Ketua PBNU Gus Yahya Sebut Seteru Internal Bukan Cuma soal Tambang
- Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf mengatakan, kisruh yang kemarin terjadi di tubuh NU bukan sepenuhnya karena masalah tambang, tapi ada hal-hal lain.
“Memang tambang menjadi salah satu faktor, tapi pasti bukan satu-satunya. Pasti bukan satu-satunya,” kata Yahya, dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Yahya mengatakan, permasalahan dan beda pendapat yang terjadi di internal NU sangat kompleks, tidak hanya soal tambang.
“Kompleks. Tambang bukan satu-satunya,” ujar dia.
Baca juga: PBNU Dorong Prabowo Berperan Aktif Dukung Palestina di Board of Peace
Namun, Yahya mengatakan, kondisi internal PBNU sudah rukun kembali, sejak pertemuan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur pada 25 Desember 2025 lalu.
Kerukunan itu semakin dikuatkan pada pertemuan pada Kamis (29/1/2026), di mana Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar mengembalikan status Yahya sebagai Ketua PBNU.
“Seperti saya kutip tadi, Pak Muhammad Nuh di dalam pertemuan kemarin sore di sini sudah menyerukan supaya semua ikut hadir di dalam resepsi puncak Harlah besok pagi. Insya Allah,” kata Yahya.
Dia menyinggung, islah NU ini merupakan aspirasi dari seluruh jajaran dan kader NU, termasuk yang paling bawah.
“Bahkan, sebelum pertemuan kemarin berlangsung. Jadi, memang aspirasinya kuat sekali supaya kita kembali lagi bersama, bersatu, menyelesaikan apapun yang menjadi tantangan kita ke depan bersama-sama,” ujar Yahya.
Baca juga: Semua Unsur NU Bakal Hadir di Harlah ke-100, Gus Yahya: Kami Sudah Guyub
Menjelang peringatan Harlah ke-100 besok, internal PBNU dikatakan sudah guyub kembali.
“Insya Allah besok, insya Allah semua akan berpartisipasi. Secara terbuka juga sebetulnya semuanya sudah menyatakan sudah kembali, guyub lagi, ya,” kata Yahya.
Islah PBNU
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima permohonan maaf Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atas kelalaian dan ketidakcermatan dalam mengundang narasumber dalam sebuah acara NU.
Penerimaan permohonan maaf tersebut dibacakan usai Rapat Pleno yang dipimpin Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan diikuti jajaran Syuriyah, Tanfidziyah, Mustasyar, dan A'wan serta Pimpinan Badan Otonom dan Lembaga PBNU.
"PBNU menerima permohonan maaf Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, atas kelalaian dan ketidakcermatan dalam mengundang narasumber AKNNU, serta terkait tata kelola keuangan PBNU yang dinilai tidak memenuhi kaidah akuntabilitas," kata Miftachul saat membacakan hasil keputusan pleno, dikutip dari keterangan pers, Jumat (30/1/2026).
Baca juga: Angkatan Muda NU Laporkan Pandji Pragiwaksono ke Polisi, Gus Ulil: Bukan Organ NU
Rapat pleno menghasilkan sejumlah keputusan strategis terkait kepemimpinan, tata kelola organisasi, serta agenda besar NU ke depan.
"Menerima pengembalian mandat KH. Zulfa Mustofa dari jabatan Penjabat Ketua Umum PBNU," ujar Miftachul.
Demi menjaga keutuhan organisasi Nahdlatul Ulama dan kemaslahatan yang lebih besar, rapat pleno memutuskan untuk meninjau kembali sanksi pemberhentian Yahya Cholil Staquf yang telah ditetapkan dalam Rapat Pleno tanggal 9 Desember 2025.
"Dengan keputusan tersebut, posisi KH. Yahya Cholil Staquf dipulihkan sebagai Ketua Umum PBNU," ucap Miftachul.
Tag: #ketua #pbnu #yahya #sebut #seteru #internal #bukan #cuma #soal #tambang