Cerita Semangkuk Es Krim dari Pulau Nusakambangan
Semangkuk es krim rasa vanila yang dibuat oleh pengolahan singkong di Lapas Nurbaya, Pulau Nusakambangan. Es krim sepenuhnya diproduksi oleh warga binaan, Senin (9/2/2026).(KOMPAS.com/SINGGIH WIRYONO)
22:54
9 Februari 2026

Cerita Semangkuk Es Krim dari Pulau Nusakambangan

- Es krim dan Pulau Nusakambangan, seperti dua buah frasa dengan makna yang begitu berbeda.

Es krim dikenal sebagai sajian dingin yang menyenangkan, disukai banyak orang, termasuk anak-anak.

Sedangkan Pulau Nusakambangan, sebagai sebuah tempat penghukuman, pulau yang ditempati oleh narapidana dengan risiko tinggi.

Pulau yang terletak di Cilacap, Jawa Tengah ini disebut-sebut sebagai tempat angker, tempat eksekusi para terpidana mati, para napi teroris, dan para gembong narkotika.

Rasanya tak mungkin frasa es krim dengan Pulau Nusakambangan bertemu dalam satu cerita.

Tapi hari ini berbeda. Kompas.com berkesempatan mengunjungi pulau dengan penjagaan keamanan ekstra ketat tersebut, dan bertemu dengan sajian dingin, lembut nan manis di tempat yang sama.

Kompas.com, bersama beberapa awak media mendatangi Pulau Nusakambangan pada Senin, (9/2/2026), bersama beberapa rekan Humas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Baca juga: 220 Napi Berisiko Tinggi Lapas Cipinang Dipindahkan ke Nusakambangan

Tujuan kami adalah Lapas Kelas IIB Nirbaya, Nusa Kambangan. Akses ke tempat tersebut cukup menantang.

Jalanan menanjak dan meliuk-liuk mengharuskan kami berganti kendaraan dengan model Toyota Hilux untuk sampai ke lapas tersebut.

Di sepanjang jalan, hutan lebat dan cerita macan kumbang serta babi hutan menjadi bagian perjalanan.

Kabarnya, babi hutan masih sering lewat, pernah juga seekor kera tertabrak rombongan mobil pengawas yang melintas.

Rimba, hutan dimana-mana. Jika ada bangunan terlihat, di situ pasti ada jeruji dan kawat berduri.

Kurang lebih 10 menit perjalanan kami tempuh dari dermaga ke lokasi Lapas Nirbaya. Kami pun disambut Kepala Lapas Helmi Najih dan para warga binaan.

Saat tiba di sana, cuaca tak sepenuhnya terik, beberapa kali berawan, bahkan sempat turun hujan rintik. Namun cuaca yang tak menentu tak membuat para warga binaan di lapas tersebut ikut tak menentu.

Para warga binaan Lapas Nirbaya, Nusakambangan saat berkegiatan mengolah singkong menjadi mocaf dan bahan dasar es krim, di Lapas Nurbaya, Nusakambangan, KOMPAS.com/SINGGIH WIRYONO Para warga binaan Lapas Nirbaya, Nusakambangan saat berkegiatan mengolah singkong menjadi mocaf dan bahan dasar es krim, di Lapas Nurbaya, Nusakambangan,

Dengan baju berwarna biru hitam, bertuliskan "Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas Kelas IIB Nirbaya", mereka cekatan membolak-balikkan ketela alias singkong yang tergelar di depan ruang pemrosesan.

Ada yang mengupas, mencuci, mencincang. Ada juga sebagian dari mereka menjemur hasil cincangan singkong, mengolah menjadi tepung dan beras mocaf.

Lalu pertanyaan yang muncul dari aktivitas pengolahan tersebut adalah "mengapa singkong?"

Helmi cekatan menjawab. Nusakambangan adalah sebuah pulau dengan topografi perbukitan. Tak semua bisa dijadikan sawah, tapi kemungkinan berpotensi menjadi sebuah kebun.

Singkong adalah tanaman yang potensi bisa ditanam dalam sebuah perkebunan. Meskipun sama seperti babi hutan masih menjadi tantangan tersendiri.

"Kami akan terus berusaha bagaimana cara menghalaunya. Lapas Narkotika (yang juga di Nusakambangan) yang sempat berhasil (mencegah hama) dan sampai saat ini (tanaman singkongnya) tidak diserang babi hutan," katanya.

Dia mengatakan, singkong di Nusakambangan bisa tumbuh maksimal karena sebagian besar lahannya adalah perbukitan, dan sangat mungkin dikembangkan karena perawatan yang relatif mudah.

Baca juga: Mental Ammar Zoni Drop Saat Dengar Akan Dibawa Lagi ke Nusakambangan

Dijadikan Beras dan Tepung Mocaf

Singkong ini kemudian diolah oleh 46 warga binaan di Lapas Nirbaya.

Mereka diberikan pembelajaran untuk mengolah singkong ini menjadi tepung dan beras mocaf.

