Meriam Oerlikon dan Rudal QW-3, Andalan Batalyon Penjaga Langit Yogyakarta
- Batalyon Artileri Pertahanan Udara 21 Pasukan Gerak Cepat (Yon Arhanud 21 Pasgat) yang berbasis di Kabupaten Sleman mempunyai dua alat utama sistem persenjataan (alutsista) andalan, yakni Meriam Oerlikon dan Rudal QW-3.
“Ya itu, sebenarnya meriam sama rudal. Senjatanya pokoknya di situ. Meriam yang ada di untuk pertahanan Hanud (Pertahanan Udara) itu adalah Oerlikon. Nah itu dari produksi Swiss,” kata Perwira Seksi Operasi (Pasi Ops) Arhanud 21 Pasgat, Kapten Tarju, saat ditemui di Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Rabu (11/2/2026).
Dalam kegiatan Press Tour Media Dirgantara, satuan penjaga langit Yogyakarta itu memperlihatkan Rudal QW-3.
Baca juga: Mengenal Arhanud 21 Pasgat: Garda Terdepan Pertahanan Udara Yogyakarta
Rudal tersebut berbentuk tabung panjang menyerupai pipa silinder dengan panjang lebih dari satu meter.
Seluruh badan rudal berwarna hijau zaitun khas militer, dengan beberapa komponen logam dan pengunci di bagian tengahnya.
Di salah satu ujungnya terdapat bagian peluncur yang lebih tebal, sementara ujung lainnya meruncing sebagai bagian hulu ledak.
QW-3 dipasang pada dudukan penyangga berwarna hijau yang kokoh, membuatnya terbentang horizontal di atas meja berlapis kain loreng.
Baca juga: Profil Brigade Parako 2 Pasgat, Pernah Terlibat Operasi Penting di Tanah Air
Di sampingnya terlihat perangkat bidik dan perlengkapan pendukung lain yang juga dicat dengan warna seragam.
Rudal ini memiliki jangkauan efektif hingga sekitar enam kilometer untuk sasaran udara jarak dekat, dengan sistem pencari panas (infrared).
Dalam latihan, kata Tarju, sistem tersebut terbukti efektif.
Sasaran berupa drone maupun flare yang diluncurkan sebagai simulasi serangan dapat dilumpuhkan.
Sayangnya, Batalyon Arhanud 21 Pasgat tidak memperlihatkan Meriam Oerlikon.
Meriam Oerlikon merupakan meriam otomatis (autocannon) buatan perusahaan asal Swiss, Oerlikon, yang umumnya digunakan sebagai senjata pertahanan udara jarak dekat (anti-pesawat).
Meriam ini banyak dipakai sejak Perang Dunia II hingga sekarang, terutama untuk pertahanan udara di kapal perang (naval gun), sistem pertahanan pangkalan militer, dan senjata pada kendaraan tempur tertentu.
Senjata penangkis serangan udara Oerlikon Skyshield Mark II yang disiagakan di Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat (11/11/2015)
Kaliber yang paling dikenal adalah 20 mm, meski ada juga varian 25 mm dan 35 mm.
Meriam Oerlikon bekerja secara otomatis dengan laju tembak tinggi untuk menghancurkan pesawat, helikopter, drone, atau target udara lain yang terbang rendah.
Saat ini, teknologi Oerlikon dikembangkan oleh Rheinmetall Air Defence dan menjadi bagian dari sistem pertahanan udara modern.
“Selama ini (QW-3) memang belum pernah digunakan dalam operasi perang. Tapi saat latihan, semua sasaran bisa kena,” ujar Tarju.
Baca juga: Pelan tapi Pasti, Alutsista Produksi Lokal Kian Menguat
Hingga kini, belum ada peristiwa luar biasa yang mengharuskan Arhanud 21 melakukan penindakan langsung.
Namun kesiapsiagaan tetap dijaga.
Menurut dia, prajurit harus selalu siap menghadapi perang meskipun dalam kondisi damai, agar tidak lengah ketika terjadi serangan. “Suatu negara, dikala dia siap kekuatan militernya kuat, maka negara asing akan memperhitungkan. Tapi kalau kita negara kita lemah militernya, alutsistanya, maka kita akan mudah diserang oleh negara asing,” ujar dia.
Apalagi, kata dia, Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah yang berpotensi menjadi incaran negara asing, sehingga kekuatan militer harus terus diperkuat untuk menghadapi potensi ancaman tersebut.
Tag: #meriam #oerlikon #rudal #andalan #batalyon #penjaga #langit #yogyakarta