PLTP Gunung Salak Jadi Ruang Belajar Praktik ESG Energi Bersih
Peserta kunjungan mengikuti pemaparan proses pembangkitan listrik panas bumi di PLTP Gunung Salak, Sukabumi.(DOK..UNSADA)
22:04
23 Februari 2026

PLTP Gunung Salak Jadi Ruang Belajar Praktik ESG Energi Bersih

Penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam operasional energi panas bumi menjadi sorotan dalam kunjungan akademik ke Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak di Sukabumi, Jawa Barat, pada 3 Februari 2026.

Kunjungan tersebut diikuti mahasiswa Program Studi Magister Teknik Energi Terbarukan Sekolah Pascasarjana Universitas Darma Persada (Unsada).

Tujuannya, guna melihat langsung proses pembangkitan listrik berbasis panas bumi yang dinilai berperan dalam mendukung transisi energi nasional sekaligus menekan emisi karbon melalui pemanfaatan energi bersih.

Baca juga: Tarif Disepakati, PLTP Ulubelu 30 MW di Lampung Ditargetkan Beroperasi 2027

Ketua Pelaksana Kegiatan Akhmad Muji Hartono mengatakan, PLTP Gunung Salak memiliki kapasitas produksi yang signifikan dalam bauran energi nasional.

PLTP Gunung Salak merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi saat ini lebih dari sekitar ±400 MW,” ujar Akhmad dalam keterangannya di Sukabumi, Senin (23/2/2026).

“Pembangkit ini berperan strategis dalam mendukung transisi energi nasional serta memberikan pengurangan emisi karbon melalui pemanfaatan energi bersih dan berkelanjutan,” lanjut dia.

Sebanyak 25 peserta yang terdiri dari mahasiswa magister lintas semester, sarjana, dan dosen pendamping mengikuti kunjungan tersebut.

Sebelum memasuki area operasional, peserta terlebih dahulu mendapatkan safety induction dari tim Star Energy Geothermal Salak Ltd guna memahami prosedur keselamatan kerja di lingkungan pembangkit.

General Manager PLTP Gunung Salak Irwan Januar memaparkan alur pembangkitan listrik panas bumi kepada peserta, mulai dari sumur produksi, proses pemisahan uap, turbin, generator, hingga sistem pengendalian beban di ruang kontrol.

Baca juga: Proyek Panas Bumi Lumut Balai Dipercepat, Sumsel Siap Tambah Daya

ESG dan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan

Melalui plant tour di area Plant AWI-1, peserta juga memperoleh pemahaman bahwa operasional pembangkit tidak terlepas dari tanggung jawab lingkungan hidup dan sosial di wilayah sekitar.

“Kami ingin ruang kuliah tak lagi bersekat dinding,” lanjut Akhmad.

Direktur Magister Teknik Energi Terbarukan Sekolah Pascasarjana Universitas Darma Persada As Natio Lasman menjelaskan, kunjungan ke PLTP Gunung Salak dirancang untuk menjembatani teori dan praktik.

"Dengan melihat langsung proses pembangkitan, mahasiswa tak sekadar memahami aspek teknis, tetapi juga menangkap gambaran besar, yakni bagaimana panas bumi menjadi salah satu kunci transisi energi nasional," ujarnya.

“Ini soal membentuk karakter profesional,” tambah pakar geothermal sekaligus dosen Unsada, Riki Firmandha Ibrahim.

Menurut dia, menyaksikan langsung budaya kerja di perusahaan seperti Star Energy memberi pelajaran bahwa kompetensi profesional perlu berjalan seiring dengan pemahaman nilai korporasi.

“Unsada ingin menjadi bagian dari solusi manajemen energi masa depan Indonesia,” tegasnya.

Lebih lanjut, kegiatan ini juga diarahkan untuk mendorong kolaborasi berkelanjutan antara akademisi dan industri, termasuk membuka ruang riset ESG di sektor panas bumi.

“Pengalaman dan data empiris ini akan menjadi referensi tesis dan publikasi ilmiah yang berkontribusi bagi teknologi geothermal nasional,” pungkas Akhmad.

Baca juga: Anak Usaha BREN, Star Energy Geothermal Tingkatkan Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Jabar

Pemanfaatan Panas Bumi Masih di Bawah Potensi

Di sisi lain, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Indonesia tercatat baru mencapai 11,5 persen dari total potensi nasional, meskipun kapasitas terpasangnya saat ini menempati posisi kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat.

Capaian tersebut memunculkan tantangan bagi industri panas bumi nasional dalam mengejar target bauran energi baru dan terbarukan sebagaimana tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai tingkat pemanfaatan tersebut masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan yang telah mengoptimalkan sumber daya panas bumi mereka.

“Filipina mampu memanfaatkan sekitar 48,07 persen dari total potensi panas buminya,” ujar Komaidi dalam paparannya, dikutip Senin (8/12/2025).

Dalam dokumen RUPTL 2025–2034, kontribusi energi baru dan terbarukan ditargetkan mencapai 51 persen atau 27,4 gigawatt hingga 61,3 persen atau 42,6 gigawatt dari tambahan kapasitas pembangkit listrik nasional, dengan penambahan kapasitas PLTP sebesar 5,2 gigawatt.

Meski memiliki keunggulan sebagai pembangkit yang tidak bergantung pada cuaca serta mampu beroperasi sebagai beban dasar dengan faktor kapasitas mencapai 90 hingga 95 persen, pengembangan PLTP masih menghadapi sejumlah kendala di tingkat pasar dan kebijakan.

Kondisi pasar listrik panas bumi yang monopsoni, di mana hanya terdapat satu pembeli listrik, dinilai turut memperlambat realisasi proyek karena banyak pengembang masih menunggu kepastian perjanjian jual beli listrik dan uap sebelum melanjutkan tahapan eksplorasi.

Tag:  #pltp #gunung #salak #jadi #ruang #belajar #praktik #energi #bersih

KOMENTAR