Uji Chip Otak Neuralink di Inggris Tunjukkan Visi Global Elon Musk tentang Masa Depan Kendali Pikiran dan Teknologi
Elon Musk dan Sebastian Gomez-Pena, relawan dalam uji klinis pertama di Inggris untuk implan otak Neuralink yang dikembangkan perusahaannya. (Foto: Sky News)
19:27
30 Januari 2026

Uji Chip Otak Neuralink di Inggris Tunjukkan Visi Global Elon Musk tentang Masa Depan Kendali Pikiran dan Teknologi

 

— Upaya para tokoh teknologi dunia untuk mendorong batas hubungan manusia dan mesin kini memasuki fase konkret. Setelah bertahun-tahun menjadi wacana futuristik, Neuralink—perusahaan neuroteknologi milik Elon Musk—mulai menguji chip otak pada manusia di Inggris. Uji klinis ini bukan sekadar eksperimen medis, melainkan cerminan visi global Musk tentang masa depan kendali pikiran, teknologi, dan otonomi manusia.

Salah satu relawan uji coba tersebut adalah Sebastian Gomez-Pena, mahasiswa kedokteran yang lumpuh dari leher ke bawah akibat kecelakaan. Dia menjadi satu dari tujuh peserta awal uji klinis Neuralink di Inggris. “Ini adalah perubahan besar dalam hidup, ketika Anda tiba-tiba tidak bisa menggerakkan satu pun anggota tubuh,” ujar Sebastian kepada Sky News. Dia menegaskan, teknologi seperti Neuralink memberinya harapan baru untuk kembali memiliki kendali, sesuatu yang sebelumnya nyaris tidak tersedia bagi penyandang kelumpuhan berat.

Menurut laporan Sky News, chip Neuralink ditanamkan melalui operasi selama sekitar lima jam di University College London Hospital (UCLH). Perangkat ini terhubung dengan 1.024 elektroda yang ditanam sekitar empat milimeter ke area otak yang mengendalikan gerakan tangan. Prosedur tersebut melibatkan ahli bedah Inggris dan insinyur Neuralink, dengan proses penanaman elektroda dilakukan oleh robot bedah R1 yang dikembangkan perusahaan tersebut.

Sinyal saraf dari otak kemudian dikirim secara nirkabel ke komputer dan diterjemahkan oleh perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan. Ketika Sebastian memikirkan gerakan tangan atau jari, sistem menerjemahkannya menjadi pergerakan kursor atau klik mouse di layar. “Sekarang, ketika saya memikirkan gerakan tangan, rasanya keren karena sesuatu benar-benar terjadi,” katanya. “Anda hanya memikirkannya, dan itu terjadi.”

Dalam demonstrasi langsung, Sebastian mampu membuka dokumen, menyorot teks, hingga membalik halaman makalah akademik dengan kecepatan setara pengguna mouse biasa. Kemampuan tersebut mengesankan tim medis. “Ini benar-benar mencengangkan. Anda bisa melihat tingkat kendali yang dia miliki,” kata Harith Akram, ahli bedah saraf UCLH sekaligus peneliti utama uji klinis Neuralink di Inggris.

Meski demikian, Neuralink menegaskan teknologi ini masih berada pada tahap awal. Perusahaan membutuhkan hampir satu dekade untuk mengembangkan chip, elektroda, robot bedah, dan sistem kecerdasan buatan yang memenuhi standar regulator. Setelah implan pertama di Amerika Serikat dua tahun lalu, kini total 21 orang di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Uni Emirat Arab telah menerima perangkat ini.

Seluruh peserta uji klinis mengalami kelumpuhan berat akibat cedera tulang belakang, stroke, atau penyakit neurodegeneratif seperti ALS. Namun, hingga kini, hasil uji coba tersebut belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi. Meski demikian, Akram menilai temuan awalnya menjanjikan. “Teknologi ini akan menjadi pengubah permainan bagi pasien dengan disabilitas neurologis berat,” ujarnya.

Sejalan dengan ambisi globalnya, Neuralink tidak hanya menargetkan pemulihan gerak. Perusahaan ini juga mengembangkan uji klinis pada area otak yang terkait kemampuan bicara, dengan tujuan memulihkan komunikasi pada pasien pascastroke. Beberapa pengguna bahkan telah mampu mengetik di papan ketik virtual atau mengendalikan lengan robot hanya melalui pikiran.

Elon Musk sendiri membayangkan cakupan yang lebih luas. Dalam sebuah acara tahun lalu, dia menyebut kemungkinan menghubungkan chip Neuralink dengan robot humanoid Optimus buatan Tesla. “Anda seharusnya bisa memiliki kendali penuh atas tubuh dan sensor dari robot Optimus,” kata Musk. “Pada dasarnya, Anda bisa menghuni robot tersebut.”

Meski potensi teknologi ini besar, pertanyaan soal keselamatan, privasi, dan implikasi etis tetap mengemuka. Neuralink masih harus membuktikan keamanan dan keandalannya melalui uji klinis berskala lebih besar sebelum dapat digunakan secara luas. Untuk saat ini, masa depan ambisi tersebut bertumpu pada keberanian para relawan—yang membuka jalan bagi bab baru hubungan manusia dan teknologi.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #chip #otak #neuralink #inggris #tunjukkan #visi #global #elon #musk #tentang #masa #depan #kendali #pikiran #teknologi

KOMENTAR