Kritik Impor Pikap India, Pengusaha Mesin Sebut Tak Sejalan dengan Kebijakan Strategis Nasional
Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) menyayangkan keputusan PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) melakukan impor kendaraan pikap untuk kebutuhan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Ketua Umum Gamma, Dadang Asikin mengatakan, keputusan impor Agrinas dilakukan di tengah komitmen yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto untuk mewajibkan penggunaan kendaraan nasional, termasuk Maung produksi PT Pindad, bagi pejabat dan institusi pemerintah.
Menurutnya, langkah impor tersebut mencerminkan inkonsistensi kebijakan dan melemahkan semangat kemandirian industri nasional.
Baca juga: Dasco Minta Impor 105.000 Pikap India Ditunda, Dirut Agrinas: Kami Manut Saja
"Di saat pemerintah mendorong penguatan TKDN, substitusi impor, serta keberpihakan terhadap produk dalam negeri, justru BUMN mengambil langkah yang berlawanan dengan arah kebijakan strategis nasional," ujar dia dalam keterangan tertulis, Senin (23/2/2026).
Dadang menilai keputusan impor tersebut berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap komitmen keberpihakan pada industri nasional.
Selain itu, melemahkan daya saing industri otomotif dan manufaktur dalam negeri.
Serta memberikan sinyal negatif kepada pelaku industri nasional yang sedang berjuang meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk.
Ia mengatakan, industri otomotif merupakan salah satu trigger dari industri pengerjaan logam dan mesin, di mana permesinan adalah bagian dari rantai pasok industri otomotif yang cukup signifikan.
Maka jika alasan impor didasarkan pada spesifikasi teknis, menurut Dadang, Agrinas perlu membuka secara transparan kajian teknis dan pertimbangan ekonominya kepada publik.
"Tanpa keterbukaan, keputusan tersebut patut dipertanyakan dan berpotensi mencederai semangat nasionalisme industri," kata dia.
Selain itu, Gamma juga mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengadaan kendaraan di lingkungan BUMN agar selaras dengan visi kemandirian industri dan arahan Presiden.
"Keberpihakan terhadap produk dalam negeri bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan konsisten," kata Dadang.
Secara khusus, ia menyebut, industri permesinan memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang besar terhadap perekonomian.
Kontribusinya berdampak langsung pada penguatan industri baja dan logam dasar, industri komponen kecil dan menengah, sektor pendidikan vokasi dan teknik, serta peningkatan penyerapan tenaga kerja terampil.
Dia bilang, setiap satu unit kendaraan yang diproduksi melibatkan ratusan komponen hasil rekayasa mesin dan tooling. Kondisi ini menjadikan industri permesinan sebagai fondasi penting bagi kemandirian industri nasional.
"Jika mesin, tooling, dan engineering dikuasai dalam negeri, Indonesia tidak hanya menjadi pasar otomotif, tapi menjadi basis produksi regional, bahkan mampu mengembangkan platform kendaraan sendiri. Tanpa industri permesinan yang kuat, industri otomotif akan terus bergantung pada desain dan teknologi luar negeri," pungkasnya.
Baca juga: Purbaya Pastikan Impor 105.000 Pikap untuk Kopdes Merah Putih Tak Bebani Fiskal
Tag: #kritik #impor #pikap #india #pengusaha #mesin #sebut #sejalan #dengan #kebijakan #strategis #nasional