Dari Cikini ke Sudut TIM, Cerita Sehari Menjelajah Perpustakaan Jakarta
Bagian dalam Perpustakaan Jakarta yang berada di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. (KOMPAS.com/FAQIHAH MUHARROROH ITSNAINI)
14:07
16 Mei 2026

Dari Cikini ke Sudut TIM, Cerita Sehari Menjelajah Perpustakaan Jakarta

Siapa sangka, akhirnya hari ini saya memantapkan langkah untuk mengunjungi perpustakaan yang masuk ke nomor satu list perpus favorit versi saya. Kok bisa? Meski favorit, nyatanya tahun ini saya baru sekali berkunjung. 

Lantas bagaimana saya bilang itu merupakan perpustakaan favorit? Tenang, sabar. Semasa kuliah, terutama saat menginjak semester lima ke atas, saya sering berkunjung ke Taman Ismail Marzuki atau TIM. Kemudian mampir ke perpustakaan dan dibuat jatuh cinta karena banyak banget buku sastra bagus di sana. 

Baca juga: Pertama di Dunia, Toko Buku Tanpa Buku Resmi Dibuka di AS

Fasad bangunan perpustakaan dari luar (Dokpri/Latipah Rahman) Kompasiana Fasad bangunan perpustakaan dari luar (Dokpri/Latipah Rahman) 

Sejak saat itu, perpustakaan favorit nomor satu ya jatuh kepada perpustakaan Jakarta PDS (Pusat dokumentasi sastra) H.B. Jassin di kawasan TIM, tepatnya di gedung Ali Sadikin. 

Apalagi setelah direvitalisasi, mengagumkan sekali, tempatnya nyaman, co-working space makin banyak, area baca with a view pun tersedia banget. Bahkan jam buka nya lebih lama. Serta fasilitas penunjang lainnya pun mumpuni. 

Alamat perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin: Jln. Cikini Raya No. 73, Komplek Taman Ismail marzuki, Jakarta Pusat. 

Baca juga: Jelajah Toko Buku Paling Estetik di Malaysia, dari Sudut Lawas hingga Spot Instagramable

Hari Ini Saya Berhasil Mengulang Rasa dan Kenangan di Perpustakaan Serta Kawasan Taman Ismail Marzuki 

Ada banyak rencana kesana yang gagal berulang kali. Bukan karena saya malas, tetapi memang banyak kesibukan yang menyita waktu. 

Akhirnya, secara mendadak pagi tadi saya sempatkan buat explore perpustakaan Jakarta PDS H.B. Jassin. Berangkat dari stasiun Bogor sekitar pukul 10.00 WIB dan tiba di stasiun Cikini sekitar 11.15 WIB dan lanjut deh jalan kaki ke perpustakaan Jakarta. 

Sebetulnya, bisa naik Jaklingko. Turunnya di stasiun Gondangdia. Tetapi, dalam rangka mengenang masa kuliah yang memang sering jalan kaki, maka saya pilih jalan kaki. 

Sayangnya, suasana Cikini kali ini beda ya. Dulu, terbilang jalan kaki di area tersebut nyaman. Sekarang? Hmmm banyak narik nafas karena beberapa ojek online menerobos area pejalan kaki alias trotoar dan saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Rasanya ingin berteriak "woi, ini jalan buat pejalan kaki." 

Ada yang ngalamin hal serupa? Saya tanya beberapa teman, pendapat mereka serupa. Pejalan kaki di area tersebut memang rawan terganggu sama pengemudi ojek yang memaksa melalui area trotoar. Semoga segera ada tindakan tegas, karena berbahaya dan tidak nyaman buat pejalan kaki. 

Baca juga: Mengunjungi M Bloc ala Kuala Lumpur, Serasa Terjebak di Labirin Buku

Memutuskan Makan Siang dan Lanjut ke Masjid di Kawasan TIM 

Mungkin banyak yang tidak tahu, kalau di area lantai dasar gedung Ali Sadikin, alias bagian bawah area perpustakaan (yang beneran dasar) ada tempat makan, makanan di sini di dominasi sama masakan Nusantara.

