''Hidden Gems'' Pariwisata Indonesia: Saatnya Lepas dari Bayang-bayang Bali
Wisatawan mulai padati kawasan Malioboro sejak sore hari, Senin (22/12/2025)(KOMPAS.COM/WISANG SETO PANGARIBOWO)
11:49
3 Februari 2026

''Hidden Gems'' Pariwisata Indonesia: Saatnya Lepas dari Bayang-bayang Bali

SELAMA puluhan tahun, pariwisata Indonesia hidup dalam satu imaji kolektif: Bali. Pulau ini bukan sekadar destinasi, melainkan identitas.

Dalam banyak brosur, kampanye internasional, bahkan cara negara ini memandang dirinya sendiri, Bali adalah Indonesia—dan Indonesia seolah cukup diwakili oleh Bali.

Namun, Rilis Badan Pusat Statistik (02/02/2026), data pariwisata tahun 2025 menyampaikan pesan yang jauh lebih berani: era Bali-sentris sedang memasuki fase senja.

Bukan berarti Bali runtuh, tapi dominasi tunggalnya mulai terdistribusi. Dan justru di situlah kabar baiknya.

Selama ini, alur kedatangan wisatawan mancanegara nyaris linier: luar negeri – Bali – selesai. Pola ini membentuk ketimpangan struktural dalam pariwisata nasional.

Infrastruktur, promosi, dan investasi menumpuk di satu titik, sementara daerah lain hanya menjadi “potensi” yang hanya tercatat di atas kertas akademisi.

Tahun 2025 mulai mematahkan pola itu. Bandara Ngurah Rai memang masih menjadi gerbang utama, tetapi pertumbuhannya—sekitar 9,5 persen—tidak lagi dominan.

Baca juga: Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global

Bandara S.A.M.S Sepinggan di Kalimantan Timur tumbuh di atas 100 persen. Hang Nadim Batam mendekati 84 persen.

Sementara BPS mencatat, Bandara Kualanamu, Zainuddin Abdul Madjid, Minangkabau, Sam Ratulangi, Sultan Iskandar Muda, dan Hasanuddin pertumbuhannya lebih tinggi dari Bandara Ngurah Rai.

Ini bukan sekadar angka; ini adalah indikator perubahan perilaku global.

Wisatawan internasional mulai masuk langsung ke wilayah yang selama ini dianggap “pinggiran”. Artinya, Indonesia tak lagi dipersepsi sebagai satu etalase, melainkan gugusan pengalaman.

Ini kemajuan konseptual yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam dokumen perencanaan.

"Hidden gems" dan munculnya pusat-pusat alternatif

Jika pintu masuk internasional mulai menyebar, pergeseran paling radikal justru datang dari wisatawan nusantara.

Fenomena pencarian hidden gems dalam pariwisata Indonesia menandai perubahan selera wisatawan yang semakin dewasa.

Wisata tidak lagi semata tentang destinasi populer dan foto ikonik di tempat yang sama, melainkan tentang pengalaman yang lebih personal, autentik, dan masuk akal secara biaya.

Di titik inilah wisatawan mulai melirik alternatif di luar Bali—mencari “surga kecil” yang masih asri, tenang, dan ramah di kantong. Ini perubahan orientasi.

Wisatawan Indonesia—terutama generasi muda—mulai mencari sesuatu yang tidak bisa ditawarkan Bali: lanskap liar, keheningan, relasi yang lebih intim dengan budaya lokal, dan rasa “menjadi penjelajah”, bukan sekadar turis.

Mereka ingin pengalaman, bukan hanya latar foto. Fenomena ini menandai lahirnya narasi baru: Indonesia tidak lagi dijual sebagai “surga tropis”, tetapi sebagai ruang petualangan dan keberagaman autentik.

Baca juga: Di Balik Kalimat Berjuang Mati-matian Jokowi di Rakernas PSI 2026

Data tingkat penghunian hotel memberikan sinyal yang tak bisa diabaikan. Bali mengalami penurunan tingkat hunian hotel bintang secara tahunan sebesar -2,83 persen poin.

