Januari 2026, Konsumsi Rumah Tangga Turun, Tabungan Meningkat
Ilustrasi optimisme konsumen meningkat(SHUTTERSTOCK/ODUA IMAGES)
16:24
9 Februari 2026

Januari 2026, Konsumsi Rumah Tangga Turun, Tabungan Meningkat

Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Januari 2026 menunjukkan dinamika menarik dalam perilaku keuangan rumah tangga.

Di satu sisi, keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tercatat menguat dan berada pada level optimistis.

Namun di sisi lain, proporsi pendapatan yang dibelanjakan untuk konsumsi justru menurun, sementara porsi tabungan meningkat.

Baca juga: Optimisme Konsumen Meningkat di Awal 2026

Ilustrasi konsumenThinkstockphotos.com Ilustrasi konsumen

Data BI mencatat, pada Januari 2026 rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi atau average propensity to consume ratio tercatat sebesar 72,3 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan Desember 2025 yang mencapai 74,3 persen.

Sementara itu, proporsi pembayaran cicilan atau utang terhadap pendapatan (debt installment to income ratio) sebesar 11,2 persen, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 10,8 persen.

Adapun proporsi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) tercatat sebesar 16,5 persen, meningkat dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 14,9 persen.

Perubahan komposisi ini menunjukkan adanya pergeseran alokasi pendapatan rumah tangga pada awal tahun 2026.

Baca juga: Perlindungan Konsumen di Tengah Jerat Kredit Macet

Porsi konsumsi menurun sekitar dua poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan porsi tabungan meningkat lebih dari satu poin persentase.

Penurunan rasio konsumsi pada sebagian besar kelompok pengeluaran

Ilustrasi belanja di supermarket.PEXELS/ Marianne Tang Ilustrasi belanja di supermarket.

Secara lebih rinci, penurunan proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi terjadi pada sebagian besar kelompok pengeluaran, yakni kelompok dengan pengeluaran Rp 1 juta hingga Rp 4 juta serta kelompok dengan pengeluaran di atas Rp 5 juta per bulan.

Pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta sampai Rp 2 juta, rasio konsumsi tercatat menurun dibandingkan periode sebelumnya. Tren serupa juga terjadi pada kelompok Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta dan Rp 3,1 juta sampai Rp 4 juta.

Kelompok dengan pengeluaran lebih dari Rp 5 juta pun mencatat penurunan rasio konsumsi.

Baca juga: Tren Belanja: Konsumen Indonesia Semakin Selektif

Kondisi tersebut menunjukkan, penyesuaian belanja tidak hanya terjadi pada kelompok berpendapatan rendah atau menengah, tetapi juga pada kelompok dengan tingkat pengeluaran lebih tinggi.

Dengan kata lain, kecenderungan menahan konsumsi pada Januari 2026 bersifat cukup merata lintas kelompok pengeluaran.

Sebaliknya, porsi pendapatan yang ditabung mengalami peningkatan pada sebagian kelompok pengeluaran. Peningkatan paling menonjol tercatat pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, dengan saving to income ratio mencapai 17,4 persen.

Kenaikan porsi tabungan pada kelompok ini menunjukkan adanya upaya memperkuat bantalan keuangan, terutama pada kelompok rumah tangga dengan tingkat pengeluaran relatif rendah.

Baca juga: Melihat Tren Konsumen Indonesia, Benarkah Bijak dalam Berbelanja?

Kenaikan saving ratio pada awal tahun juga terjadi di tengah stabilnya porsi pembayaran cicilan.

Rasio cicilan relatif stabil

Debt installment to income ratio pada Januari 2026 tercatat sebesar 11,2 persen, relatif stabil dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 10,8 persen.

Stabilitas rasio ini menunjukkan, beban cicilan rumah tangga secara agregat belum mengalami perubahan signifikan.

Ilustrasi utang.Freepik/skata Ilustrasi utang.

Dengan porsi cicilan yang cenderung konstan dan konsumsi yang menurun, ruang yang tercipta kemudian dialokasikan ke dalam tabungan. Hal ini tercermin dari kenaikan saving to income ratio menjadi 16,5 persen.

