Teguran Keras dari LPDP hingga Wamen Stella buat Awardee yang Bangga Anak Jadi WN Inggris
Dwi Sasetyaningtyas, aktivis sosial dan juga awardee LPDP. (DOK. Instagram pribadi Dwi Sasetyaningtyas)
10:18
23 Februari 2026

Teguran Keras dari LPDP hingga Wamen Stella buat Awardee yang Bangga Anak Jadi WN Inggris

Kasus seorang awardee LPDP bernama Dwi Sasetyaningtyas ramai menuai kontroversi ketika memposting sesuatu yang merendahkan Indonesia, padahal dirinya sendiri menikmati beasiswa dari negara.

Mulanya, Dwi membuat konten di Instagram dan Threads miliknya.

Isinya mengenai anak keduanya yang resmi jadi WNA Inggris/British Citizen.

"Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan paspor kuat WNA," tulisnya dalam salah satu konten.

Netizen banyak geram, merasa narasi tersebut kurang bijak dilontarkan seorang awardee LPDP.

Banyak netizen yang merasa, sebagai awardee LPDP tidak patut menghina negaranya sendiri yang sudah membantunya untuk kuliah.

Baca juga: Stella Christie Sentil Penerima LPDP Viral Cukup Saya WNI: Beasiswa Amanah, Bukan Fasilitas

Masalah semakin membesar, ketika banyak netizen mengulik kehidupan pribadi awardee LPDP ini, termasuk dugaan suaminya yang belum menuntaskan kewajiban sebagai penerima LPDP.

LPDP tegur, suami terseret

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pun buka suara terkait polemik di media sosial mengenai Dwi yang viral setelah mengunggah video kebanggaan atas status kewarganegaraan Inggris anaknya.

Direktur Beasiswa LPDP Dwi Larso menyampaikan, pihaknya menyayangkan polemik yang dipicu oleh tindakan salah satu alumni berinisial DS.

“LPDP menyayangkan terjadinya polemik di media sosial yang dipicu oleh tindakan salah satu alumni, Saudari DS. Tindakan tersebut tidak mencerminkan nilai integritas, etika, dan profesionalisme yang ditanamkan LPDP kepada seluruh penerima beasiswa," kata Dwi Larso kepada Kompas.com, Sabtu (21/2/2026).

Dwi Larso menjelaskan, sesuai ketentuan, seluruh awardee dan alumni LPDP memiliki kewajiban melaksanakan masa pengabdian atau kontribusi di Indonesia selama dua kali masa studi ditambah satu tahun.

Baca juga: Kisruh Penerima LPDP, Wamen Stella: Beasiswa Negara adalah Utang Budi

Dalam kasus Dwi Sasetyaningtyas (DS) yang menempuh studi magister (S2) selama dua tahun, kewajiban kontribusinya adalah lima tahun.

"Sesuai ketentuan, seluruh awardee dan alumni LPDP memiliki kewajiban untuk melaksanakan masa pengabdian berkontribusi di Indonesia selama 2 kali masa studi + 1 tahun. Dalam kasus Saudari DS yang menempuh studi selama dua tahun, kewajiban kontribusi tersebut adalah lima tahun," jelasnya.

DS, lanjut Dwi, telah menyelesaikan studi S2 dan dinyatakan lulus pada 31 Agustus 2017, serta telah menuntaskan seluruh masa pengabdian sesuai ketentuan.

Dengan demikian, menurutnya LPDP tidak lagi memiliki perikatan hukum dengan DS.

"Meskipun demikian, LPDP akan tetap berupaya melakukan komunikasi dengan Saudari DS untuk mengimbau agar yang bersangkutan dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial, memperhatikan sensitivitas publik, serta memahamkan kembali penerima beasiswa LPDP mempunyai kewajiban kebangsaan untuk mengabdi pada negeri," ungkap Dwi.

Dwi juga menyinggung suami DS berinisial AP yang turut menjadi sorotan publik dan diketahui merupakan alumnus LPDP.

