Tokenisasi Aset Dunia Nyata Tembus Rp 423 Triliun, RWA Jadi Tren Baru Investasi Kripto
- Tren tokenisasi aset dunia nyata atau Real World Asset atau RWA semakin menguat di industri kripto global sepanjang 2026. Narasi ini bahkan disebut sebagai salah satu motor penggerak siklus terbaru investasi cryptocurrency setelah sebelumnya pasar didominasi sektor DeFi dan NFT.
Secara konsep, tokenisasi merupakan proses mengubah hak kepemilikan suatu aset menjadi token digital yang tercatat di jaringan blockchain. Aset yang dapat ditokenisasi beragam, mulai dari saham, obligasi, komoditas, hingga properti.
Melalui mekanisme ini, aset konvensional dapat diperdagangkan secara lebih fleksibel dan transparan. Proses penyelesaian transaksi juga berpotensi menjadi lebih efisien karena tercatat secara digital di blockchain.
Berdasarkan data rwa.xyz, nilai tokenisasi RWA secara on-chain telah mencapai sekitar USD 25,03 miliar atau setara Rp 423 triliun. Pertumbuhan ini didorong meningkatnya partisipasi institusi keuangan global yang melihat blockchain sebagai infrastruktur baru pencatatan dan distribusi aset.
Isu tokenisasi RWA pun menjadi sorotan dalam berbagai forum internasional, termasuk konferensi Consensus di Hong Kong. Topik ini dinilai sebagai evolusi berikutnya dalam integrasi pasar keuangan tradisional dengan teknologi blockchain.
Di dalam negeri, ekspansi produk tokenisasi mulai terlihat di pasar kripto domestik. PT Pintu Kemana Saja atau PINTU menambah 10 tokenisasi aset global ke dalam aplikasinya sepanjang Februari hingga Maret 2026.
Platform investasi aset kripto tersebut telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. Kehadiran produk tokenisasi ini memperluas opsi diversifikasi bagi investor Indonesia.
“Token yang dilisting merepresentasikan sejumlah saham dan ETF global, yakni Mastercard (MAX), JPMorgan Chase (JPMX), Chevron (CVXX), Advanced Micro Devices (AMDX), iShares 20+ Year Treasury Bond ETF (TLTX), Eli Lilly (LLYX), iShares Core US Aggregate Bond ETF (AGGX), iShares Core MSCI EAFE ETF (IEFAX), UnitedHealth (UNHX), serta PepsiCo (PEPX),” kata Head of Product Marketing Pintu Iskandar Mohammad di Jakarta, Senin (23/2).
Melalui skema tokenisasi, investor kripto domestik dapat memperoleh eksposur terhadap saham perusahaan multinasional dan ETF obligasi global. Akses tersebut bisa dilakukan tanpa perlu membuka rekening sekuritas di luar negeri.
Seluruh aset diperdagangkan dalam format token berbasis blockchain di satu aplikasi. Model ini dinilai memudahkan integrasi antara investasi kripto dan instrumen keuangan tradisional.
Namun demikian, tokenisasi juga menghadirkan sejumlah catatan penting bagi investor. Tokenisasi saham umumnya merupakan representasi digital atas nilai aset, bukan kepemilikan langsung atas saham fisik sebagaimana pada bursa efek konvensional.
Struktur penerbitan token, mekanisme kustodian, serta likuiditas menjadi aspek krusial yang perlu dipahami sebelum berinvestasi. Transparansi informasi produk juga menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan.
Selain itu, volatilitas pasar kripto tetap menjadi risiko tersendiri. Hal ini berlaku meskipun aset dasarnya berasal dari instrumen keuangan yang relatif mapan.
Di sisi regulasi, pengawasan industri kripto di Indonesia kini berada di bawah OJK. Aspek perlindungan konsumen dan transparansi produk menjadi perhatian utama dalam pengembangan inovasi ini.
Dengan total lebih dari 300 aset kripto tersedia di platform tersebut, ekspansi tokenisasi mencerminkan upaya menjembatani pasar keuangan tradisional dan ekosistem blockchain. Ke depan, pertumbuhan RWA diperkirakan akan ditentukan oleh kesiapan infrastruktur, tata kelola, serta regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi keuangan digital.
Tag: #tokenisasi #aset #dunia #nyata #tembus #triliun #jadi #tren #baru #investasi #kripto