Jet Tempur Ofensif-Defensif Inggris Siaga, Jaga-jaga Iran-AS Perang
Jet tempur F-35B milik Inggris saat hendak mendarat di dek kapal induk perang HMS Queen Elizabeth di Laut Arab, 21 Oktober 2021.(AFP/PUNIT PARANJPE)
23:18
9 Februari 2026

Jet Tempur Ofensif-Defensif Inggris Siaga, Jaga-jaga Iran-AS Perang

- Pemerintah Inggris mengerahkan enam unit jet tempur siluman F-35B ke Pangkalan Udara RAF Akrotiri di Siprus, di tengah kekhawatiran akan potensi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanas.

Pesawat-pesawat tersebut diterbangkan dari RAF Marham dan tiba di Siprus pada Jumat (6/2/2026).

Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya Inggris memperkuat perlindungan terhadap instalasi militer serta kawasan sekitarnya, apabila situasi keamanan di wilayah Timur Tengah memburuk.

Baca juga: AS Geram Kanada Mau Batalkan Pembelian F-35, Ancam Kerahkan Jet Tempur

Fokus pada misi pertahanan

Jet tempur Eurofighter Typhoon milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) lepas landas dari pangkalan udara RAF Akrotiri di Siprus, 22 September 2016. Inggris pada Sabtu (14/6/2025) mengerahkan jet tempur ke kawasan Timur Tengah saat perang Israel-Iran berkecamuk.AFP/PETROS KARADJIAS Jet tempur Eurofighter Typhoon milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) lepas landas dari pangkalan udara RAF Akrotiri di Siprus, 22 September 2016. Inggris pada Sabtu (14/6/2025) mengerahkan jet tempur ke kawasan Timur Tengah saat perang Israel-Iran berkecamuk.Enam unit jet tempur generasi kelima ini akan bergabung dengan armada jet Typhoon yang lebih dulu ditempatkan di Siprus.

Selama ini, jet Typhoon menjalankan misi serangan rutin dalam Operasi Shader, yang menargetkan sisa-sisa kelompok ISIS di Irak dan Suriah.

Bulan lalu, empat unit Typhoon dari Skuadron Gabungan Inggris-Qatar No. 12 juga dikirim ke Qatar atas permintaan Pemerintah Doha, yang khawatir terhadap meningkatnya ketidakstabilan di kawasan.

Berbeda dengan peran ofensif Typhoon, jet F-35B disebut hanya akan menjalankan misi pertahanan.

Menurut laporan The Times, pesawat ini ditugaskan dalam kapasitas “murni defensif”.

Pengiriman kekuatan militer ini berlangsung seiring munculnya sinyal positif dari jalur diplomasi antara AS dan Iran.

Untuk pertama kalinya sejak serangan gabungan AS-Israel pada Juni tahun lalu yang menghancurkan infrastruktur nuklir Iran, perwakilan kedua negara menggelar pertemuan langsung di Muscat, Oman, pada Jumat.

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan dialog pada pekan berikutnya.

Baca juga: Berunding Tanpa Tatap Muka, Ini Hasil Negosiasi AS-Iran di Oman

Presiden AS Donald Trump menyampaikan optimisme usai pertemuan tersebut.

“Kami melakukan pembicaraan yang sangat baik tentang Iran. Iran terlihat sangat ingin membuat kesepakatan,” ujarnya dalam pernyataan di atas pesawat kepresidenan Air Force One.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (kiri) berjabat tangan dengan Menlu Oman Badr bin Hamad Al Busaidi di Muscat, Jumat (2/6/2026), menjelang perundingan dengan Amerika Serikat.KEMENTERIAN LUAR NEGERI OMAN via AFP Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (kiri) berjabat tangan dengan Menlu Oman Badr bin Hamad Al Busaidi di Muscat, Jumat (2/6/2026), menjelang perundingan dengan Amerika Serikat.Nada serupa juga disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Ia menyebut pertemuan itu berlangsung dalam suasana yang sangat positif, dan mengatakan bahwa argumen telah dipertukarkan secara terbuka.