Baca juga: Stella Christie Sentil Penerima LPDP Viral Cukup Saya WNI: Beasiswa Amanah, Bukan Fasilitas

Menurut dia, AP diduga belum menyelesaikan kewajiban kontribusinya setelah menamatkan studi.

"LPDP saat ini melakukan pendalaman internal terkait dugaan tersebut. LPDP akan melakukan pemanggilan kepada Saudara AP untuk meminta klarifikasi, serta akan melakukan proses penindakan dan pengenaan sanksi sampai pengembalian seluruh dana beasiswa apabila terbukti bahwa kewajiban berkontribusi di Indonesia belum dipenuhi," terang dia.

Wamen Stella menyentil

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie menyentil Dwi Sasetyaningtyas yang viral karena konten "cukup saya WNI, anak jangan".

Stella mengingatkan bahwa beasiswa dari negara adalah amanah, bukan sekadar fasilitas.

"Kontroversi yang muncul belakangan ini pada dasarnya mencerminkan kegagalan pendidikan moral pada tahap awal kehidupan. Beasiswa tidak dipahami sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas. Di sinilah letak persoalannya," ujar Stella kepada Kompas.com, Minggu (22/2/2026).

Stella lantas bercerita, bahwa dirinya pernah dikecam netizen karena mengimbau penerima beasiswa S1 luar negeri Kemendikti Saintek untuk menganggapnya sebagai utang.

Baca juga: Suami Alumni LPDP Dipanggil Buntut Konten Bangga Anak WN Inggris, Seperti Apa Kewajiban Awardee?

Menurutnya, kenyataannya memang begitu, di mana setiap beasiswa dari negara adalah utang budi.

"Meski demikian, jawaban atas persoalan ini bukanlah dengan memperketat sistem beasiswa melalui lapisan demi lapisan pembatasan. Pembatasan yang berlebihan justru berpotensi menumbuhkan sikap sinis: penerima beasiswa menjadi kurang bersyukur kepada negara dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban," jelasnya.

"Yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan, memberi ruang bagi para penerima beasiswa untuk menemukan caranya sendiri dalam memberi manfaat bagi bangsa," sambung Stella.

Stella mengingatkan bahwa rasa terima kasih kepada Indonesia tidak selalu harus diwujudkan dengan segera pulang ke Tanah Air.

Dalam banyak kasus, kata dia, bertahan lebih lama di luar negeri hingga mencapai posisi berpengaruh justru membawa manfaat yang lebih luas bagi Indonesia.

Stella pun mencontohkan warga negara India yang berhasil menjadi CEO Google.

Baca juga: Gaduh Beasiswa LPDP, Anggota DPR: Jangan Sampai Hanya Dinikmati Kelompok Tertentu

"India adalah contoh nyata: sejumlah warganya menduduki posisi puncak di Silicon Valley, seperti Sundar Pichai, dan dari sanalah tercipta aliran investasi serta lapangan kerja bagi negaranya," ucapnya.

Lebih jauh, sebagai sosok yang juga lama berkontribusi dari luar negeri, Stella mengaku selalu lantang menyatakan identitasnya sebagai orang Indonesia.

Stella menyatakan dirinya bangga menyatakan kewarganegaraannya, demi memperkuat reputasi ilmuwan Indonesia di kancah internasional.

"Hampir semua ilmuwan diaspora Indonesia yang saya kenal menunjukkan dedikasi kuat untuk memberi kembali kepada Tanah Air dan membuka peluang bagi sesama. Semoga kita terbuka bahwasanya memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk," kata Stella.

Sementara itu, Stella turut memberikan tips untuk menumbuhkan rasa patriotisme.

Bagi penerima beasiswa negara, Stella meminta mereka fokus pada bagaimana bisa bermanfaat bagi individu-individu di Indonesia, lebih dari untuk institusi yang abstrak.

Fokus pada individu akan membuat mereka bernalar dengan lebih tajam.

