Cegah Oversharing, Tanyakan 3 Hal Ini ke Diri Sendiri Sebelum Posting
– Media sosial kerap menjadi ruang untuk mengekspresikan perasaan, membagikan opini, hingga mencurahkan pengalaman pribadi.
Akan tetapi, tanpa kesadaran yang cukup, kebiasaan berbagi ini bisa berubah menjadi oversharing atau membagikan informasi secara berlebihan dan impulsif.
Padahal, setiap unggahan meninggalkan jejak digital yang tidak mudah dihapus dan dapat berdampak jangka panjang.
Baca juga: Kenapa Orang Gemar Oversharing di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikolog
Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya kesadaran penuh saat mengetik dan membagikan konten di media sosial.
Ia menyarankan agar seseorang berhenti sejenak dan melakukan refleksi diri sebelum menekan tombol share.
“Pastikan pas ngetik dan share-nya pun juga harus sadar. Ada tiga pertanyaan yang bisa ditanyakan ke diri sendiri sebelum klik tombol share ke media sosial agar tidak asal oversharing,” kata Winona saat dihubungi Kompas.com, Senin (23/2/2026).
Berikut tiga pertanyaan yang bisa menjadi filter sederhana namun krusial untuk cegah oversharing di media sosial.
3 Pertanyaan reflektif untuk cegah oversharing
1. Apakah ini sesuatu yang benar?
Pertanyaan pertama yang perlu diajukan adalah soal kebenaran informasi yang hendak dibagikan. Menurut Winona, makna “benar” tidak selalu bersifat tunggal dan absolut.
“Makna benar itu bisa macam-macam. Benar menurut kita, belum tentu benar menurut orang lain atau pandangan sosial,” jelasnya.
Dalam konteks media sosial, sebuah unggahan bisa saja terasa benar secara subjektif karena sesuai dengan perasaan atau sudut pandang pribadi.
Namun, ketika dibaca oleh orang lain dengan latar belakang dan perspektif berbeda, makna tersebut bisa bergeser atau bahkan menimbulkan kesalahpahaman.
Oleh karenanya, mempertanyakan kebenaran unggahan menjadi langkah awal untuk mencegah penyebaran informasi yang bias atau keliru.
Baca juga: Oversharing di Media Sosial, Haus Validasi atau Bentuk Minta Tolong?
2. Apakah ini perlu?
Filter kedua berkaitan dengan urgensi dan tujuan dari unggahan tersebut. Winona menekankan pentingnya menilai apakah informasi yang dibagikan memang perlu diketahui publik.
“Filter kedua yaitu menanyakan seberapa penting unggahan tersebut. Kira-kira apa tujuan dari unggahan tersebut?” ujar Winona.
Ia menjelaskan bahwa tujuan unggahan bisa beragam. Dengan menelaah tujuan ini, seseorang dapat lebih jujur pada dirinya sendiri.
“Dari unggahan tersebut bisa untuk mengedukasi, minta dikasihani, atau mencari pembenaran atas apa yang kamu lakukan,” katanya.
Apakah unggahan tersebut benar-benar membawa manfaat, atau sekadar dorongan emosional sesaat yang berpotensi disesali di kemudian hari.
3. Apakah ini baik?
Pertanyaan ketiga berkaitan erat dengan dampak jangka panjang dari unggahan di media sosial.
Winona menyebut filter ini perlu dianalisis lebih dalam dan tidak sekadar dijawab secara spontan.
“Filter ketiga ini kembali lagi ke poin pertama. Perlu dianalisis ke diri sendiri secara mendalam,” jelasnya.
Ia mengingatkan, media sosial menyimpan jejak digital yang bersifat permanen. Maka, kesadaran dan sikap bijak sebelum mengunggah sangat penting agar tidak menyesal di kemudian hari.
“Sebab jejak digital itu luar biasa kejam, apa yang sudah diunggah akan masuk ke memori database media sosial,” kata Winona.
Jejak digital tersebut tidak bisa sepenuhnya hilang, meskipun unggahan sudah dihapus.
Dengan membiasakan diri menanyakan tiga pertanyaan ini, seseorang dapat lebih sadar, terkontrol, dan bertanggung jawab dalam bermedia sosial.
Bukan untuk membatasi ekspresi diri, melainkan menjaga diri agar tetap aman, sehat secara emosional, dan terlindungi dari dampak negatif oversharing di ruang digital.
Baca juga: Oversharing di Media Sosial, Apa Dampaknya?
Tag: #cegah #oversharing #tanyakan #diri #sendiri #sebelum #posting