Kisruh Penerima LPDP, Wamen Stella: Beasiswa Negara adalah Utang Budi
Wamendikti Saintek Stella Christie saat ditemui di Istana, Jakarta, Kamis (15/1/2026). (KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA)
18:34
22 Februari 2026

Kisruh Penerima LPDP, Wamen Stella: Beasiswa Negara adalah Utang Budi

- Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamedikti Saintek) Stella Christie menegaskan bahwa beassiwa dari negara merupakan utang budi bagi setiap penerimanya.

Hal ini disampaikan Stella merespons kisruh penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas (DS) yang disorot warganet karena membanggakan anaknya mendapat kewarganegaraan Inggris.

"Saya pernah dikecam netizen ketika mengimbau penerima beasiswa S1 luar negeri Kemendikti Saintek bahwa beasiswa adalah utang. Namun kenyataannya memang demikian: setiap beasiswa dari negara adalah utang budi," ujar Stella kepada Kompas.com, Minggu (22/2/2026).

Baca juga: Gaduh Beasiswa LPDP, Anggota DPR: Jangan Sampai Hanya Dinikmati Kelompok Tertentu

Stella berpandangan, kontroversi yang muncul belakangan ini pada dasarnya mencerminkan kegagalan pendidikan moral pada tahap awal kehidupan.

Menurut dia, persoalan ini timbul karena penerima beasiswa tidak memandang beasiswa sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas.

"Meski demikian, jawaban atas persoalan ini bukanlah dengan memperketat sistem beasiswa melalui lapisan demi lapisan pembatasan. Pembatasan yang berlebihan justru berpotensi menumbuhkan sikap sinis: penerima beasiswa menjadi kurang bersyukur kepada negara dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban," kata Stella.

"Yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan—memberi ruang bagi para penerima beasiswa untuk menemukan caranya sendiri dalam memberi manfaat bagi bangsa," imbuh dia.

Baca juga: Apa Aturan Wajib Kembali ke Indonesia buat Penerima Beasiswa LPDP?

Lebih lanjut, Stella menilai, rasa terima kasih kepada kepada Indonesia tidak selalu harus diwujudkan dengan segera pulang ke Tanah Air.

Ia menyebutkan, dalam beberapa kasus, bertahan lebih lama di luar negeri hingga mencapai posisi berpengaruh justru membawa manfaat yang lebih luas bagi Indonesia.

Ia mencontohkan sejumlah warga India yang menduduki puncak di Silicon Valley, pusat perusahaan teknologi di Amerika Serikat, sehingga mampu menciptakan aliran investasi serta lapangan kerja bagi negaranya.

Baca juga: Pendidikan dan Kontribusi DS-AP, Pasutri Awardee LPDP Cukup Saya WNI

"Selama bertahun-tahun berada di institusi terkemuka di Amerika Serikat dan Tiongkok, saya berupaya tetap berkontribusi bagi Indonesia: membimbing mahasiswa Indonesia di universitas AS dan Tiongkok, berbicara di komunitas di Indonesia, serta menjembatani kerja sama antara institusi Indonesia dan lembaga pendidikan tinggi dunia," kata Stella.

Stella juga bercerita bahwa ia selalu lantang menyatakan identitasnya sebagai orang Indonesia, dan selalu bangga karenanya.

Menurut dia, rasa bangga itu memperkuat reputasi ilmuwan Indonesia di kancah internasional.

Stella juga menilai, hampir semua ilmuwan diaspora Indonesia menunjukkan dedikasi kuat untuk memberi kembali kepada Tanah Air dan membuka peluang bagi sesama.

Baca juga: 25 Syarat Daftar Beasiswa LPDP 2026, Apa Sanksi bagi Penerima yang Melanggar?

"Contoh-contoh baik ini perlu disorot. Prof Vivi Kashim di Tiongkok, Prof Sastia Putri di Jepang, Prof Haryadi di Amerika Serikat dan masih banyak lagi. Semoga kita terbuka bahwasanya memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk," kata Stella.

Di samping itu, Stella turut memberikan tips untuk menumbuhkan rasa patriotisme penerima beasiswa, yakni dengan fokus pada manfaat bagi individu-individu di Indonesia, bukan untuk institusi.

Menurut Stella, fokus pada individu akan membuat mereka bernalar dengan lebih tajam.

"Bagi para orangtua, baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri, gunakanlah bahasa Indonesia di rumah dan tanamkan kebanggaan berbahasa Indonesia kepada anak. Kemampuan berbahasa Indonesia tidak pernah menjadi beban, bahkan bisa menjadi senjata ampuh!" kata Stella.

"Di keluarga saya, bukan hanya anak saya yang diwajibkan berbahasa Indonesia, tetapi suami saya yang berasal dari Polandia pun diharuskan bisa Bahasa Indonesia," ujar dia.

Baca juga: Isi Permintaan Maaf DS, Alumni LPDP yang Pamer Paspor WNA Anaknya

Kisruh penerima beasiswa LPDP

Topik beasiswa LPDP kembali menjadi perbincangan warganet setelah seorang penerima beasiswa LPDP, DS, ramai disorot warganet karena memaparkan paspor anaknya yang telah resmi menjadi Warga Negara Asing (WNA).

Dalam videonya yang awalnya diunggah melalui akun Instagram pribadi, DS terlihat gembira anaknya telah resmi menjadi warga negara Inggris.

Menurut DS, cukup dia saja yang menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) anaknya tidak.

Ia juga menilai, perlu diperjuangkan paspor yang kuat untuk anaknya yakni paspor Inggris dibandingkan paspor Indonesia.

Namun video itu menuai respon kontroversi pro dan kontra di kalangan warganet mengingat DS dan suami AP ternyata kuliah S2 dan S3 dibiayai LPDP.

Belakangan, LPDP menyatakan bahwa AP belum menyelesaikan kewajiban melaksanakan masa pengabdian atau kontribusi di Indonesia selama dua kali masa studi ditambah satu tahun.

Di samping itu, meski DS sudah menyelesaikan kewajibannya, tindakannya dinilai tidak mencerminkan nilai integritas, etika, dan profesionalisme yang ditanamkan LPDP kepada para penerima beasiswa.

Tag:  #kisruh #penerima #lpdp #wamen #stella #beasiswa #negara #adalah #utang #budi

KOMENTAR