Baca juga: YLKI Nilai Skema Cicilan Tadpole Pinjol Berpotensi Rugikan Konsumen

Kombinasi antara penurunan rasio konsumsi dan peningkatan rasio tabungan tersebut menggambarkan adanya penyesuaian preferensi pengelolaan pendapatan pada awal tahun.

Meski konsumsi menurun, indikator keyakinan konsumen justru menunjukkan penguatan.

Indeks Keyakinan Konsumen meningkat ke level optimistis

Survei Konsumen BI pada Januari 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat. Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 yang berada pada level optimistis sebesar 127,0.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan IKK Desember 2025 yang tercatat sebesar 123,5. Dengan posisi di atas 100, indeks ini menunjukkan bahwa secara umum konsumen berada dalam zona optimistis.

Baca juga: Tiket Konser di Indonesia Mahal, Tak Ada Payung Hukum yang Lindungi Konsumen

Peningkatan keyakinan konsumen bersumber dari membaiknya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi terhadap kondisi ke depan.

Dua komponen utama pembentuk IKK, yakni Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), sama-sama berada pada level optimistis dan mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya.

IKE Januari 2026 tercatat sebesar 115,1, lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 111,4. Sementara itu, IEK tercatat sebesar 138,8, menunjukkan ekspektasi yang tetap kuat terhadap kondisi ekonomi mendatang.

Persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini menguat

Kenaikan IKE menjadi 115,1 pada Januari 2026 mencerminkan persepsi yang lebih baik terhadap kondisi ekonomi saat ini. Peningkatan tersebut bersumber dari kenaikan seluruh komponen pembentuknya.

Ilustrasi belanja, belanja di supermarket. PIXABAY/TUNG LAM Ilustrasi belanja, belanja di supermarket.

Baca juga: YLKI Sebut Konsumen Sektor Keuangan Paling Banyak buat Aduan, Penagihan Pindar Mendominasi

Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) tercatat sebesar 123,7, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 120,2. Kenaikan IPSI menunjukkan konsumen merasakan perbaikan pada tingkat pendapatan yang diterima.

Selain itu, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) juga meningkat menjadi 109,9 dari sebelumnya 106,5. Peningkatan ini mencerminkan persepsi yang lebih baik terhadap peluang kerja.

Komponen lain, yakni Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG), tercatat sebesar 111,8, lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 107,6.

Kenaikan IPDG menunjukkan persepsi yang lebih positif terhadap kemampuan atau kecenderungan membeli barang durable goods.

Baca juga: 99 Persen Aduan Konsumen 2025 Terkait Transaksi Online

Dengan seluruh komponen pembentuk IKE mencatat kenaikan, persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini secara agregat menjadi lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya.

Penguatan terjadi di sebagian besar kota

Secara spasial, sebagian besar kota mencatatkan peningkatan IKE pada Januari 2026. Peningkatan terutama tercatat di Semarang, Padang, dan Palembang.

Kenaikan di berbagai kota tersebut menunjukkan bahwa perbaikan persepsi ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada wilayah tertentu, melainkan terjadi secara relatif luas.

Kondisi ini sejalan dengan penguatan IKK secara nasional yang mencapai 127,0. Peningkatan pada level kota mendukung kenaikan agregat nasional, mencerminkan optimisme yang lebih merata di berbagai daerah.

Baca juga: Nilai Transaksi Kripto Turun Sepanjang 2025, Jumlah Konsumen Meningkat

Ekspektasi konsumen tetap tinggi

Ilustrasi belanja di supermarket atau pasar swalayan.UNSPLASH/HANSON LU Ilustrasi belanja di supermarket atau pasar swalayan.

Selain membaiknya persepsi terhadap kondisi saat ini, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan juga tetap kuat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang tercatat sebesar 138,8.

Posisi IEK yang jauh di atas 100 menunjukkan optimisme yang solid mengenai prospek ekonomi mendatang. Ekspektasi yang kuat ini menjadi salah satu penopang utama kenaikan IKK secara keseluruhan.

Dengan IEK yang lebih tinggi dibandingkan IKE, ekspektasi terhadap masa depan tercatat lebih optimistis dibandingkan penilaian terhadap kondisi saat ini.