Kedai tempat makan siang (Dokpri/Latipah Rahman)Kompasiana Kedai tempat makan siang (Dokpri/Latipah Rahman)

Saya berhenti di depan kedai SegoTu. Lalu melihat menu dan memesan seporsi Cumi Madura. Cumi hitam kalau di gambar menu sih. Kayaknya enak, saya pikir gitu ya. 

Lalu, menunggu beberapa menit. Dan menu lengkap datang. Isinya: nasi putih, tempe bumbu cabai merah, cumi hitam, sambal, dan lalapan. Porsinya mengenyangkan sekali, alhamdulillah. 

Makan dengan nikmat dan khidmat sekali. Tak lama, banyak orang yang duduk di meja sekitar lalu memesan. Kedai yang satu ini jadi paling ramai.

Setelah selesai makan, saya putuskan ke masjid karena sudah mulai ada azan Zuhur. Kondisi masjid sudah cukup ramai sama jamaah. 

Setelah selesai, saya lanjut jalan kaki menuju gedung perpustakaan Jakarta PDS H.B. Jassin. Di perjalanan saya kembali melihat-lihat area sekitar. Saya kuliah, saya suka menyempatkan waktu buat nonton teater di TIM. 

Baca juga: 4 Promo Bazar Buku di Jakarta Selatan, Beli 3 Bayar Rp 100.000

Bahkan saat Sujiwo Tejo perform dengan anak-anak UI, saya menonton saat itu tiketnya berbayar tetapi tidak begitu mahal. Tetapi pertunjukan nya sangat memukau. Saya cari-cari fotonya entah kemana, lupa dimasukkan ke folder sepertinya. 

Iya, dulu saat SMP dan SMK salah satu ekskul yang saya ikuti adalah teater hehehe. Herannya, dulu selalu dapat peran antagonis. Jadi belajar olah vokal, gestur, dkk. Guru teater pertama saat SMP namanya pak Mukhlis dan sering diajarkan dubbing juga. 

Jadi nostalgia banget deh hahaha. Ruang-ruang seni yang kreatif memang selalu menarik untuk dilirik dan tenggelam beberapa saat. Seperti ada dunia yang bisa diselami. 

Setelah selesai mengamati beberapa sudut di kawasan Taman Ismail Marzuki atau TIM, saya lanjut ke kawasan perpustakaan. Tepatnya area lantai pertama dengan menaiki tangga, lalu naik eskalator. 

Ternyata ekh ternyata ada keterangan tertempel kalau area lantai satu sudah full sama pengunjung, yang baru datang di sarankan ke lantai empat. 

Baca juga: Lokasi Kebun Binatang Pertama Ada di Cikini, Kenapa Pindah ke Ragunan?

Tiba di Perpustakaan Jakarta PDS H.B. Jassin, Lantai Pertama Full Dialihkan ke Lantai Empat

Efek berangkat terlalu siang, rupanya hari kamis perpustakaan Jakarta jadi primadona. Lantai satu dinyatakan full dan bisa mencoba registrasi di lantai empat. 

Syukurlah, lift di lantai satu cukup cepat mengantarkan ke lantai empat dan alhamdulillah rupanya saya masih kebagian kunci loker, artinya masih bisa masuk ke perpustakaan. Soalnya, setelah saya beberapa orang tidak bisa masuk karena loker full

Registrasinya cukup mudah, kebetulan saya memang anggota perpustakaan. Jadi, tinggal scan barcode dua kali. Pertama scan di area mesin depan pintu masuk dan kedua scan di area informasi. 

Setelah itu, mendapatkan kunci loker dan diingatkan untuk tidak membawa makanan ke dalam area perpustakaan. Terpenting, bawa tumblr dan laptop diperbolehkan sekali ya. 

Jadi, buat yang mau nugas, kerjain kerjaan, atau mau merampungkan tulisan, kalian bisa bawa tab ataupun laptop, tinggal pakai tas yang tersedia di loker. Jadi tas asli kalian bisa disimpan di loker, jangan lupa di kunci. 

