Ekor Pesawat Dakota, Saksi Agresi Belanda Menyerang Bantuan Kemanusiaan
- Derap langkah kaki terdengar pelan menyusuri lorong Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Magowoharjo, Depok, Sleman, Rabu (11/2/2026).
Cahaya matahari yang merembes melalui celah jendela memantul di badan-badan pesawat yang terdiam, seolah membekukan waktu di ruang penuh sejarah itu.
Di antara deretan pesawat tempur dan baling-baling yang tak lagi berputar, ada satu sudut yang selalu membuat pengunjung memperlambat langkah.
Sebagian orang di ruangan memilih diam, sebagian lagi membaca keterangan dengan wajah tertunduk.
Di sinilah sisa ekor pesawat Dakota VT-CLA berdiri.
Bukan sekadar pajangan, melainkan saksi bisu sebuah tragedi kemanusiaan.
Baca juga: Meriam Oerlikon dan Rudal QW-3, Andalan Batalyon Penjaga Langit Yogyakarta
Siang itu, Kepala Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Kolonel Kal Christian Tri Aryono, berdiri di hadapan fragmen logam yang mulai termakan usia.
Tangannya menyentuh permukaan badan pesawat berkelir abu-abu tersebut.
“Ini asli, lho. Bapak dan Ibu, ini Dakota yang asli,” ujarnya kepada awak media dalam kegiatan Press Tour Media Dirgantara.
Kepala Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, Kolonel Kal Christian Tri Aryono saat ditemui di Museum Dirgantara Mandala, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, Rabu (11/2/2026).
Fragmen tersebut merupakan bagian dari pesawat Dakota VT-CLA milik Palang Merah India.
Pada 29 Juli 1947, pesawat itu terbang dari Bandar Udara Kalang, Singapura, membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Internasional untuk Palang Merah Indonesia.
Misinya jelas, kemanusiaan.
Namun ketika hendak mendarat di Pangkalan Udara Maguwo, kini Lanud Adisutjipto, tiga pesawat tempur P-40 Kittyhawk Belanda mencegatnya di udara.
Tanpa ampun, pesawat yang membawa lambang kemanusiaan itu ditembak.
Dakota VT-CLA jatuh dan terbakar di Desa Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Tragisnya, beberapa penumpang di pesawat VT-CLA itu ialah para pelopor dan perintis Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), kini TNI Angkatan Udara.
Mereka adalah Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof dr Abdurrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara Adisoemarmo.
Baca juga: Marsekal Muda Agustinus Adisutjipto, Penerbang Langka Pemrakarsa Sekolah Penerbangan
Bersama mereka gugur pula Pilot Alexander Noel Constantine, Co-Pilot Roy Hazelhurst, teknisi Bhida Ram dari India, Nyonya Noel Constantine, serta Zainul Arifin, Konsul Dagang RI di Malaka.
Hanya satu penumpang yang selamat, Abdul Gani Handonotjokro.
Di samping fragmen pesawat, terpajang foto-foto hitam putih yang jarang tersorot publik.
Kolonel Christian menunjukkannya satu per satu yang memperlihatkan badan pesawat yang hangus, mesin terlepas dari rangka, hingga kotak-kotak obat yang berserakan di tanah.
Peristiwa inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Bhakti TNI AU.
Kini, jejaknya menjalar hingga ke lokasi jatuhnya pesawat di Bantul.
Di sana kini berdiri Monumen Perjuangan TNI Angkatan Udara. Nama-nama korban diabadikan pada salah satu sisi tugu.
Di ujung selatan areal parkirnya, replika ekor Dakota dipasang, menghadap langit, seolah masih ingin terbang.
Baca juga: Mengenal Arhanud 21 Pasgat: Garda Terdepan Pertahanan Udara Yogyakarta
Komodor Muda Udara A Adisutjipto dan Komodor Muda Udara Prof dr Abdurrachman Saleh dimakamkan di kawasan itu.
Tanah tempat pesawat jatuh kini menjadi ruang hening untuk mengenang pengorbanan.
Kisah duka itu juga menaut pada sebuah bangunan tua di jantung Kota Yogyakarta, Hotel Tugu.
Menurut Kolonel Christian, hotel tersebut dahulu menjadi tempat tinggal para siswa Sekolah Penerbang (Sekbang) pertama AURI.
Di sanalah para pionir angkatan udara ditempa, belajar bermimpi tentang langit yang merdeka.
“Makanya dulu AURI disebut Priayi, karena di hotel. Hotel itu ini Pak. Hotel ini, Sekbang (Sekolah Penerbang) pertama tuh nginepnya di sini. Bapak Adisutjipto menginapnya di sini, sekalian siswanya 20 orang," ungkap dia.
Ironisnya, hotel yang menjadi saksi lahirnya para penerbang itu pula yang menjadi tempat jenazah korban Dakota disemayamkan.
Dari sana, iring-iringan jenazah diarak menyusuri Malioboro sebelum dimakamkan.
Yogyakarta kala itu menjadi lautan duka, rakyat berdiri di tepi jalan melepas para penjaga langit untuk terakhir kalinya.
Museum Dirgantara Mandala hari ini menyimpan 61 koleksi pesawat dan lebih dari 3.000 artefak lainnya.
Di antara koleksi itu terdapat N250 “Gatotkaca”, karya Presiden ke-3 RI B.J. Habibie sebagai simbol lompatan teknologi dirgantara Indonesia.
Namun di antara semua koleksi itu, fragmen Dakota VT-CLA tetap menjadi titik hening.
Di balik dinginnya logam yang tersisa, tersimpan cerita tentang misi kemanusiaan yang dibalas peluru, tentang pionir udara yang gugur, dan tentang sebuah bangsa yang tetap terbang meski sayapnya pernah patah.
Tag: #ekor #pesawat #dakota #saksi #agresi #belanda #menyerang #bantuan #kemanusiaan