Pemerintah Ukraina Ngamuk Presiden FIFA Berencana Cabut Sanksi Rusia
Presiden FIFA Gianni Infantino bersama dengan bola resmi Piala Dunia 2026. FIFA resmi meluncurkan Trionda sebagai bola resmi Piala Dunia 2026. Bola Piala Dunia 2026 ini diperkenalkan di New York, Jumat (3/10/2025) WIB, dengan desain yang terinspirasi dari tiga negara tuan rumah, Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.(FIFA/Marcio Machado)
09:05
3 Februari 2026

Pemerintah Ukraina Ngamuk Presiden FIFA Berencana Cabut Sanksi Rusia

Presiden FIFA Gianni Infantino mengutarakan keinginannya untuk mengakhiri sanksi yang selama empat tahun membuat Rusia terisolasi dari kancah sepak bola dunia.

Larangan tersebut mulai diberlakukan setelah invasi Rusia ke Ukraina, yang membuat negara tersebut dilarang ambil bagian dalam kompetisi sepak bola internasional.

Sanksi resmi dijatuhkan FIFA pada 28 Februari 2022, kemudian diikuti oleh UEFA serta Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Baca juga: Pernyataan Presiden FIFA soal Seruan Boikot Piala Dunia 2026

Akibatnya, Timnas Rusia tak bisa tampil di ajang internasional maupun regional, sementara para atletnya juga kehilangan kesempatan berlaga di berbagai kompetisi olahraga dunia.

Meski begitu, tim Beruang Merah tetap diperbolehkan menjalani laga uji coba dan tetap mengumpulkan poin untuk peringkat FIFA.

Selain itu, hukuman juga diberlakukan kepada semua klub asal Rusia yang akhirnya tidak bisa mengambil bagian di kompetisi Eropa apapun.

Wacana Gianni Infantino Cabut Sanksi Rusia

Setelah berjalan empat tahun, Gianni Infantino kini memiliki rencana untuk mencabut sanksi tersebut.

Pria asal Italia itu menganggap pemberlakuan sanksi tersebut tidak memberikan manfaat apa pun, bahkan justru memperbesar rasa permusuhan.

"Kita harus melakukannya (mencabut sanksi, tentu saja). Karena sanksi ini tidak menghasilkan apa pun, justru malah menimbulkan lebih banyak frustrasi dan kebencian," ucapnya kepada Sky Sports akhir pekan lalu saat hadir di final Piala Champions Wanita.

Baca juga: Pendapatan Presiden FIFA Gianni Infantino Tembus Rp 100 Miliar

Infantino mengatakan jika sepak bola seharusnya menjadi alat untuk menyatukan bangsa.

"Jika anak perempuan dan laki-laki dari Rusia dapat bermain sepak bola di wilayah Eropa lainnya, itu akan sangat membantu," tambahnya.

Namun, keputusan untuk mencabut sanksi tetap akan bergantung pada kemajuan dalam pembicaraan perdamaian di Ukraina.

"Saat perundingan perdamaian di Ukraina sedang berlangsung, saya berharap kita dapat segera beralih ke tahap selanjutnya dan membawa kembali Rusia ke kancah sepak bola," pungkasnya.

Baca juga: Gianni Infantino Dilaporkan ke Komite Etik FIFA, Disebut Langgar Netralitas Politik

Sebelumnya, Presiden UEFA Aleksander Ceferin mengatakan jika sanksi Rusia akan dicabut jika perang berakhir.

"Ketika perang berhenti, [Rusia] akan diterima kembali," kata Aleksander Ceferin dikutip dari ESPN.

UEFA akan mengadakan pertemuan komite eksekutif akhir bulan ini, dan memiliki wewenang untuk mengawasi kembalinya negara tersebut ke kompetisi.

Artem Dzyuba merayakan gol bersama rekan-rekannya pada pertandingan Siprus vs Rusia dalam lanjutan kualifikasi Euro 2020, 13 Oktober 2019. AFP Artem Dzyuba merayakan gol bersama rekan-rekannya pada pertandingan Siprus vs Rusia dalam lanjutan kualifikasi Euro 2020, 13 Oktober 2019.

Protes Keras Pemerintah Ukraina

Menteri Olahraga Ukraina menyebut Gianni Infantino "tidak bertanggung jawab" dan bisa dibilang kekanak-kanakan" karena ingin mempertimbangkan pencabutan larangan Rusia dari sepak bola dunia.

Dengan Ukraina yang telah empat tahun berjuang menghadapi ancaman perang besar, pemerintah setempat bereaksi keras terhadap keinginan FIFA agar Rusia kembali berpeluang tampil di Piala Dunia.

"Kata-kata Gianni Infantino terdengar tidak bertanggung jawab - bahkan kekanak-kanakan. Kata-kata itu memisahkan sepak bola dari kenyataan di mana anak-anak dibunuh," kata Menteri Olahraga Ukraina Matvii Bidnyi kepada Sky Sports.

Baca juga: Apa Itu FIFA Peace Prize? Penghargaan Perdamaian Dunia dari Gianni Infantino

Bidnyi mengatakan ada lebih dari 100 persepakbola termasuk di antara lebih dari 650 atlet dan pelatih Ukraina yang dibunuh oleh Rusia.

"Perang adalah kejahatan, bukan politik. Rusia-lah yang mempolitisasi olahraga dan menggunakannya untuk membenarkan agresi. Saya sependapat dengan Asosiasi Sepak Bola Ukraina, yang juga memperingatkan terhadap kembalinya Rusia ke kompetisi internasional."

"Selama Rusia terus membunuh warga Ukraina dan mempolitisasi olahraga, bendera dan simbol nasional mereka tidak memiliki tempat di antara orang-orang yang menghormati nilai-nilai seperti keadilan, integritas, dan permainan yang adil," sambungnya.

Sebelumnya, Bidnyi dalam wawancara di Sky News mengkritik Komite Paralimpik Internasional karena mencabut larangan terhadap Rusia dan sekutu perang Belarus.

Tag:  #pemerintah #ukraina #ngamuk #presiden #fifa #berencana #cabut #sanksi #rusia

KOMENTAR