Apa Itu Virus Nipah? Penyakit Mematikan dengan Angka Kematian Hingga 75 Persen
Virus Nipah kembali menjadi perhatian global setelah dilaporkan muncul di sejumlah negara dan disebut sebagai salah satu penyakit infeksi paling mematikan.
Virus zoonosis ini memiliki tingkat kematian tinggi, mencapai 40–75 persen, serta hingga kini belum memiliki obat antivirus maupun vaksin.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut pemahaman yang tepat mengenai virus Nipah penting agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan tanpa kepanikan.
Baca juga: Dari Kelelawar ke Manusia, Ini Penyebab Virus Nipah di Balik Wabah India
Virus Nipah pertama kali ditemukan di Malaysia
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH, menjelaskan bahwa virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia.
“Nama Nipah diambil dari lokasi pertama kali virus ini ditemukan, yakni di sekitar Sungai Nipah di Malaysia,” kata Dominicus dalam Webinar IDAI Mengenal dan Mewaspadai Nipah, yang diikuti Kompas.com, Kamis (29/1/2026).
Sejak saat itu, kasus virus Nipah dilaporkan secara terbatas dan terkonsentrasi di beberapa negara Asia.
Baca juga: Virus Nipah Menular dari Kelelawar ke Manusia, Ini Cara Penularan yang Perlu Diwaspadai
Kelelawar buah menjadi sumber penularan utama
Tangkapan layar webinar IDAI, Kamis (29/1/2026). Virus Nipah dikenal sebagai penyakit infeksi langka dengan tingkat kematian tinggi dan belum memiliki obat maupun vaksin.
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Kelelawar buah menjadi inang alami utama virus ini.
“Virus Nipah hidup secara alami pada kelelawar buah dan dapat berpindah ke manusia melalui berbagai jalur,” ujar Dominicus.
Selain kelelawar, penularan juga pernah terjadi melalui hewan lain seperti babi dan kuda, tergantung pada pola interaksi manusia dengan hewan di wilayah terdampak.
Baca juga: Belum Masuk Indonesia, Ahli Ingatkan Gejala Virus Nipah yang Tak Boleh Diabaikan
Penularan terjadi lewat cairan tubuh dan makanan terkontaminasi
Penularan virus Nipah ke manusia dapat terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh hewan terinfeksi, seperti air liur dan urine.
Buah yang terkontaminasi gigitan atau air liur kelelawar juga berisiko menularkan virus jika dikonsumsi.
“Buah yang terlihat masih layak tetapi sudah tergigit kelelawar sebaiknya tidak dimakan,” kata Dominicus.
Penularan antarmanusia juga dapat terjadi melalui kontak erat dengan pasien, terutama melalui cairan tubuh, sehingga tenaga kesehatan dan keluarga pasien termasuk kelompok berisiko.
Baca juga: Waspadai Demam Mendadak dan Cara Penularan Virus Nipah, Ini Kata Ahli Epidemiologi
Gejala awal mirip flu, kondisi bisa memburuk cepat
Gejala awal virus Nipah sering menyerupai infeksi virus pada umumnya. Pasien biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan rasa tidak nyaman.
“Pada tahap awal, Nipah sulit dibedakan dari penyakit lain karena gejalanya tidak khas,” ujar Dominicus.
Dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang cepat menjadi radang otak atau gangguan pernapasan berat yang berisiko fatal.
Angka kematian tinggi
Virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi. Data global menunjukkan angka kematian akibat virus Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen.
“Ini termasuk salah satu penyakit infeksi dengan tingkat kematian tertinggi,” kata Dominicus.
Kasus terbanyak terjadi pada usia produktif, namun anak-anak dan lansia tetap berisiko, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta.
Baca juga: Bukan Hanya di India, Ini Alasan Mengapa Indonesia Jadi Hotspot Alami Virus Nipah
Belum ada obat dan vaksin, pencegahan jadi fokus
Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin untuk virus Nipah. Penanganan pasien bersifat suportif, yakni meredakan gejala dan mempertahankan fungsi organ tubuh.
“Karena belum ada terapi spesifik, pencegahan menjadi langkah paling penting,” ujar Dominicus.
Langkah pencegahan meliputi mencuci tangan dengan sabun, mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi, menghindari buah bekas gigitan hewan, serta memastikan daging dimasak hingga matang.
IDAI menegaskan bahwa kewaspadaan berbasis informasi yang benar diperlukan agar masyarakat memahami risiko virus Nipah secara proporsional tanpa menimbulkan kepanikan.
Baca juga: Bukan Lima Kasus, Ini Penjelasan Resmi India Soal Situasi Terkini Wabah Virus Nipah
Tag: #virus #nipah #penyakit #mematikan #dengan #angka #kematian #hingga #persen