Potret Perjuangan Ahli Gizi di Lapangan: Antara Misi Kemanusiaan dan Hambatan Praktik
Potret ahli gizi di lapangan. (Ist)
12:55
25 Januari 2026

Potret Perjuangan Ahli Gizi di Lapangan: Antara Misi Kemanusiaan dan Hambatan Praktik

agi sebagian orang, menjadi ahli gizi mungkin hanya terlihat seperti menyusun daftar makanan atau menghitung kalori di atas kertas. Namun bagi Nahthadia Gita Sodrina, S.Gz, profesi ini adalah panggilan jiwa yang membawanya masuk ke gang-gang sempit hingga mengetuk pintu rumah warga yang nyaris kehilangan harapan.

Delapan tahun berkarier sebagai ahli gizi, Gita memahami satu hal. Gizi bukan sekadar soal angka, tapi soal keberlangsungan hidup manusia.

Minat Gita menjadi ahli gizi tumbuh dari rasa penasaran seorang bocah SD yang gemar membaca informasi nilai gizi di balik kemasan makanan. Siapa sangka, hobi kecil ini menuntunnya hingga akhirnya terjun penuh sebagai tenaga kesehatan di garda terdepan.

Namun, dunia kerja memberinya pelajaran yang tak ada di buku teks. Menjadi ahli gizi ternyata harus memahami anatomi, psikologi, hingga seni berkomunikasi.

"Hal penting yg harus diperhatikan adalah ketelitian tinggi, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan berkomunikasi baik secara lisan, maupun tulisan," tuturnya. Ia percaya, tanpa etika dan komunikasi yang baik, ilmu gizi hanyalah teori yang sulit menyentuh hati masyarakat.

Aksi "Jemput Bola" di Pelosok Bogor

Salah satu pengalaman paling emosional dalam perjalanan kariernya ialah saat ia bertugas di sebuah Puskesmas di Kabupaten Bogor. Ia bertemu dengan seorang batita yang kondisinya sangat memprihatinkan: gizi buruk, menderita Tuberkulosis, dan tinggal di hunian dengan sanitasi yang jauh dari kata layak.

"Waktu itu pasiennya emang ada kelainan paru-paru bawaan, dan orang tuanya juga kurang mampu. Jadi setelah lahir gak dirawat secara intensif dengan kontrol ke rumah sakit gitu juga engga, gak mau urus BPJS juga orgtuanya. Anaknya cuma dikasih susu formula padahal usianya sudah setahun, rumahnya gak layak, sanitasinya buruk, susu formula dikasihnya terbatas, lainnya dikasih teh manis," kenang Gita.

Tak mau berpangku tangan melihat nyawa yang perlahan meredup, Gita beserta tim mengambil langkah. Ia melakukan aksi "jemput bola". Gita mendatangi rumah mereka, mengurus BPJS, hingga mengantar jemput sang anak ke rumah sakit dengan tangannya sendiri.

"Aku rutin jg ke rumahnya seminggu bisa dua kali atau dia dijemput dibawa ke puskesmas kalau aku lagi gak bisa datang ke rumahnya," ungkapnya. Ketulusan itu pun berbuah manis. Status gizi sang anak perlahan pulih, seiring pulih penyakit TB yang diderita.

Kerikil Tajam di Jalan Profesi

Meski sarat dengan kepuasan batin, jalan yang ditempuh Gita tidak selalu mulus. Selain skeptisme masyarakat, ia kini harus berhadapan dengan tembok regulasi. Per 2024, lulusan S1 Gizi diwajibkan menempuh sekolah profesi tambahan untuk mendapatkan Surat Izin Praktik (SIP), sebuah aturan yang menurutnya memberatkan banyak rekan sejawat.

"S1 gizi harus sekolah lagi profesi, kayak apoteker gitu. Jadi susah aja berkembangnya, kasian kan yang sudah terlanjur masuk S1 gizi mungkin passionnya kerja di klinis kayak RS atau di puskes gitu tapi jadi gak bisa," keluhnya.

Baginya, ini adalah tantangan besar di tengah ambisi pemerintah menggencarkan program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Gita berharap, peran ahli gizi lebih diperkuat dalam kebijakan nasional, bukan justru dibatasi oleh birokrasi yang rumit.

Sukacita dalam Pengabdian
Walau beban kerja sering kali tak sebanding dengan penghargaan yang diterima, Gita tetap teguh. Baginya, melihat seorang ibu tersenyum karena anaknya kembali sehat, atau mendapatkan feedback positif dari pasien rumah sakit, adalah "upah" yang tak ternilai.

Ahli gizi, di mata Gita, adalah penyambung lidah kesehatan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena pada akhirnya, semua orang butuh makan, dan semua orang berhak untuk hidup lebih sehat.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah

Tag:  #potret #perjuangan #ahli #gizi #lapangan #antara #misi #kemanusiaan #hambatan #praktik

KOMENTAR