Kesaksian Warga Asing Saat Kerusuhan Kartel Pecah di Meksiko Jelang Piala Dunia 2026
Kurang dari empat bulan menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 di Estadio Akron, ketegangan luar biasa melanda wilayah Meksiko, khususnya di negara bagian Jalisco.
Meletusnya kekerasan kartel baru-baru ini telah memicu keresahan mendalam bagi warga lokal maupun komunitas ekspatriat yang menetap di sana.
Situasi keamanan di Meksiko kian menjadi sorotan global setelah operasi militer pada hari Minggu yang menewaskan gembong narkoba besar, Nemesio Ruben Oseguera Cervantes atau yang akrab disapa El Mencho.
Kejadian ini memicu aksi balasan brutal berupa pembakaran kendaraan, pemblokiran jalan raya, hingga baku tembak yang pecah di pemukiman warga di Guadalajara.
Meski suasana mencekam, keberanian pemerintah dalam mengambil kendali dalam hitungan jam memberikan sedikit napas lega bagi warga asing.
Baca juga: Tanggapan DFB soal Kekerasan di Meksiko Jelang Piala Dunia 2026
Salah satu warga asal India, Ipsita Saha, memberikan gambaran mengenai situasi di lapangan.
“Tidak ada satu pun warga sipil yang tewas (laporan selanjutnya menunjukkan hanya satu korban sipil di antara setidaknya 62 korban jiwa),” kata Ipsita Saha, warga yang telah menetap selama satu dekade di sana, dikutip dari The Telegraph India.
Senada dengan Ipsita, Ratul Ganguly, seorang profesional IT, menceritakan pengalamannya saat terjebak dalam situasi jam malam di Mazamitla.
Ia mengisahkan bagaimana suara senapan mesin dan ledakan terdengar jelas saat mereka mengunci diri di lantai atas sebuah penginapan, sementara pemandu wisata lokal berjaga di lantai bawah.
Keresahan juga dirasakan oleh suami Ipsita, Abhishek Ghosh, yang sedang berbelanja saat perintah pengosongan toko grosir Soriana dikeluarkan secara mendadak.
“Pertempuran yang menewaskan gembong narkoba itu terjadi 60 km dari tempat kami di Tapalpa," timpal Abhishek.
"Tetapi begitu diketahui bahwa kartel tersebut, melalui halaman media sosial mereka, telah bersumpah untuk membalas dendam di jalanan, semua toko mulai tutup."
Baca juga: Gianni Infantino Yakin Meksiko Masih Layak Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2026
"Kami diminta untuk membayar semua barang yang telah kami beli dan mengosongkan toko,” tambahnya.
Petugas memadamkan api di truk yang dibakar kelompok kriminal sebagai balasan tewasnya bos kartel narkoba Jalisco, Nemesio El Mencho Oseguera, di salah satu jalan utama di Zapopan, Negara Bagian Jalisco, Meksiko, Minggu (22/2/2026).
Meski berada 60 km dari pusat pertempuran di Tapalpa, ancaman balas dendam kartel di jalanan membuat seluruh aktivitas kota lumpuh seketika.
Andreas Retting Pikirkan Warga Meksiko
Kondisi ini memicu reaksi dari para petinggi sepak bola internasional. Direktur Pelaksana Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), Andreas Retting, secara terbuka mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap situasi perang yang terjadi di wilayah tersebut.
Pihak Jerman mengaku sulit untuk menantikan turnamen saat ini di tengah penderitaan warga.
“Sejujurnya, tidak untuk saat ini,” kata Retting ketika ditanya apakah ia menantikan Piala Dunia dikutip dari SI.
“Dengan gambar-gambar yang kita lihat dari Meksiko, pikiran saya tertuju pada semua warga Meksiko yang menderita akibat kerusuhan."
"Kita hanya bisa berharap situasi seperti perang ini segera mereda dan tidak semakin memburuk,” ujar Andreas Retting menegaskan posisinya.
Jaminan Keamanan dari Claudia Sheinbaum
Baca juga: El Mencho Tewas, Persiapan Meksiko Untuk Piala Dunia 2026 Tak Berhenti
Menanggapi alarm keamanan dunia, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mencoba meredam kepanikan melalui konferensi pers resmi.
Ia memastikan bahwa jalan raya kini telah aman untuk dilalui dan penjagaan ketat oleh Garda Nasional telah disiagakan di berbagai titik masuk kota.
Saat dikonfirmasi mengenai risiko bagi pengunjung selama turnamen berlangsung, Claudia Sheinbaum memberikan jawaban tegas untuk meyakinkan publik internasional.
“Tidak ada risiko, sama sekali tidak ada,” tuturnya singkat.
Terlepas dari trauma yang ada, antusiasme warga terhadap sepak bola tetap tinggi.
Abhishek Ghosh dan keluarganya tetap berkomitmen untuk menyaksikan laga secara langsung meski harga tiket tergolong fantastis.
“Tiketnya mahal, mulai dari 30.000 Peso. Satu peso setara dengan sekitar 5,30 Rupee India (setara Rp 29,3 juta). Namun, kami tidak bisa melewatkan kesempatan ini untuk menonton Piala Dunia di kota kami sendiri,” kata Abhishek.
Tag: #kesaksian #warga #asing #saat #kerusuhan #kartel #pecah #meksiko #jelang #piala #dunia #2026