Pola tersebut konsisten dengan kecenderungan survei konsumen sebelumnya, di mana ekspektasi biasanya berada di atas penilaian kondisi saat ini.

Baca juga: Kemendag Terima 7.887 Aduan Konsumen di 2025

Dinamika konsumsi dan tabungan di tengah optimisme

Meski IKK dan IKE menunjukkan penguatan, rasio konsumsi terhadap pendapatan justru menurun pada Januari 2026. Kondisi ini menunjukkan, optimisme tidak serta-merta diterjemahkan dalam peningkatan proporsi belanja terhadap pendapatan.

Penurunan average propensity to consume ratio dari 74,3 persen menjadi 72,3 persen menandakan adanya penyesuaian perilaku konsumsi.

Di sisi lain, kenaikan saving to income ratio menjadi 16,5 persen menunjukkan adanya peningkatan preferensi untuk menyimpan pendapatan.

Perubahan ini terjadi pada berbagai kelompok pengeluaran, terutama pada kelompok Rp 1 juta sampai Rp 4 juta serta kelompok di atas Rp 5 juta. Kenaikan rasio tabungan yang cukup menonjol pada kelompok Rp 1 juta sampai Rp 2 juta, yakni sebesar 17,4 persen, menunjukkan pergeseran yang relatif lebih kuat pada kelompok tersebut.

Baca juga: Walmart Kolaborasi dengan Gemini AI Permudah Konsumen Belanja

Sementara itu, stabilitas rasio cicilan pada kisaran 11 persen menunjukkan bahwa beban pembayaran utang belum mengalami tekanan signifikan secara agregat.

Gambaran komposisi pendapatan rumah tangga

Ilustrasi belanja, daya beli masyarakat. SHUTTERSTOCK/MINERVA STUDIO Ilustrasi belanja, daya beli masyarakat.

Jika dilihat secara komposisi, pada Januari 2026 dari setiap Rp 100 pendapatan yang diterima konsumen, sekitar Rp 72,3 digunakan untuk konsumsi, Rp 11,2 untuk membayar cicilan atau utang, dan Rp 16,5 disimpan.

Komposisi ini berbeda dibandingkan Desember 2025, ketika sekitar Rp 74,3 dialokasikan untuk konsumsi, Rp 10,8 untuk cicilan, dan Rp 14,9 untuk tabungan.

Perubahan distribusi ini menunjukkan adanya realokasi pendapatan dari konsumsi ke tabungan pada awal tahun. Kenaikan saving ratio yang cukup signifikan menjadi salah satu poin utama dalam survei periode ini.

Baca juga: Nilai Transaksi Kripto Turun Sepanjang 2025, Jumlah Konsumen Meningkat

Optimisme konsumen di awal tahun 2026

Dengan IKK sebesar 127,0, konsumen berada pada level optimistis yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan dari 123,5 menjadi 127,0 menunjukkan adanya penguatan sentimen dalam waktu relatif singkat.

Penguatan tersebut ditopang oleh membaiknya persepsi terhadap penghasilan saat ini, ketersediaan lapangan kerja, serta pembelian barang tahan lama. Ketiga komponen tersebut menjadi indikator penting dalam membaca kondisi ekonomi rumah tangga.

Pada saat yang sama, ekspektasi terhadap kondisi mendatang tetap tinggi, sebagaimana tercermin dalam IEK sebesar 138,8.

Data tersebut menggambarkan, pada Januari 2026, rumah tangga Indonesia menunjukkan keyakinan yang lebih kuat terhadap kondisi ekonomi, baik saat ini maupun ke depan.

Baca juga: Keyakinan Konsumen Turun Tipis Desember 2025, BI: Masih Level Optimis

Namun, dalam pengelolaan pendapatan, terjadi penyesuaian dengan menurunkan proporsi konsumsi dan meningkatkan tabungan, sementara porsi cicilan relatif stabil.

Dinamika ini menjadi gambaran kondisi psikologis dan finansial konsumen pada awal tahun 2026, sebagaimana tercermin dalam Survei Konsumen Bank Indonesia periode Januari 2026.

Tag:  #januari #2026 #konsumsi #rumah #tangga #turun #tabungan #meningkat

KOMENTAR