Perancis Mundur dan Rusia Sibuk, China ''Rajai'' Pasar Senjata di Afrika Barat
Pendukung Kapten Ibrahim Traore bersorak dengan bendera Rusia di jalan-jalan Ouagadougou, Burkina Faso, Minggu, 2 Oktober 2022. (AP PHOTO/KILAYE BATIONO)
08:18
16 Februari 2026

Perancis Mundur dan Rusia Sibuk, China ''Rajai'' Pasar Senjata di Afrika Barat

- Pudarnya pengaruh Perancis di Afrika Barat dan Tengah, dibarengi dengan terbatasnya pasokan senjata dari Rusia, telah menciptakan sebuah kevakuman militer. 

Kondisi ini dimanfaatkan oleh China yang kini berada dalam posisi unik untuk mengisi celah pasar persenjataan di sana, sebagaimana dilansir SCMP, Jumat (16/2/2026).

Berdasarkan laporan Januari dari jurnal China Military to Civilian, pemasok senjata China National Aero-Technology Import & Export Corporation menyatakan bahwa Beijing tengah memanfaatkan reputasi teknologi yang hemat biaya dan pembiayaan fleksibel di Afrika.

Baca juga: Israel Pakai Senjata yang Buat Warga Palestina Menguap

Langkah ini menyusul gelombang kudeta militer di wilayah Sahel Afrika sejak 2020 termasuk di Burkina Faso, Mali, dan Niger. 

Pasukan Perancis diketahui mulai menarik diri dari kawasan tersebut setelah kampanye kontra-terorisme yang berlangsung lama.

Laporan dari jurnal milik Administrasi Negara untuk Sains, Teknologi, dan Industri Pertahanan Nasional China tersebut mengidentifikasi bahwa mundurnya militer Perancis memberikan ruang ekspansi bagi perdagangan militer China.

Selain itu, terdapat peluang agar senjata buatan China bisa menggantikan persenjataan di sana seiring dengan penurunan penggunaan persenjataan asal Perancis dan Rusia

Sebagaimana diketahui, kemampuan Rusia dalam mendukung pelanggan luar negeri sendiri juga terhambat oleh perang di Ukraina.

Senjata China dinilai memiliki keunggulan kompetitif karena biaya yang relatif murah, mudah dirawat, kemampuan kustomisasi, serta sistem layanan purna jual yang sesuai dengan kebutuhan Afrika.

Meskipun Amerika Serikat (AS) dan Rusia masih mendominasi pasar senjata kelas atas di Afrika, pangsa pasar China di sektor drone dan kendaraan lapis baja terus meningkat, di tengah persaingan baru dari Turkiye dan Israel.

Baca juga: Perjanjian AS-Rusia Berakhir, Trump Minat Uji Coba Senjata Nuklir

Dominasi di Afrika Barat

Data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) memperkuat tren ini. 

Peneliti Arms Transfers Programme SIPRI Katarina Djokic menyebut China sebagai pemasok terbesar bagi negara-negara Afrika Barat pada periode 2020-2024.

"China menyumbang 26 persen dari impor senjata Afrika Barat, diikuti oleh Perancis (14 persen), serta Rusia dan Turki yang masing-masing sebesar 11 persen," ujar Djokic.

Dia menambahkan bahwa ekspor China ke wilayah ini mencapai level tertinggi yang pernah ada. 

China bahkan memperluas transfer senjata ke negara-negara seperti Senegal dan Ghana, terlepas dari hubungan militer negara-negara tersebut dengan Perancis.

"Peningkatan penjualan senjata ke Burkina Faso dan Mali terjadi setelah kudeta baru-baru ini, tetapi hal ini juga berkaitan dengan konflik di negara-negara tersebut yang membuat mereka membeli senjata lebih banyak dari sebelumnya," jelas Djokic.

Baca juga: Perjanjian New START AS-Rusia Resmi Berakhir, Dunia Tanpa Batas Senjata Nuklir

Strategi tanpa syarat

Drone bawah laut HSU100 saat dipamerkan di parade militer dalam rangka peringatan 80 tahun kemenangan China atas Jepang dalam Perang Dunia, di Lapangan Tiananmen, Beijing, 3 September 2025.AFP/GREG BAKER Drone bawah laut HSU100 saat dipamerkan di parade militer dalam rangka peringatan 80 tahun kemenangan China atas Jepang dalam Perang Dunia, di Lapangan Tiananmen, Beijing, 3 September 2025.

Para analis menilai, Beijing mengkapitalisasi mundurnya Barat dengan menawarkan perangkat keras tanpa syarat serta memperkuat diplomasi militer.

Alessandro Arduino dari Royal United Services Institute (RUSI) mencatat bahwa China sedang merombak perannya menjadi aktor keamanan yang krusial, terutama di wilayah Sahel.

"Harga yang kompetitif dan pembiayaan yang permisif membuat peralatan China sangat menarik bagi pemerintah yang kekurangan anggaran," kata Arduino.

Alih-alih menempatkan pasukan di lapangan, China memilih strategi profil rendah melalui transfer senjata, pelatihan, dan ikatan institusional. 

Beijing juga memperluas jejak keamanannya melalui jaringan atase pertahanan, kunjungan kapal angkatan laut, dan perusahaan keamanan swasta China untuk melindungi infrastruktur ekonomi mereka.

Baca juga: AS Guyur Israel dan Arab Saudi Senjata, Konflik Timur Tengah Makin Panas

Komitmen jangka panjang

Komitmen ini ditegaskan dalam Rencana Aksi Beijing pada Forum Kerja Sama China-Afrika (FOCAC) 2024-2027, yang mencakup pelatihan bagi 6.500 personel militer.

Produsen senjata terbesar China, Norinco, bahkan telah membuka kantor di Nigeria dan Senegal. 

Di Mali, Presiden transisi Assimi Goita telah mengunjungi Beijing pada 2024 untuk menandatangani kesepakatan pertahanan komprehensif dengan Norinco.

Namun, peneliti senior Peace Research Institute Oslo, Ilaria Carrozza, mengingatkan bahwa meski posisi China menguat, dominasi penuh tetap sulit dicapai.

Baca juga: Ironi di Gaza, Kelompok Bersenjata Pakai Senjata Buatan Israel untuk Habisi Hamas

"Peralatan China yang terjangkau dan pembiayaan perdagangan plus bantuan menarik bagi pemerintah Sahel, tetapi mereka menghadapi persaingan ketat dari ekspor pertahanan Turkiye, pengaruh AS, dan jaringan keamanan Rusia yang sudah mengakar," ungkap Carrozza.

Senada dengan itu, David Shinn, profesor dari George Washington University, menyoroti bahwa keunggulan utama China adalah pengiriman yang cepat dan tanpa syarat politik. 

Namun, China memiliki keterbatasan karena enggan terlibat dalam dukungan militer kinetik atau pertempuran langsung.

"Berbeda dengan Rusia atau AS, hubungan keamanan China menghindari dukungan militer langsung. Keengganan China untuk terlibat dalam tempur membatasi kemampuannya memenuhi permintaan keamanan tertentu," pungkas Shinn.

Baca juga: Kapal Induk AS Tiba di Timur Tengah, Iran Sudah Siap Senjata

Tag:  #perancis #mundur #rusia #sibuk #china #rajai #pasar #senjata #afrika #barat

KOMENTAR