Menurut Kandidat Deputi Gubernur BI, Ini Penyebab Ekonomi Indonesia ''Letoy'' Selama 12 Tahun Terakhir
Asisten Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro usai mengikuti uji kelayakan dan kepatutan calon Deputi Gubernur BI di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (23/1/2026).(KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU)
09:40
24 Januari 2026

Menurut Kandidat Deputi Gubernur BI, Ini Penyebab Ekonomi Indonesia ''Letoy'' Selama 12 Tahun Terakhir

Selama lebih dari satu dekade, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia nyaris tak bergeser dari kisaran 5 persen.

Padahal di masa-masa sebelumnya, ekonomi Indonesia dapat tumbuh 7-8 persen, bahkan sempat mencapai 10,92 persen pada 1968.

Lalu apa penyebabnya ekonomi RI tidak bisa beranjak dari kisaran 5 persen?

Asisten Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro yang juga salah satu kandidat deputi gubernur BI ini menilai, kondisi tersebut mencerminkan persoalan struktural yang serius, terutama lemahnya basis industri nasional.

Situasi ini membuat Indonesia terjebak dalam middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah.

“Kenapa 12 tahun terakhir ini ekonomi kita kok, bahasanya itu letoy ya, masih 5 persen terus? Jadi memang ini identik kenapa kita ada ancaman middle income trap,” ujar Solikin saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan calon Deputi Gubernur BI di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Menurut Solikin, stagnasi pertumbuhan ekonomi yang berlangsung lebih dari satu dekade menunjukkan bahwa perekonomian nasional belum memiliki tenaga yang cukup kuat untuk melompat ke level pertumbuhan yang lebih tinggi.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa Indonesia masih berada dalam kelompok negara berpendapatan menengah dan belum terperosok ke kategori pendapatan menengah bawah.

“Kita masih bersyukur masih di dalam middle income yang memang tentunya tetap kita jangan puas diri,” kata Solikin.

Daya Saing

Salah satu faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi tertahan, lanjut Solikin, adalah struktur industri yang kian kehilangan daya saing.

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan era Orde Baru, ketika industri nasional aktif mendorong ekspor.

“Sekarang industri kita sudah obsolet. Itu kenapa kita itu jarum saja kita impor,” ujarnya.

Perilaku Konsumsi

Selain persoalan industri, pola konsumsi masyarakat juga dinilai tidak sejalan dengan kapasitas produksi dalam negeri.

Solikin menyebut, perilaku konsumsi masyarakat Indonesia cenderung menyerupai negara berpendapatan tinggi, dengan ketergantungan besar pada produk dan jasa impor.

“Kita berperilaku sebagai orang high income, dikit-dikit ke Starbucks. Kita itu semua kan impor jasa,” ucapnya.

Dongkrak pertumbuhan

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi sekaligus keluar dari jebakan pendapatan menengah, Solikin menekankan pentingnya percepatan hilirisasi industri.

Penguatan struktur industri diyakini mampu meningkatkan nilai tambah, memperluas ekspor, serta memperbaiki kinerja ekonomi secara berkelanjutan.

Selain hilirisasi, pendalaman pasar keuangan juga dinilai krusial guna memperkuat fondasi ekonomi nasional.

“Kita perlu tadi secara susunan mental, hilirisasi harus dipercepat, digerakkan, pasar keuangan juga harus diperdalam, instrumen-instrumen, dan juga berlaku kita di dalam kalau misalkan hedging dan sebagainya,” tuturnya.

Tag:  #menurut #kandidat #deputi #gubernur #penyebab #ekonomi #indonesia #letoy #selama #tahun #terakhir

KOMENTAR