



Alasan Israel Bombardir Sekolah Gaza, Pejabat Iran dan Wakil Kepala Hamas Berbincang Lewat Telepon
Sementara Koresponden nasional Fox News Jeff Paul memiliki informasi lebih lanjut setelah serangan Israel.
Israel menyebut Hamas menggunakan sekolah tersebut sebagai pusat komando, demikian yang membuat IDF menargetkan tempat kelompok militan itu berada.
Di sisi lain, Badan pertahanan sipil yang dikelola Hamas menyebutkan, lebih dari 90 orang tewas dalam serangan itu.
Gedung Putih menyatakan keprihatinan yang mendalam atas korban sipil, dengan menyatakan terlalu banyak nyawa telah hilang dalam konflik yang sedang berlangsung, The Times of Israel melaporkan.
Para pejabat IDF mengatakan serangan itu dilakukan dengan menggunakan tiga "amunisi presisi" yang ditujukan ke sebuah bangunan tertentu di dalam kompleks sekolah.
Juru bicara IDF Laksamana Muda Daniel Hagari mencatat militer telah menerima informasi intelijen yang menunjukkan, Ashraf Juda, komandan Brigade Kamp Pusat Jihad Islam, kemungkinan hadir selama serangan itu, meskipun masih belum jelas apakah ia terbunuh.
Hagari menjelaskan, Hamas semakin sering menggunakan gedung sekolah sebagai fasilitas militer, yang telah menimbulkan kekhawatiran besar tentang keselamatan warga sipil.
Hal tersebut berdasarkan pemantauan intelijen Israel terhadap gerak-gerik Hamas dalam melakukan agresi.
IDF mengklaim, mereka mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko warga sipil, termasuk pengawasan udara sebelum serangan dan penargetan yang tepat.
Serangan Israel tersebut menuai kritik tajam dari berbagai negara dan kelompok.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell, mengutuk serangan tersebut, menyebutnya tidak dapat dibenarkan.
Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy mengungkapkan kengeriannya atas serangan udara tersebut dan menyerukan gencatan senjata segera untuk melindungi warga sipil.
Prancis juga mengutuk serangan tersebut, menyoroti jumlah korban sipil yang tidak dapat diterima.
Sementara itu, Mesir dan Qatar, yang keduanya merupakan mediator dalam perundingan gencatan senjata, telah menyerukan penyelidikan segera atas serangan udara tersebut.
Kementerian luar negeri Qatar menuntut penyelidikan internasional, termasuk pengiriman penyelidik independen PBB, untuk memeriksa penargetan sekolah dan tempat penampungan yang terus berlanjut oleh pasukan Israel.
Konflik sedang berlangsung, yang kembali memanas pada tanggal 7 Oktober ketika Hamas melancarkan serangan mendadak terhadap Israel, telah mengakibatkan banyak korban di kedua belah pihak.
IDF melaporkan, sekitar 15.000 pejuang Hamas telah tewas, sementara Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mengklaim lebih dari 39.000 orang telah tewas dalam pertempuran tersebut, angka yang masih belum diverifikasi.
Pejabat Iran Telepon Wakil Kepala Hamas