"Bagi para orangtua, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri, gunakanlah bahasa Indonesia di rumah dan tanamkan kebanggaan berbahasa Indonesia kepada anak. Kemampuan berbahasa Indonesia tidak pernah menjadi beban, bahkan bisa menjadi senjata ampuh!" tegasnya.

Baca juga: LPDP Bakal Panggil Suami Alumni yang Viral Bangga Anak Jadi WN Inggris, Diduga Belum Jalankan Pengabdian

"Di keluarga saya, bukan hanya anak saya yang diwajibkan berbahasa Indonesia, tetapi suami saya yang berasal dari Polandia pun diharuskan bisa Bahasa Indonesia," imbuh Stella.

LPDP seharusnya bukan untuk orang kaya saja

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR Sarmuji mengkritik beasiswa LPDP selama ini mayoritas hanya dinikmati oleh orang kaya saja.

Sarmuji mengungkit berbagai persyaratan LPDP, yang membuat anak-anak miskin kesulitan memenuhi persyaratan tersebut.

“Saya sendiri pernah mengingatkan soal ini dalam rapat kerja (Komisi XI DPR) dengan Kementerian Keuangan pada awal tahun 2022. Saya sampaikan bahwa LPDP ini kalau tidak ada penekanan dan afirmasi yang jelas, akan menjadi lingkaran yang dinikmati oleh orang kaya saja,” ujar Sarmuji dalam keterangannya, Minggu (22/2/2026).

Sarmuji berpendapat, persoalan utama terkait LPDP adalah, struktur persyaratannya secara faktual lebih mudah dipenuhi oleh kelompok yang ekonominya sudah kuat.

“Kalau tidak ada afirmasi, yang akan menikmati hanya orang kaya, karena syarat-syarat itu berat sekali. TOEFL bahasa Inggris-nya sekian-sekian. Dan orang yang bisa memenuhi kriteria ini rata-rata pasti orang kaya,” tukasnya.

Baca juga: LPDP Sayangkan Tindakan Alumni Bangga Anak Jadi WN Inggris: Tidak Cerminkan Integritas dan Etika

Menurut Sarmuji, yang paling penting dari sebuah program beasiswa negara adalah potensi akademik penerima untuk mampu mengikuti pembelajaran yang berat di perguruan tinggi kelas dunia.

Dia mengamini bahwa standar akademik memang harus dijaga, tetapi hambatan bahasa, khususnya bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu, seharusnya bisa dibantu dan ditingkatkan melalui program persiapan atau afirmasi yang memadai.

“Yang utama itu potensi akademiknya, apakah dia mampu mengikuti pembelajaran yang berat. Soal bahasa itu bisa di-upgrade. Negara bisa hadir membantu. Tapi kalau dari awal yang bisa memenuhi hanya mereka yang memang sejak kecil sudah difasilitasi dengan sekolah dan kursus terbaik, ya akhirnya yang menikmati itu-itu saja,” kata Sarmuji.

Sarmuji menambahkan, kemampuan memenuhi standar akademik dan bahasa asing sangat dipengaruhi oleh latar belakang sosial-ekonomi.

Anak-anak dari keluarga mampu, kata dia, memiliki akses pada sekolah berkualitas dan kursus bahasa Inggris yang memadai, sementara anak-anak dari keluarga kurang mampu menghadapi keterbatasan besar.

“Orang kaya yang bisa menyekolahkan anaknya di sekolah yang bagus. Orang kaya yang bisa mengursuskan anaknya bahasa Inggris di tempat yang bagus. Kalau orang miskin tidak bisa. Mau gimana orang sekolahnya sambil jualan pentol. Tidak bisa. Sulit sekali kalau sekolahnya, kuliahnya, sambil jualan pentol, bahkan enggak sempat dia belajar secara intensif,” tuturnya.

Tag:  #teguran #keras #dari #lpdp #hingga #wamen #stella #buat #awardee #yang #bangga #anak #jadi #inggris

KOMENTAR