Area dekat informasi lantai empat (Dokpri/Latipah Rahman)Kompasiana Area dekat informasi lantai empat (Dokpri/Latipah Rahman)

Di lantai empat, ada banyak koleksi sastra yang diabadikan dan tidak boleh disentuh. Ada juga mesin tik legendaris, terpajang rapi dan terjaga dengan tulisan don't touch

Lalu, saya menaiki eskalator. Setelahnya mencari buku-buku. Pas banget, saya emang lagi cari buku sastra. Mau cari referensi bacaan buat bikin cerpen misteri. Setelah menjelajah dari satu rak ke rak lainnya. Saya kagum deh, banyak banget lho buku sastra dari penulis terkenal, best seller, sastrawan legendaris. Bukan hanya buku sastra dalam negeri, banyak buku sastra luar negeri juga. 

Berdasarkan informasi dari kompas.com total koleksi Perpustakaan Jakarta PDS (Pusat dokumentasi sastra) H.B. Jassin sebanyak kurang lebih 382.497 koleksi. Tentu, bisa bertambah karena tahun 2026 ini ada donasi buku juga. 

Kemudian, PDS H.B Jassin menjadi referensi untuk penelitian sastrawan dunia. Maka tidak heran, sangat digandrungi sekali dan memang banyak koleksinya. 

Di area sastra banyak sekali kumpulan novel, cerpen, dan ada banyak koleksi buku-buku puisi. Menyenangkan, banyak buku para penulis besar yang meraih berbagai penghargaan. Lokal hingga Internasional. Amazing sekali ya. 

Setelah menemukan dua buku bacaan, saya mencari tempat duduk untuk membaca. Soalnya nyoba berdiri dua puluh menitan, kok rasanya pegal karena bawa laptop berat nih hehehe.

Baca juga: 6 Kuliner Cikini Terenak, Dari Kedai Kopi Klasik Hingga Resto Kekinian

Harusnya sih saya nggak kaget, kalau bangku-bangku tempat baca penuh. Bahkan area multimedia pun full. Orang dari lantai satu saja sudah dialihkan ke lantai empat, artinya pengunjung emang banyak. 

Alhasil, saya jalan menaiki eskalator menuju ke lantai lima. Dari ujung ke ujung, dengan penuh harap. Saya berjalan pelan, mengamati, adakah bangku kosong untuk saya tempati. 

Setelah mencari-cari, rupanya tidak ada juga nih. Jadi, saya naiklah ke lantai enam. Kebetulan, saya belum punya dokumentasi video ataupun foto perpustakaan Jakarta jadilah sekalian ngonten tipis-tipis.

Walaupun sering kesana, ternyata saya emang tidak ngonten sama sekali. Saking betah dan anteng banget kali ya. 

Akhirnya dapat tempat duduk (Dokpri/Latipah Rahman)Kompasiana Akhirnya dapat tempat duduk (Dokpri/Latipah Rahman)Alhamdulillah, pencarian tempat duduk untuk baca dua buku yang dibawa pun berhasil. Saya duduk di meja panjang yang berhadapan dengan orang lain. Ada satu kursi kosong. 

Kalau diperhatikan, rata-rata yang berkunjung, membaca dan nugas ini tuh kelihatannya generasi milenial dan generasi Z. Alhamdulillah, turut bahagia beneran adanya tingkat literasi sedang meningkat. Minat baca kian meroket. Semoga hal ini terus berlanjut. 

Di lantai enam, selain area baca, multimedia, rupanya ada ruang untuk beneran bekerja. Ada beberapa pengunjung yang sedang zoom meeting. Ada yang sedang diskusi. Disediakan meja, colokan charger. Cukup proper, tetapi duduknya lesehan. 

Saya tenggelam dalam bacaan buku yang diambil dari rak sastra. Di setiap rak, ada pengingat untuk mengambil maksimal dua buku saja. Tolong dipatuhi, supaya semua pengunjung bisa menikmati bacaan buku yang mereka incar. 

Sekitar dua jam saya tenggelam membaca full tanpa ada distraksi melirik handphone sama sekali, alhamdulilah beneran fokus nih. Setelah itu, saya berdiri untuk menggerakkan badan. Sekalian mencari spot berbeda. Supaya tidak pegal badannya. 

