Ahli Gizi Bongkar Tren Diet Awal Tahun yang Menyesatkan, Jangan Asal Ikut Resolusi
Ilustrasi diet. Alih-alih mengejar hasil instan, pendekatan diet yang realistis justru lebih aman dan efektif.(Freepik)
09:05
8 Januari 2026

Ahli Gizi Bongkar Tren Diet Awal Tahun yang Menyesatkan, Jangan Asal Ikut Resolusi

Awal tahun sering menjadi momen banyak orang kembali serius memikirkan diet setelah liburan panjang penuh makanan dan aktivitas minim gerak.

Menurut ahli gizi terdaftar asal New York, Maddie Pasquariello, euforia resolusi Tahun Baru justru kerap dimanfaatkan media sosial untuk mempopulerkan pola diet yang tidak selalu aman atau berkelanjutan.

“Orang biasanya keluar dari rutinitas olahraga dan makan di luar kebiasaan saat liburan, lalu panik ketika Januari tiba,” kata Pasquariello kepada Business Insider.

Ia menegaskan, satu atau dua minggu menikmati liburan tidak akan merusak progres kesehatan jika sepanjang tahun sebelumnya sudah konsisten menjaga pola makan.

Masalahnya, dorongan untuk “balas dendam” setelah liburan sering membuat orang terjebak pada saran diet ekstrem yang ramai di media sosial, padahal menyesatkan.

Tren Diet yang Menyesatkan

Intermittent fasting demi turun berat badan cepat

Salah satu tren diet yang hampir selalu muncul di awal tahun adalah intermittent fasting (IF).

Pola makan ini mengatur jam makan, misalnya hanya makan dalam jendela waktu delapan jam atau melewatkan sarapan dan makan siang.

Pasquariello mengakui IF bisa bermanfaat bagi sebagian orang, misalnya membantu mengurangi refluks asam lambung.

Namun, ia mengingatkan bahwa melewatkan makan sering kali justru membuat rasa lapar menumpuk dan memicu makan berlebihan di malam hari.

“Menghilangkan sarapan atau makan siang biasanya membuat orang jauh lebih lapar dan berisiko overeating,” ujarnya.

Sebagai alternatif, ia menyarankan sarapan ringan yang mengandung protein dan serat, lalu dipadukan dengan aktivitas fisik seperti jalan kaki atau latihan ringan.

Pendekatan ini dinilai lebih membantu menjaga gula darah dan mencegah pola pikir diet “semua atau tidak sama sekali”.

Suplemen viral yang diklaim bisa melangsingkan

ilustrasi obat. Alih-alih mengejar hasil instan, pendekatan diet yang realistis justru lebih aman dan efektif.FREEPIK ilustrasi obat. Alih-alih mengejar hasil instan, pendekatan diet yang realistis justru lebih aman dan efektif.

Tren lain yang kerap muncul menjelang dan setelah liburan adalah konsumsi suplemen penurun berat badan.

Pasquariello menegaskan bahwa klaim suplemen yang bisa menekan nafsu makan atau meningkatkan metabolisme secara instan hampir semuanya berlebihan.

“Tidak ada pil ajaib untuk menurunkan berat badan, dan 99,99 persen suplemen semacam itu hanya membuang uang,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa suplemen baru bisa bermanfaat, jika seseorang benar-benar mengalami defisiensi nutrisi tertentu dan sudah diperiksa dokter.

Mengonsumsi vitamin atau mineral tanpa pemeriksaan darah justru berisiko, terutama jika asupannya berlebihan seperti vitamin A atau zat besi.

Diet alkali dan pola makan berbasis pseudoscience

Diet alkali juga termasuk tren lama yang selalu muncul kembali di awal tahun.

Pola diet ini mengklaim bisa mengubah tingkat keasaman tubuh dengan cara menghindari makanan seperti daging, ikan, telur, produk susu, biji-bijian, dan alkohol.

Pasquariello menyebut klaim tersebut tidak berdasar secara ilmiah karena tubuh manusia sudah memiliki sistem alami untuk mengatur pH.

“Siapa pun yang mengatakan pH tubuh bisa diubah lewat diet atau suplemen sebenarnya tidak paham cara kerja tubuh,” ujarnya.

Sebagian orang memang merasa lebih baik saat menjalani diet alkali, tetapi efek tersebut sering kali muncul karena berkurangnya makanan ultra-proses, bukan karena perubahan pH.

Masalahnya, diet terlalu ketat justru membuat tubuh kekurangan nutrisi penting seperti omega-3 dan protein yang berperan besar dalam rasa kenyang dan pembentukan otot.

Pola makan yang lebih realistis dan didukung riset

Bagi yang ingin kembali ke jalur sehat setelah liburan, Pasquariello merekomendasikan pola makan yang lebih realistis dan fleksibel.

Diet Mediterania, yang menekankan protein tanpa lemak, sayuran, buah, dan makanan utuh, dinilai lebih masuk akal dan berbasis penelitian.

Pendekatan tersebut juga tidak membuat orang merasa tersiksa, sehingga lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.

Tag:  #ahli #gizi #bongkar #tren #diet #awal #tahun #yang #menyesatkan #jangan #asal #ikut #resolusi

KOMENTAR