi standar minimum. Dorongan untuk berprestasi ini biasanya tidak datang dari tekanan orang tua atau bos, melainkan dari standar internal yang mereka tetapkan sendiri.

Mereka memiliki rasa lapar akan pencapaian yang terus tumbuh. Dalam lingkungan kerja atau pendidikan, mereka sering kali melakukan lebih dari yang diminta hanya karena ingin melihat sejauh mana batas kemampuan mereka bisa didorong. Kedisiplinan ini biasanya terbentuk karena mereka sangat menghargai proses pengembangan diri.

Hal ini juga terlihat dalam hubungan personal. Mereka cenderung ingin menjadi pasangan atau teman yang terbaik, meski terkadang hal ini membuat mereka jadi terlalu keras pada diri sendiri jika gagal memenuhi ekspektasi tinggi yang mereka ciptakan.

 

6. Cenderung Mudah Cemas

Otak orang cerdas hampir tidak pernah berhenti bekerja, bahkan di saat tidur. Mereka terus-menerus menganalisis berbagai skenario, memprediksi hasil, dan memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Kecemasan ini sebenarnya adalah produk sampingan dari kemampuan berpikir kritis yang sangat aktif.

Meskipun memicu stres, kecemasan ini memiliki sisi positif dalam hal kesiapsiagaan. Orang yang sering cemas terbukti lebih handal dalam pemecahan masalah (problem solving) karena mereka sudah memikirkan solusi sebelum masalah itu benar-benar muncul. Mereka selalu memiliki "rencana B" hingga "rencana Z" di dalam kepala mereka.

Namun, tantangan terbesar bagi mereka adalah memutus siklus overthinking. Tanpa manajemen stres yang baik, kecerdasan mereka bisa membuat mereka terjebak dalam rasa takut yang tidak perlu, yang sebenarnya hanyalah hasil dari imajinasi mereka yang terlalu kreatif dan logis.

7. Lebih Menyukai Kucing

Sebuah studi psikologi terhadap mahasiswa menunjukkan adanya korelasi unik antara pilihan hewan peliharaan dan tingkat kecerdasan. Pecinta kucing cenderung mendapatkan skor kecerdasan yang lebih tinggi dibanding pecinta anjing. Hal ini bukan sekadar soal selera, melainkan refleksi dari kepribadian dasar mereka.

Pecinta kucing biasanya memiliki sifat yang lebih mandiri, sabar, dan reflektif—ciri-ciri yang identik dengan cara kerja otak orang cerdas. Mereka lebih nyaman dengan kesendirian dan tidak memerlukan validasi sosial terus-menerus, sama seperti kucing yang dikenal sebagai hewan yang lebih otonom dibanding anjing.

Selain itu, orang cerdas seringkali mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia. Kehadiran kucing yang tenang dan tidak terlalu menuntut perhatian fisik secara berlebihan dianggap lebih cocok dengan ritme hidup mereka yang banyak dihabiskan untuk berpikir dan berkontemplasi.

8. Memiliki Pandangan Hidup Logis

Banyak orang dengan IQ tinggi cenderung lebih mengandalkan logika dan analisis rasional dalam memandang dunia, termasuk dalam hal keyakinan. Peneliti Miron Zuckerman menjelaskan kaitan antara pendidikan tinggi dengan kemandirian berpikir ini sebagai bentuk pengaturan diri yang kuat.

"Orang-orang cerdas biasanya menghabiskan lebih banyak waktu di sekolah, yang merupakan bentuk pengaturan diri dan memberi manfaat jangka panjang," terangnya.

Pendidikan dan karier yang mapan akhirnya meningkatkan kepercayaan diri dan kendali atas hidup mereka sendiri, sehingga mereka merasa tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal di luar logika.

Hal ini bukan berarti mereka anti-religius, melainkan mereka lebih membutuhkan bukti empiris dan penjelasan yang masuk akal sebelum menerima sebuah konsep. Keyakinan mereka akan kontrol pribadi atas nasib sendiri membuat mereka lebih fokus pada tindakan nyata dan solusi berbasis data daripada sekadar keberuntungan.

Editor: Bintang Pradewo

Tag:  #sering #mengumpat #malas #ternyata #ciri #orang #dengan #tinggi #menurut #riset

KOMENTAR