Area koleksi buku sastra di perpustakaan (Dokpri/Latipah Rahman)Kompasiana Area koleksi buku sastra di perpustakaan (Dokpri/Latipah Rahman)

Lalu, beruntung nih. Di lantai lima, saya dapat duduk yang menghadap ke area eskalator dengan pemandangan yang jauh lebih lapang. Tidak berhadapan dengan orang lain sama sekali. 

Yasudah, saya lanjutkan buku bacaan yang sempat terjeda. Sekitar satu jam, saya habiskan lagi untuk tenggelam diantara bacaan. Diimbangi dengan berimajinasi. Tampak ada sedikit ide-ide untuk bahan cerpen, walau masih raw banget. 

Melirik jam, rupanya sudah pukul 15.08 WIB. Maka, saya putuskan buat jelajah lantai: 6,5, dan 4 beberapa belas menit. Setelahnya, saya putuskan buat pulang. 

Koleksi buku Kejakartaan (Dokpri/Latipah Rahman)Kompasiana Koleksi buku Kejakartaan (Dokpri/Latipah Rahman)

Saya ingat, hari kamis, besoknya long weekend. Pasti penumpang KRL akan sangat padat pake banget. Kalau pulang sore atau malam, akan lebih parah lagi sih. 

Jadilah, saya pulang sekitar setengah empat sore lebih sedikit. Menunggu kedatangan jaklingko di halte Transjakarta. Tidak lama kemudian, kendaraan Rp0,- ini tiba dan saya menaiki dengan enjoy, tidak terlalu penuh rupanya. 

Ada inspirasi dan kebaikan yang selalu tampak di moda transportasi ini: yang paling dekat dengan mesin tap, dengan inisiatif akan bantu tap kartu semua penumpang. Tap in sekali, lalu di jeda buat tap out. Sederhana, tetapi dilakukan dengan senang hati. 

Tiba di stasiun Cikini, lanjut ashar dulu. Setelahnya barulah jalan menuju peron arah Bogor. Benar saja, KRL penuh banget sama penumpang dan full berdiri dari stasiun Cikini sampai stasiun Bogor. 

Akan tetapi, saya merasa bahagia karena bukan sekadar tenggelam di antara buku yang dipilih di perpustakaan. Tetapi, saya kembali menyusuri kawasan yang penuh kisah. Jadi tergambar jelas, momen saya menonton teater, melihat pameran lukisan, dkk. Menyenangkan dan menyegarkan sekali.

Hanya saja, menyesal tidak mampir ke planetarium. Padahal, dulu saya sering memesan tiket untuk menikmati keindahan yang disuguhkan. Meski terkadang malah ketiduran juga hahaha. 

Begitulah sedikit perjalanan ke perpustakaan Jakarta. Cukup ramah transportasi umum. Bisa turun di stasiun Cikini dan lanjut jalan kaki atau turun di stasiun Gondangdia dan lanjut naik jaklingko. Bisa juga naik Transjakarta, tinggal cek rutenya di google maps. 

Perpustakaan Jakarta, buka setiap hari kecuali tanggal merah. Di tanggal merah dan hari besar, mereka tutup. Jam buka nya sampai malam hari, tentu ini jadi fasilitas umum yang sangat bermanfaat serta digandrungi. Andai rumah saya berdekatan sama perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin pasti bakalan lebih sering mampir. 

Itulah, salah satu keuntungan bagi warga Jakarta. Punya fasilitas perpustakaan mumpuni dengan jam buka lebih panjang. Sekadar tips, saat berkunjung pastikan bawa tumbler air minum, supaya tidak kekurangan cairan.

Meski bisa jajan juga sih, hanya saja lebih kurangi penggunaan botol sekali minum tentu lebih bijak dan hemat pengeluaran. Kemudian, usahakan datang lebih pagi, supaya bisa dapat tempat nyaman dan bisa memilih. 

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Berkunjung ke Perpustakaan di Kawasan Seni yang Sangat Digandrungi"

Tag:  #dari #cikini #sudut #cerita #sehari #menjelajah #perpustakaan #jakarta

KOMENTAR