MEHR memberitakan, dalam percakapan telepon dengan Khalil al-Hayya pada hari Minggu (11/8/2024), Ali Bagheri Kani sekali lagi menyampaikan belasungkawa atas tewasnya pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh dan mengucapkan selamat kepada Yahya Sinwar atas terpilihnya ia sebagai pimpinan baru Gerakan Perlawanan Hamas.
Mengacu pada konsultasi ekstensif Republik Islam Iran mengenai kejahatan baru Zionis dalam serangan terhadap sekolah al-Tabin di Gaza, Bagheri Kani mencatat bahwa Iran secara serius berusaha mengutuk kejahatan baru Zionis di arena regional dan internasional.
Sementara itu, Khalil al-Hayya juga merujuk pada kejahatan baru yang dilakukan oleh rezim Zionis yang mengakibatkan mati syahidnya wanita dan anak-anak tak berdosa di Gaza.
Ia menyerukan kecaman global terhadap tindakan teroris ini di arena internasional dan menekankan kelanjutan konsultasi dengan Teheran dalam hal ini.
Kantor berita resmi Palestina WAFA mengatakan lebih dari 100 warga tewas dan puluhan lainnya terluka pada Sabtu pagi setelah pasukan Israel mengebom sekolah al-Tabin di lingkungan al-Daraj di sebelah timur Kota Gaza.
Penting Cari Pembunuh Haniyeh
Iran bakal memilih untuk mencari para pelaku pembunuhan terhadap Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh ketimbang melancarkan serangan ke Israel.
Dikutip dari Times of Israel, Teheran bisa menyerang Israel secara keseluruhan karena dituding sebagai pembunuh Haniyeh kendati Yerusalem tidak mengonfirmasi maupun menyangkalnya.
Laporan-laporan yang muncul, Iran bakal mencari orang-orang yang diyakini telah berkhianat dengan menjadi mata-mata badan keamanan Israel, Mossad.
Dilansir The Guardian, Teheran kini tengah menimbang-menimbang terkait adanya tekanan agar tidak meningkatkan ketegangan di kawasan jika lebih memilih untuk melakukan serangan ke Israel.
Tekanan tersebut dapat dilihat ketika Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar menentang, dalam pertemuan anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Iran, jika Teheran melakukan serangan ke Israel.
Ishaq menuturkan, sebenarnya pembunuh Haniyeh memang harus dicari, tetapi Iran jangan sampai memenuhi hasrat Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu yang menurutnya memang menginginkan peperangan lebih luas di Timur Tengah.
"Kita tidak boleh memenuhi rencana Benjamin Netanyahu untuk perang yang lebih luas," kata Ishaq dalam sambutannya.
Kendati demikian, di sisi lain, pada Rabu (7/9/2024), Netanyahu sudah mengatakan kepada para tentara dalam sebuah kunjungan ke pangkalan perekrutan Tel Hashomer bahwa Israel telah siap untuk bertahan dan melakukan penyerangan balik jika mengalami serangan.
Bahkan, pernyataan Netanyahu itu didukung dengan infrastruktur seperti rumah sakit di Israel Utara dan Lebanon yang siap menampung para korban luka jika serangan ke Israel benar-benar terjadi.
Komando front terdepan Israel minggu ini mengirimkan batalion pencarian dan penyelamatan ke kota-kota besar sehingga acara yang digelar di luar ruangan di Israel Utara kini telah dilarang.
Israel Sudah Siap Diserang tapi Belum Ada Pembatasan Aktivitas
Kendati sudah siap diserang, Israel masih belum melakukan pembatasan terhadap aktivitas warga sipil.
Adapun hal ini diduga agar jika Iran atau Hizbullah melakukan serangan, maka itu tergantung dari rencana Israel.
Di sisi lain, jika Iran dan Israel benar-benar berkonflik, negara tetangga yaitu Yordania enggan untuk ikut campur dan menjadi medan perang kedua negara.
Bahkan, jika ada serangan udara seperti roket ataupun rudal melewati Yordania, maka akan ditembak jatuh.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi kepada CNN.
"Pesan kami sudah jelas kepada Iran, kepada Israel, bahwa kami tidak akan menjadi medan pertempuran bagi siapapun."
"Kami tidak akan mengizinkan siapapun, sejauh yang kami bisa, untuk melanggar wilayah udara kami. Tanggung jawab pertama kami adalah terhadap rakyat kami, melindungi kedaulatan negara kami dan keselamatan rakyat kami," tegas Safadi.
Sementara, secara terpisah, Penjabat Menteri Luar Negeri Iran, Ali Bagheri, menuduh bahwa Israel memang ingin memperluas peperangan di kawasan dengan tidak mau mengomentari tewasnya Haniyeh.
Namun, media Iran menilai keputusan Iran untuk menahan diri tidak menyerang Israel bakal meningkatkan wibawa dari negara tersebut dan dianggap sebagai negara perdamaian.
Haniyeh Disebut Dibunuh 2 Anggota IRGC yang Direkrut Mossad

Fakta mencengangkan muncul soal tewasnya Haniyeh di mana pelakunya adalah dua anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang direkrut oleh badan mata-mata Israel, Mossad.
Dikutip dari Anadolu Agency yang mengutip laporan Jewis Chronicle, dua orang tersebut membunuh Haniyeh dengan meletakkan sebuah alat peledak di bawah tempat tidur.
"Orang-orang Iran sendiri menyadari hal ini setelah pembunuhan itu, ketika para penjaga terlihat dalam rekaman kamera keamanan pada hari pembunuhan itu bergerak diam-diam di lorong menuju kamar tempat Haniyeh berencana untuk tinggal, membuka pintu dengan kunci dan memasuki kamar," demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Nyatanya, gerak-gerik kedua orang tersebut saat memasuki kamar Haniyeh terlihat kamera.
"Penjaga tempat parkir mengidentifikasi mereka dan membuka gerbang tanpa penyelidikan apapun dan sattu jam kemudian, mereka dievakuasi dari Iran oleh Mossad," begitu tertulis dalam laporan.
Haniyeh tewas seusai menghadiri pelantikan Presiden Iran terbaru, Masoud Pezeshkian yang menggantikan Ebrahim Raisi yang meninggal akibat helikopter yang ditumpanginya jatuh pada 19 Mei 2024 lalu.
(Tribunnews.com/ Chrysnha, Yohanes Liestyo Poerwoto)
Artikel lain terkait Konflik Palestina vs Israel
Tag: #alasan #israel #bombardir #sekolah #gaza #pejabat #iran #wakil #kepala #hamas #berbincang #lewat #telepon