Dapur SPPG di Sukoharjo Beri Ruang dan Harapan bagi Pekerja Penyandang Disabilitas dan Ibu Tunggal
Latifah Kurniawati (26), warga Sukoharjo, Jawa Tengah/(Istimewa)
14:16
25 Februari 2026

Dapur SPPG di Sukoharjo Beri Ruang dan Harapan bagi Pekerja Penyandang Disabilitas dan Ibu Tunggal

Di tengah keterbatasan fisiknya, Latifah Kurniawati (26), warga Sukoharjo, Jawa Tengah, tak gentar dalam menghadapi kerasnya hidup. Di usia yang masih muda, ia sudah memikul tanggung jawab membantu ibunya memenuhi kebutuhan sehari-hari.   Sebelum bekerja di SPPG Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah, Latifah berjualan makanan secara online dari rumah. Ia menjajakan cilok dan jajanan lain dengan sistem pre-order. Penghasilannya tidak menentu, bergantung pada pesanan yang masuk setiap hari.   “Sistemnya PO, jadi sehari ada yang beli, sehari enggak. Kadang bisa 150,” kata Latifah saat ditemui di rumahnya yang tak jauh dari dapur MBG Polokarto, Senin (23/2).   Penghasilan yang tak pasti itu membuatnya terus berharap pada pekerjaan yang lebih stabil. Kesempatan datang ketika SPPG di dekat tempat tinggalnya membuka lowongan kerja. Awalnya sang ibu yang mendaftar. Namun karena usia tidak memenuhi syarat, Latifah menggantikan.   “Alhamdulillah diterima. Awalnya diwawancara, saya menjawab apa adanya, ya Alhamdulillah diterima,” kenangnya.  

  Latifah kemudian diterima sebagai petugas kebersihan di SPPG Polokarto. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan juga ruang untuk tumbuh dan membangun rasa percaya diri.   “Alhamdulillah senang banget bisa kerja di SPPG Polo Karta ini, karena tempatnya dekat, teman-temannya juga baik-baik,” tuturnya.   Latifah adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayahnya meninggal dunia saat ia masih duduk di bangku TK. Dua kakaknya kini merantau—satu di Sumatera dan satu di Sulawesi—sementara ia tinggal bersama ibunya.   Dari gaji yang diterimanya setiap bulan, Latifah kini dapat membantu kebutuhan makan sehari-hari di rumah. Ia pun merasakan kebahagiaan sederhana yang dulu terasa jauh dari jangkauannya.   “Alhamdulillah selama kerja di SPPG Polokarta ini, saya bisa membeli sepeda listrik impian saya ini dan bisa membantu ekonomi keluarga,” katanya.   Kisah inspiratif lainnya juga datang dari Nur Alisa, pegawai SPPG setempat. Alisa mengaku bekerja untuk keluar dari jeratan utang. Jangankan untuk membayar utang, untuk kehidupan sehari-hari saja dia selalu was-was.  

  Alisa sebelumnya berprofesi sebagai penjahit dengan penghasilan sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu dalam seminggu. Sementara, suaminya yang bekerja sebagai kuli bangunan berpenghasilan rata-rata per hari Rp 100 ribu.    Walaupun digabung, penghasilan mereka  belum cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga orang anak. Apalagi untuk mencicil melunasi utang.   “Sekarang saya kerja di SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/dapur MBG). Alhamdulillah, bisa sedikit melunasi utang sama bisa mencukupi kebutuhan anak, buat bayar sekolah,” kata dia.   Dia berharap program MBG ini tetap bisa terus berlanjut. Selain untuk kebutuhan nutrisi anak-anak Indonesia, kebutuhan sehari-harinya juga bisa terpenuhi.   “Mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas program ini. Bisa membantu ekonomi keluarga saya, bisa menyekolahkan anak saya. Alhamdulillah teman-temannya juga baik-baik semua,” kata Alisa.   Kisah lainnya juga datang dari Anissa Yuhotima (30). Sejak suaminya meninggal dunia, ia harus menjalani peran genda, sebagai ibu sekaligus tulang punggung keluarga bagi dua anaknya. Berbagai pekerjaan dilakoni demi sesuap nasi.    “Sudah 2 tahun ditinggal suami saya, meninggal. Anak saya 2, yang satu di Pondok, yang satu masih Balita,” kata Anissa di rumahnya, Desa Gondang, Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (23/2).   Untuk bertahan, Anissa mengambil pekerjaan menjahit dari rumah. Ia menerima jahitan dari konveksi rumahan dengan penghasilan yang tidak menentu. Bisa Rp50 ribu atau Rp60 ribu kalau pesanan lebih banyak.    Ia pun kini memilih tinggal bersama orang tuanya agar ia bisa fokus mencari nafkah dan anak-anaknya dititipkan kepada orang tuanya. Dengan kondisi serba terbatas, ia berusaha mencukupi kebutuhan keluarga seadanya. “Ya Alhamdulillah, di cukup-cukupin, mas”.   Kesempatan baru datang ketika dapur MBG di Polokarto membuka lowongan kerja. Anissa bergabung sebagai divisi pengolahan. Sejak saat itu, perlahan tapi pasti kondisi ekonominya mulai membaik.   “Sekarang Alhamdulillah, mas, ekonominya juga sudah membaik. Bisa mencukupi keluarga, bisa membantu orang tua juga. Bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, Alhamdulillah,” ucapnya penuh syukur   Bagi Anissa, bekerja di MBG bukan hanya soal penghasilan tambahan. Ia juga menemukan lingkungan kerja yang memberinya semangat dan pengalaman baru.   “Alhamdulillah, sampai sekarang enggak ada (masalah) mas. Senang banget, mas. Banyak teman, banyak pengalaman,” ujarnya.   Dari hasil kerjanya, ia kini mulai menyisihkan sebagian penghasilan untuk masa depan anaknya yang masih balita dan akan segera masuk sekolah. Ia mengaku sangat terbantu dengan kehadiran MBG.   “Alhamdulillah, terbantu sekali untuk orang-orang seperti saya, mas. Sangat terbantu, mas. Saya mau mengucapkan banyak terima kasih sama Bapak Prabowo,” ucapnya. Menurutnya, program ini layak untuk terus berlanjut karena memberi dampak nyata bagi masyarakat kecil.      

Editor: Mohamad Nur Asikin

Tag:  #dapur #sppg #sukoharjo #beri #ruang #harapan #bagi #pekerja #penyandang #disabilitas #tunggal

KOMENTAR