“Pandangan pihak lain dibagikan kepada kami,” ujarnya, sembari menambahkan bahwa format lanjutan negosiasi akan segera ditentukan.

Kehadiran militer AS di Timteng semakin besar

Meski jalur diplomatik terbuka, kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk justru bertambah, bahkan melampaui level sebelum operasi militer pada Juni lalu.

Kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln, yang mengangkut jet F-35 dan kapal perusak bersenjata rudal jelajah Tomahawk, kini berada di Laut Arab.

AS juga mengerahkan sejumlah aset tambahan, antara lain belasan jet tempur F-15, drone MQ-9 Reaper, pesawat serang darat A-10C, dan pesawat suplai Osprey yang beroperasi dari pangkalan di Yordania dan Oman.

Jet tempur Amerika Serikat diparkir di dek kapal induk USS Abraham Lincoln sata kunjungan media di Pelabuhan Klang, Kuala Lumpur, Malaysia, 26 November 2024. Kapal induk Amerika ini menjadi sorotan utama dalam kemungkinan serangan ke Iran, Januari 2026.AFP/POOL/FAZRY ISMAIL Jet tempur Amerika Serikat diparkir di dek kapal induk USS Abraham Lincoln sata kunjungan media di Pelabuhan Klang, Kuala Lumpur, Malaysia, 26 November 2024. Kapal induk Amerika ini menjadi sorotan utama dalam kemungkinan serangan ke Iran, Januari 2026.Tiga unit pesawat komunikasi tempur E-11A kini ditempatkan di Pangkalan Udara Al Kharj, Arab Saudi, meningkat dari hanya satu pesawat pada masa operasi sebelumnya.

Pekan lalu, sebuah drone Iran yang terbang agresif mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln ditembak jatuh.

Insiden ini menjadi penanda tingginya tensi di kawasan.

Analis pertahanan sumber terbuka, Stefan Watkins, mencatat adanya peningkatan pesawat pengintai dan peringatan dini di wilayah tersebut.

Menurut Watkins, seperti dikutip The Times, pola tersebut “mungkin menunjukkan bahwa serangan akan datang lebih cepat daripada nanti.”

Baca juga: Jet Tempur Siluman AS Tembak Jatuh Drone Iran yang Dekati Kapal Induk

Penolakan dari negara mitra regional

Meski kekuatan militer kian ditingkatkan, sejumlah mitra utama AS di kawasan justru menyatakan penolakan terhadap opsi serangan militer baru ke Iran.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) disebut enggan mengizinkan wilayah udara mereka digunakan untuk operasi militer.

Keduanya juga memperingatkan risiko menyerang Iran tanpa jaminan keberhasilan, mengingat kondisi Iran yang dianggap sudah cukup lemah.

Direktur CIA John Ratcliffe (kiri) saat menonton operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan), di kediaman Trump di Mar-a-Lago, Palm Beach, Negara Bagian Florida.TRUTH SOCIAL @realDonaldTrump via REUTERS Direktur CIA John Ratcliffe (kiri) saat menonton operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan), di kediaman Trump di Mar-a-Lago, Palm Beach, Negara Bagian Florida.Sumber dari pemerintahan AS mengungkapkan bahwa Trump juga tampak lebih berhati-hati dibandingkan sebelumnya.

Berbeda dengan sikap pada Juni lalu, Trump kini disebut tidak lagi melihat program nuklir Iran sebagai ancaman langsung.

“Justru pihak Israel yang menginginkan serangan. Presiden tidak berada di posisi itu,” kata seorang pejabat senior kepada Axios.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut terus mendorong Washington agar melancarkan serangan komprehensif terhadap program rudal balistik Teheran.

Ia bahkan mengirim sejumlah pejabat militer dan intelijen ke AS untuk memperkuat upaya lobi tersebut.

Baca juga: Negosiator Trump Sambangi USS Abraham Lincoln, Iran Ancam Serang Pangkalan Militer AS

Sumber: Kompas.com/Inas Rifqia Lainufar

Tag:  #tempur #ofensif #defensif #inggris #siaga #jaga #jaga #iran #perang

KOMENTAR