Lindungi Kesehatan Masyarakat, Penarikan Galon Tua dan Pelabelan BPA Didukung Ahli
– Keamanan galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC), khususnya yang berusia tua atau kerap disebut ganula, menjadi sorotan.
Ahli polimer dari Universitas Indonesia (UI) Profesor Mochamad Chalid pun mengingatkan risiko peluruhan Bisfenol A (BPA) pada galon yang telah digunakan dalam jangka panjang dan berulang.
Peringatan tersebut sejalan dengan investigasi Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) yang menemukan bahwa masih banyak galon lanjut usia (ganula) beredar di pasaran.
BPA dikenal sebagai endocrine disruptor yang dapat mengganggu sistem hormon dengan meniru estrogen.
Paparan BPA secara jangka panjang dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan reproduksi dan kesuburan, diabetes tipe 2, serta obesitas.
Tak hanya itu, BPA juga berisiko meningkatkan potensi sejumlah kanker, seperti payudara, prostat, dan usus besar, serta memicu gangguan perkembangan janin.
Chalid menjelaskan bahwa galon PC tersusun dari rantai polimer panjang yang dapat terputus seiring waktu berjalan. Paparan panas, proses pencucian, dan frekuensi penggunaan menjadi beberapa faktor penyebabnya.
“Pemutusan rantai itu dapat melepaskan BPA melalui proses leaching. Kalau ada rantai, pasti ada mata rantai. Ibarat kalung, ada mata rantai kalungnya. Nah, itu bisa terputus. Putusannya yang disebut dengan bagian kecil tadi itu disebut dengan leaching," ujar Chalid dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (19/1/2026).
Untuk meminimalkan risiko, Chalid mendorong untuk dibuat ketentuan batas aman penggunaan galon guna ulang.
Menurutnya, galon guna ulang sebaiknya hanya digunakan maksimal 40 kali atau setara satu tahun dengan asumsi satu minggu sekali diisi ulang.
Lebih dari itu, risiko migrasi BPA akan semakin tinggi. Sayangnya, investigasi lanjutan KKI di 60 kios Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), menunjukkan bahwa 57 persen galon berusia di atas dua tahun.
Bahkan, berdasarkan temuan KKI, masih ada galon produksi 2012 yang dipakai hingga saat ini. Selain itu, sebanyak 80 persen galon tampak buram dan kusam. Kondisi ini menjadi indikasi penurunan kualitas material.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dalam survei 2021 sampai 2022 di enam kota besar, BPOM menemukan paparan BPA dari galon guna ulang telah melampaui ambang batas aman.
Sayangnya, peraturan BPOM terkait label bahaya BPA baru berlaku pada 2028, meski sudah terbit sejak 2024. Oleh karena itu, Ketua KKI David Tobing mendesak regulator untuk bertindak cepat.
"Ketika BPOM menjalankan fungsi pengawasannya, ada temuan (paparan BPA melebihi ambang batas) dan masa penyelesaiannya empat tahun? Harusnya penyelesaiannya segera. Ini agar tidak melebar," ujar David.
Dengan dukungan peringatan ahli, data BPOM, dan temuan KKI, desakan untuk percepatan penarikan galon tua dari peredaran serta aturan pelabelan kian menguat.
Langkah tersebut dinilai penting untuk melindungi kesehatan masyarakat dari risiko paparan BPA yang membahayakan.
Tag: #lindungi #kesehatan #masyarakat #penarikan #galon #pelabelan #didukung #ahli