Wall Street Terkoreksi Meski Data Pekerja AS Januari Solid
Ilustrasi Wall Street, bursa saham AS New York Stock Exchange. (UNSPLASH/DAVID VIVES)
07:00
12 Februari 2026

Wall Street Terkoreksi Meski Data Pekerja AS Januari Solid

- Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada Rabu (11/2/2026), sekaligus mengakhiri tren penguatan selama tiga hari terakhir.

Pelemahan terjadi meski laporan ketenagakerjaan Januari menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan, karena data tersebut tidak mampu mendorong kenaikan pasar secara berkelanjutan.

Mengutip CNBC Kamis (12/2/2026), Indeks Dow Jones Industrial Average turun 66,74 poin atau 0,13 persen ke level 50.121,40. Indeks S&P 500 terkoreksi tipis kurang dari satu poin menjadi 6.941,47. Sementara itu, Nasdaq Composite melemah 0,16 persen dan ditutup di 23.066,47.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) bertambah 130.000 pada Januari. Data ini sempat tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan AS yang berakhir pada 3 Februari. Angka tersebut jauh melampaui perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yakni 55.000 lapangan kerja. Selain itu, data Desember direvisi turun menjadi 48.000, sehingga kenaikan pada Januari terlihat jauh lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.

Baca juga: Data Ritel AS Loyo dan Isu AI, Wall Street Bergerak Variatif

Tingkat pengangguran tercatat sebesar 4,3 persen, sedikit lebih rendah dari perkiraan 4,4 persen.

Walau menjadi pertumbuhan lapangan kerja terkuat dalam lebih dari satu tahun, penambahan pekerjaan masih terkonsentrasi di beberapa sektor saja. Sektor kesehatan menjadi penyumbang terbesar dengan tambahan 124.000 posisi, atau sekitar dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan sepanjang 2025.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap potensi revisi turun masih membayangi, mengingat sepanjang 2025 hampir setiap bulan data ketenagakerjaan mengalami penyesuaian ke bawah. Jika memperhitungkan revisi tahunan dan bulanan, rata-rata pertumbuhan lapangan kerja tahun lalu hanya sekitar 15.000 per bulan.

Rick Wedell, Chief Investment Officer RFG Advisory, mengatakan data ini secara umum merupakan sinyal positif, tetapi belum cukup untuk menyatakan pasar tenaga kerja sepenuhnya pulih. Ia menilai kondisi saat ini lebih tepat disebut “bergerak ke arah yang benar”. Tingkat pengangguran memang membaik secara bertahap, namun masih banyak indikator yang menunjukkan pasar tenaga kerja tetap lemah, salah satunya tingkat pekerja yang mengundurkan diri yang masih rendah.

“Ini secara umum merupakan tanda yang baik, seperti yang bisa diperkirakan. Namun, kita jelas belum sepenuhnya keluar dari tekanan dalam hal pasar tenaga kerja. Menyebutnya sebagai ‘bergerak ke arah yang benar’ mungkin lebih tepat. Tingkat pengangguran memang membaik secara bertahap, tetapi masih banyak tanda bahwa pasar tenaga kerja tetap sangat lemah,” ujar Rick Wedell.

“Dalam kondisi seperti ini, jelas bahwa kita masih membutuhkan waktu cukup panjang sebelum pasar tenaga kerja dapat benar-benar dianggap ‘solid’ atau kuat,” tambahnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS sempat melonjak setelah laporan dirilis, karena pada awalnya memicu optimisme bahwa ekonomi berada di jalur yang kuat.

Pada level tertinggi sesi, Dow sempat naik lebih dari 300 poin atau 0,6 persen, S&P 500 menguat 0,7 persen, dan Nasdaq melonjak 0,9 persen. Namun, antusiasme tersebut mereda setelah peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral AS (The Federal Reserve) diperkirakan menurun. Prospek suku bunga yang tetap tinggi lebih lama dinilai bisa menjadi hambatan bagi pasar saham.

Laporan ketenagakerjaan ini dirilis sehari setelah data konsumsi menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan. Belanja konsumen pada Desember tercatat stagnan, tidak tumbuh, padahal ekonom memperkirakan kenaikan 0,4 persen secara bulanan.

Brad Smith, manajer portofolio di Janus Henderson Investors, mengatakan data ketenagakerjaan terbaru memberikan sinyal bahwa ekonomi masih cukup kuat, pasar tenaga kerja membaik, dan pertumbuhan upah dapat mendukung belanja konsumen.

“Setelah sekian lama para pengamat memperkirakan prospek ekonomi yang lesu karena melemahnya pasar tenaga kerja, data terbaru ini memberikan bukti yang kuat bahwa pertumbuhan ekonomi masih tangguh, pasar tenaga kerja membaik, dan pertumbuhan upah cukup mendukung belanja konsumen,” ucap Brad Smith.

Menurutnya, The Fed akan memasukkan data ini dalam pertimbangan saat menentukan kebijakan suku bunga bulan depan. Dengan pendekatan yang bergantung pada data, laporan ini dinilai memperbesar kemungkinan suku bunga tetap dipertahankan.

Di sisi sektoral, saham perangkat lunak kembali tertekan. Saham Salesforce turun 4 persen dan ServiceNow melemah 5 persen. ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) juga merosot lebih dari 2 persen dan kini hampir 30 persen di bawah posisi tertinggi dalam 52 minggu terakhir, serta telah memasuki fase pasar bearish bulan lalu.

Sebaliknya, saham-saham yang diuntungkan dari percepatan ekonomi serta pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan justru menguat. Saham penyedia infrastruktur digital Vertiv melonjak 24 persen setelah melaporkan laba kuartal keempat yang melampaui ekspektasi dan memberikan proyeksi kuat untuk 2026. Saham Caterpillar, GE Vernova, dan Eaton juga ditutup menguat pada sesi perdagangan tersebut.

Tag:  #wall #street #terkoreksi #meski #data #pekerja #januari #solid

KOMENTAR