Inflasi Januari Jadi Ujian Psikologis Pasar Keuangan Indonesia
Pasar keuangan Indonesia bergerak dengan satu harapan utama usai rilis data Badan Pusat Statistik pada Senin (2/2/2026). Pelaku pasar menanti inflasi Januari tetap terkendali agar ruang stabilisasi rupiah dan sentimen aset domestik tidak semakin menyempit.
Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syarifudin Karimi mengatakan, konsensus analis mengarah pada inflasi bulanan yang sangat tipis. Angkanya diperkirakan sekitar 0,06 persen secara bulanan atau month to month, jauh lebih rendah dibanding lonjakan musiman Desember.
“Jika skenario ini terwujud, angka tersebut akan dipandang moncer oleh pasar karena menandakan tekanan harga di awal tahun relatif jinak dan tidak memaksa Bank Indonesia bersikap lebih ketat dari yang diperlukan,” jelasnya kepada Kompas.com, Selasa (3/2/2026).
Baca juga: BPS Catat Deflasi 0,15 Persen Per Januari 2026, Cabai-Bawang Merah Biang Keroknya
Syarifudin menilai pelaku pasar juga memahami potensi inflasi tahunan terlihat lebih tinggi. Kenaikan tersebut bukan dipicu lonjakan harga agresif, melainkan efek basis rendah pada Januari tahun lalu.
“Sehingga, fokus utama investor bukan semata headline inflasi, melainkan kualitas inflasi itu sendiri, apakah inflasi inti tetap tenang dan apakah gejolak pangan tidak melebar,” lanjutnya.
Rilis inflasi BPS kemudian berperan sebagai ujian psikologis. Pasar tidak mengejar inflasi serendah mungkin. Pelaku pasar lebih mencari inflasi yang mudah dijelaskan, konsisten dengan pola musiman, serta tidak memicu alarm baru terhadap arah kebijakan moneter.
“Ketika inflasi headline jinak dan inflasi inti stabil, pelaku pasar biasanya lebih berani memperbesar posisi di obligasi dan saham karena risiko pengetatan kebijakan terasa lebih terukur,” ucapnya.
Risiko berbeda muncul jika inflasi inti melonjak atau tekanan dari komponen volatile food bersifat menetap. Narasi pasar dapat berubah cepat. Situasi awal tahun yang tenang bisa bergeser menjadi kekhawatiran atas ruang manuver kebijakan yang makin sempit.
Perubahan sentimen semacam itu cenderung langsung menggerus optimisme. Dampaknya terasa lebih kuat saat rupiah masih sensitif terhadap dinamika global.
Baca juga: Jakarta Deflasi pada Januari 2026, Harga Pangan dan Transportasi Turun
Rilis inflasi pada akhirnya diharapkan mampu mengerek kepercayaan pasar terhadap Indonesia. Dampak positif tersebut tetap bersifat kondisional.
Data inflasi perlu memperkuat sinyal stabilitas harga sejalan dengan target inflasi Bank Indonesia. Risiko pengetatan mendadak berkurang dan premi risiko berpeluang turun.
Kepercayaan pasar juga jarang terbentuk dari satu data tunggal. Sentimen biasanya menguat ketika satu rilis menopang cerita besar tentang fundamental domestik yang cukup solid untuk meredam guncangan eksternal.
Tingkat inflasi Indonesia pada Januari 2026 tercatat meningkat secara tahunan. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi mencapai 3,55 persen secara year on year. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi Desember 2025 yang sebesar 2,92 persen.
Tag: #inflasi #januari #jadi #ujian #psikologis #pasar #keuangan #indonesia