Moody’s Ubah Outlook 5 Bank Besar Indonesia Jadi Negatif, Peringkat Tetap Baa2
JAKARTA, KOMPPAS.com- Moody’s Ratings mengubah outlook dari stabil menjadi negatif terhadap lima bank besar di Indonesia.
Langkah ini mengikuti perubahan outlook peringkat sovereign Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Meski demikian, Moody’s tetap menegaskan peringkat kredit kelima bank tersebut di level Baa2 pada 5 Februari 2026.
Lima bank yang terdampak mencakup PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk.
Baca juga: BI dan OJK: Penurunan Outlook Moodys Tidak Cerminkan Fundamental RI
Moody’s menegaskan seluruh peringkat kredit utama kelima bank. Penegasan mencakup peringkat penerbit, simpanan, utang senior tanpa jaminan, Counterparty Risk Ratings, Counterparty Risk Assessments, Baseline Credit Assessment, serta Adjusted BCA jika berlaku.
Moody’s juga menegaskan peringkat surat utang subordinasi dan saham preferen Bank Negara Indonesia, serta program medium term notes Bank Mandiri.
Perubahan outlook ini mencerminkan outlook negatif pada peringkat sovereign Indonesia. Moody’s menilai peningkatan risiko terhadap kredibilitas kebijakan menjadi faktor utama.
Risiko tersebut terlihat dari menurunnya konsistensi dan prediktabilitas proses pembuatan kebijakan, serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif sepanjang satu tahun terakhir.
Moody’s mengingatkan, jika tren ini berlanjut, kredibilitas kebijakan Indonesia berpotensi melemah. Kondisi tersebut berisiko menggerus fondasi pertumbuhan ekonomi serta stabilitas makro, fiskal, dan sektor keuangan.
Meski begitu, peringkat Baa2 pemerintah tetap dipertahankan. Moody’s menilai ketahanan ekonomi, kekayaan sumber daya alam, serta faktor demografi masih mendukung pertumbuhan produk domestik bruto yang stabil.
Baca juga: Beda Lensa BI dan Moodys
Moody’s menegaskan, penurunan peringkat sovereign Indonesia akan langsung berdampak pada peringkat kelima bank.
Pada Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Central Asia, penurunan sovereign juga akan menekan Baseline Credit Assessment.
Dampak terhadap Bank Negara Indonesia dan Bank Tabungan Negara terutama berasal dari berkurangnya peningkatan peringkat atas dukungan pemerintah.
Pada Bank Mandiri, peringkat simpanan Baa2 dan BCA baa2 mencerminkan permodalan yang masih kuat, struktur pendanaan yang solid, serta profitabilitas yang tinggi.
Moody’s mencatat tekanan dari penurunan buffer modal, risiko kredit akibat pertumbuhan pinjaman sebelumnya, serta eksposur besar ke sektor komoditas dan sektor berisiko tinggi.
Rasio modal berbasis tangible common equity terhadap risk weighted assets diperkirakan turun ke kisaran 14,5 persen hingga 15 persen pada 2026.
Pada Bank Rakyat Indonesia, peringkat Baa2 dan BCA baa2 ditopang profitabilitas, permodalan, dan pendanaan yang sangat kuat.
Risiko aset tetap tinggi akibat eksposur besar ke segmen usaha mikro, kecil, dan menengah. Moody’s memperkirakan profitabilitas BRI menurun pada 2026 seiring penyempitan margin bunga bersih dan tingginya biaya kredit.
Pada Bank Negara Indonesia, peringkat simpanan Baa2 dan BCA baa3 mencerminkan permodalan yang kuat dan pendanaan yang stabil.
Moody’s menilai profitabilitas BNI lebih rendah dibandingkan bank sekelasnya. Risiko aset berasal dari portofolio kredit restrukturisasi dan eksposur ke badan usaha milik negara yang kondisi keuangannya lebih rentan. Peringkat BNI memperoleh peningkatan satu tingkat dari BCA karena probabilitas dukungan pemerintah dinilai sangat tinggi.
Pada Bank Central Asia, peringkat Baa2 dan BCA baa2 mencerminkan kualitas aset yang sangat kuat, profitabilitas tertinggi di antara bank domestik dan regional, serta posisi dominan di bisnis transaction banking.
Moody’s tetap menyoroti risiko dari pertumbuhan kredit yang cepat pada segmen korporasi dan usaha kecil dan menengah dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Bank Tabungan Negara, peringkat simpanan Baa2 dan BCA ba2 mencerminkan tingginya risiko aset, besarnya stok kredit restrukturisasi, serta tingkat pencadangan yang rendah dibandingkan profil risikonya.
Profitabilitas dan permodalan dinilai memberi bantalan yang terbatas. Namun, peringkat BTN mendapat peningkatan tiga tingkat dari BCA karena dukungan pemerintah yang sangat kuat. Dukungan ini mencerminkan peran strategis BTN dalam kebijakan perumahan nasional.
Dengan outlook negatif, Moody’s menilai peluang kenaikan peringkat kelima bank menjadi sangat kecil. Outlook dapat kembali stabil jika outlook sovereign Indonesia kembali stabil dan peringkat Baa2 tetap terjaga.
Sebaliknya, peringkat bank berpotensi diturunkan jika peringkat sovereign Indonesia turun atau jika terjadi pelemahan signifikan pada kualitas aset, permodalan, atau profitabilitas masing-masing bank. Moody’s menegaskan kondisi keuangan bank-bank Indonesia saat ini masih solid, meski tetap dibatasi risiko yang bersumber dari peringkat dan outlook sovereign.
Artikel ini sudah tayang di Kontan dengan judul Moody’s Ubah Outlook Lima Bank Besar Indonesia Jadi Negatif
Tag: #moodys #ubah #outlook #bank #besar #indonesia #jadi #negatif #peringkat #tetap #baa2