Maju Mundur Negosiasi Tarif AS dan RI, Sampai Mana?
- Nasib penandatanganan kesepakatan dari negosiasi tarif resiprokal dengan Amerika Serikat (AS) tampak belum juga menunjukkan titik akhir.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan saat ini semua perundingan sudah selesai, di mana dokumen legal drafting sudah 90 persen.
“Semua perundingan sudah selesai, legal drafting 90 persen, kita menunggu jadwal. Kita boleh tunggu di tanda tangan, karena yang menandatangani akan pemimpin negara," ujar Airlangga kepada awak media usai Indonesia Economic Summit di Jakarta pada Selasa (3/2/2026).
Ia menjelaskan, setelah proses tanda tangan kedua negara, kebijakan tersebut juga akan ditindaklanjuti melalui executive order di Amerika Serikat yang selanjutnya dilaporkan ke Kongres.
Baca juga: India dan AS Capai Kesepakatan Dagang, Tarif Turun Jadi 18 Persen
Sementara itu, untuk Indonesia, pemerintah akan menyampaikan perkembangan kebijakan tersebut kepada DPR.
Adapun Airlangga mengatakan, kesepakatan ini secara resmi akan ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.
Terkahir, pemerintah Amerika Serikat masih mengatur waktu yang tepat untuk menjadwalkan pertemuan antara kedua pemimpin negara.
Hasilnya sebelum akhir Januari 2026 akan disiapkan dokumen kesepakatan yang ditandatangani secara resmi.
Namun, hingga sekarang belum juga ada jadwal penandatanganan kedua belah pihak.
Airlangga mengaku sebelumnya dari hasil perundingan yang dilakukan dengan Ambassador United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer, telah disepakati tenggat waktu penyelesaian negosiasi tarif dagang kedua negara.
Selain itu, Airlangga menyebut, dalam kesepakatan perdagangan telah menghasilkan keputusan turunnya tarif resiprokal AS ke Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen.
Di mana AS meminta timbal balik dengan pembukaan akses untuk mendapatkan mineral kritis RI.
Sebagai gantinya, Indonesia memperoleh pengecualian tarif khusus untuk sejumlah produk unggulan ekspor, seperti kelapa sawit, kopi, kakao, dan komoditas lainnya yaitu teh.
"AS memberikan pengecualian tarif untuk produk unggulan kita, seperti sawit, kopi, teh. Dan tentunya Amerika sangat berharap untuk mendapatkan akses terhadap critical mineral," kata Airlangga saat konferensi pers dari Washington, pada Selasa (23/12/2025).
Baca juga: Harga Emas Dunia Hari Ini: Terpengaruh Ancaman Tarif dan Dollar AS