Tepung mocaf dinilai punya potensi untuk menggantikan tepung terigu karena memiliki kandungan gluten yang rendah.

Dua produk ini adalah kebanggaan dari Lapas Nirbaya, karena merupakan bagian dari pengejawantahan ketahanan pangan yang dipesankan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Salah satunya bahkan sudah mendapat perizinan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, dengan nomor PB-UMKU : BPOM RI MD 021135000100828.

Dua produk ini juga sedang diajukan merek dagang dengan nama "Nirbaya" ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum.

Tak hanya bagian singkongnya, kulitnya juga dimanfaatkan untuk pakan peternakan ayam yang berada di Lapas Terbuka Nusakambangan.

Para warga binaan Lapas Nirbaya, Nusakambangan saat berkegiatan mengolah singkong menjadi mocaf dan bahan dasar es krim, di Lapas Nurbaya, Nusakambangan, KOMPAS.com/SINGGIH WIRYONO Para warga binaan Lapas Nirbaya, Nusakambangan saat berkegiatan mengolah singkong menjadi mocaf dan bahan dasar es krim, di Lapas Nurbaya, Nusakambangan,

Dalam satu minggu, pabrik mocaf Lapas Nirbaya mampu menyerap hingga 10 ton singkong basah. Singkong tersebut diolah dan mampu menghasilkan 2 hingga 2,5 ton tepung mocaf.

Dia mengatakan, tepung mocaf akan didistribusikan dan dipasarkan keluar Nusakambangan untuk segmen makanan sehat.

"Kita akan bawa keluar karena segmen mocaf ini adalah segmen kesehatan, oleh karena itu kita berpikir bagaimana kita menemukan segmen yang general," ujar Helmi.

Es Krim dari Nusakambangan

Di Lapas Nirbaya ini juga frasa es krim dan Pulau Nusakambangan bertemu.

Mocaf menjadi medium yang menyatukan dua frasa hitam dan putih tersebut, menjadi katalis dan membuat Nusakambangan menjadi manis.

Es krim, kata Helmi, menjadi salah satu produk turunan yang dipamerkan kepada awak media.

Kompas.com mencoba satu mangkuk kecil es krim yang dihidangkan oleh Helmi dan pegawainya di tengah terik sebelum azan dzuhur berkumandang.

Vanila menjadi rasa yang pertama kali dicoba, tekstur yang lembut dan warna yang putih menyentuh sendok es krim yang terbuat dari kayu.

Baca juga: 46 Warga Binaan Berisiko Tinggi dari 3 Lapas di Jatim Dipindahkan ke Lapas Nusakambangan

Aroma vanila mulai tercium, lelehan berwarna putih di pinggir mangkuk, es krim tersebut meluncur ke mulut.

Rasanya unik, lembut, manis, tapi ada bagian yang tak pernah terasa di es krim komersial lainnya, yaitu rasa lembut dari tepung mocaf.

Es krim yang begitu menyenangkan, menyegarkan, sekaligus mengundang tanya, bagaimana dengan rasa yang lain?

Setelah satu mangkuk dengan rasa vanila habis, mangkuk es krim rasa melon terasa menggoda, kemudian rasa cokelat, stroberi, dan terakhir anggur.

Es krim yang dibuat dari tangan-tangan warga binaan Lapas Nirbaya tersebut menjadi kesan yang begitu janggal di tengah-tengah "angkernya" pulau dengan keamanan super ketat itu.

Namun rasa manis, lembut, dan menyenangkan ini tak lantas ikut terkungkung bersama para pembuatnya di Nusakambangan.

Beras mocaf hasil pengolahan warga binaan Lapas Nirbaya, Nusakambangan, Senin (9/2/2026).KOMPAS.com/SINGGIH WIRYONO Beras mocaf hasil pengolahan warga binaan Lapas Nirbaya, Nusakambangan, Senin (9/2/2026).

Helmi mengatakan, masyarakat sekitar, terutama di Cilacap juga mencicipi hasil karya para warga binaan ini di lokasi Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD) di Cilacap.

"Responsnya baik, kita sudah pernah coba dipasarkan di CFD, kita produksi 300 dalam waktu satu jam habis," imbuhnya.

Tentu, apa yang menjadi program Lapas di Nusakambangan ini tak terlepas dari cita-cita memasyarakatkan kembali warga binaan.

Banyak dari warga binaan ingin menerapkan kembali keterampilan yang mereka dapatkan dalam pembinaan mereka, tak terkecuali soal membuat es krim dari onggokan singkong.

Salah satunya Hendro, warga binaan asal Banjarnegara.

Dia dulunya jadi tukang kayu, tapi setelah bebas Hendro ingin menggunakan keterampilan yang didapat di lapas untuk menyambung hidup setelah bebas.

"Pengalaman dari sini kami coba untuk terapkan," katanya singkat.

Tag:  #cerita #semangkuk #krim #dari #pulau #nusakambangan

KOMENTAR