Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Tembus Rp 300,3 Triliun, Sawit dan Tembaga Jadi Penyelamat
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (Nurul F/JawaPos.com)
15:45
9 Januari 2026

Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Tembus Rp 300,3 Triliun, Sawit dan Tembaga Jadi Penyelamat

- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat angka penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 300,3 triliun hingga Desember 2025.

Angka tersebut baru mencapai 99,6 persen dari target APBN 2025, atau hanya tumbuh 0,02 persen dibandingkan dengan realisasi tahun 2024.

"Penerimaan kepabeanan dan cukai Rp 300,3 triliun ini kira-kira 99,6 persen APBN, kira-kira sama dengan tahun 2024. Jadi tumbuh 0,02 persen," kata Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam Konferensi Pers APBN KiTA di Jakarta, dikutip Jumat (9/1).

Lebih rinci, Suahasil membeberkan bahwa penerimaan kepabeanan dan cukai terdiri atas cukai sebesar Rp 221,7 triliun, atau turun sebesar 2,1 persen.

Ia menyebut, penerimaan cukai hanya mencapai 90,8 persen dari target APBN dan terkoreksi karena turunnya produksi hasil tembakau sebesar 3 persen.

Kemudian, ia memastikan penerimaan negara 2025 ini tumbuh sebesar 0,02 persen didorong oleh penerimaan bea keluar yang mencapai Rp 28,4 triliun, atau tumbuh 36,1 persen.

"Bea keluar naik 36,1 persen didorong kenaikan harga CPO dan volume ekspor sawit serta relaksasi kebijakan ekspor konsentrat tembaga," beber Suahasil.

Sedangkan bea masuk tercatat turun 5,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan tercatat hanya mencapai Rp 50,2 triliun.

Ia menyebut bea masuk terkontraksi dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan impor dan meningkatnya utilitas FTA.

"Ini adalah dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan impor dan meningkatnya utilisasi dari free trade agreement kita," ujarnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari - November 2025 mencapai USD 256,56 miliar.

Angka tersebut tercatat naik sebesar 5,61 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa (BPS) Pudji Ismartini merinci nilai ekspor migas tercatat senilai USD11,81 miliar atau turun 17,64 persen.

Sedangkan nilai ekspor non-migas tercatat naik sebesar 7,07 persen dengan nilai USD 244,75 miliar.

Jika dilihat menurut sektor, peningkatan nilai ekspor non-migas secara kumulatif terjadi di sektor industri pengolahan dan sektor pertanian.

"Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor non-migas pada periode Januari hingga November 2025 dengan andil sebesar 10,41 persen," kata Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/1).

Lebih rinci, Pudji mengungkapkan bahwa ada beberapa komoditas ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar.

Yaitu minyak kelapa sawit, barang perhiasan dan barang berharga, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, logam dasar bukan besi, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya.

Di sisi lain, BPS juga membeberkan kinerja ekspor beberapa komoditas unggulan Indonesia selama Januari hingga November 2025 yaitu besi dan baja, batu bara serta CPO dan turunannya.

Menurut dia, total ketiga komoditas itu memberikan share sekitar 28,35 persen dari total ekspor non-migas Indonesia pada Januari hingga November 2025.

"Nilai ekspor besi dan baja naik 9,12 persen secara kumulatif, nilai ekspor batu bara turun 20,27 persen secara kumulatif dan nilai ekspor CPO dan turunannya naik 19,15 persen secara kumulatif," bebernya.

 

Editor: Bayu Putra

Tag:  #penerimaan #kepabeanan #cukai #tembus #3003 #triliun #sawit #tembaga #jadi #penyelamat

KOMENTAR