Sementara itu, DI Yogyakarta justru mencatatkan tingkat hunian tertinggi nasional. Bahkan, kenaikan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) tercatat di Riau naik 4,01 persen poin, NTB naik 3,56 persen poin, NTT naik 5,27 persen poin, Kalimantan Barat naik 5,33 persen poin, serta Kalimantan Tengah meningkat 3,18 persen poin secara tahunan. Ini bukan soal kalah atau menang antardaerah. Ini soal redistribusi minat.

Pergeseran ini membawa pesan penting bagi peta pariwisata nasional. Indonesia tidak kekurangan destinasi; yang berubah adalah arah pencarian wisatawan.

Dari Bali-sentris menuju Indonesia-sentris. Dari keramaian menuju kualitas pengalaman. Dari simbol prestise menuju nilai.

Hidden gems di berbagai daerah—dari pesisir timur Sumatera hingga gugusan timur Indonesia—menjadi bukti bahwa keindahan tidak harus mahal dan populer untuk layak dikunjungi.

Bahkan dari sisi lokalitas, banyak desa yang bermetamorfosa menjadi desa-desa wisata.

Menurut catatan Jaringan Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Parekraf, ada sebanyak 6.189 desa wisata yang tersebar dari Aceh sampai Papua.

Jawa Timur mencatat 622 desa wisata, Sumatera Barat 566, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan masing-masing 538, bahkan Jawa Barat 447.

Bandingkan dengan Bali yang “hanya” memiliki 171 desa wisata. Fakta ini menegaskan satu hal penting: surga wisata Indonesia tidak tunggal, dan jelas tidak hanya Bali.

Inilah fondasi kuat mengapa wisatawan mulai berburu hidden gems di luar Bali. Mereka tidak sedang “tersesat”, justru sedang membaca peta baru pariwisata Indonesia.

Desa wisata tumbuh masif di wilayah-wilayah yang selama ini luput dari sorotan—dari Sumatera Utara (306 desa) hingga Nusa Tenggara Barat (275) dan Sulawesi Tenggara (234).

Artinya, pilihan wisata yang murah, asri, dan autentik kini jauh lebih banyak dan tersebar merata.

Sementara itu, wisatawan mulai sadar bahwa pengalaman budaya, kota yang ramah pejalan kaki, kuliner yang membumi, dan sejarah yang hidup bisa ditemukan di luar Bali—tanpa kepadatan, tanpa harga yang terdistorsi, dan tanpa rasa “diproduksi massal”.

Menuju Pariwisata Indonesia-Sentris

Semua data ini mengarah pada satu kesimpulan penting: pariwisata Indonesia sedang menemukan dirinya sendiri. Tidak lagi bergantung pada satu ikon, satu pulau, atau satu narasi.

Namun, pergeseran ini tidak akan otomatis membawa keadilan dan keberlanjutan. Tanpa kebijakan yang cermat, daerah-daerah baru bisa mengulang kesalahan lama: eksploitasi berlebihan, peminggiran masyarakat lokal, dan kerusakan lingkungan.

Baca juga: Politik Saling Mengunci di Balik Reformasi Polri

Bali tidak perlu ditinggalkan agar Indonesia maju. Justru sebaliknya: Bali akan lebih sehat ketika tidak lagi menanggung beban representasi nasional sendirian.

Era baru pariwisata Indonesia bukan tentang mengganti Bali, melainkan membebaskan Indonesia dari ketergantungan pada satu wajah.

Data 2025 menunjukkan bahwa proses itu sudah dimulai—diam-diam, organik, dan digerakkan oleh pilihan wisatawan sendiri.

Jika dikelola dengan bijak, tren ini justru membuka peluang pemerataan ekonomi daerah. Wisatawan yang datang dengan niat menikmati, bukan mengeksploitasi, memberi ruang bagi pariwisata berkelanjutan: homestay lokal tumbuh, UMKM hidup, budaya dihargai, dan alam tetap terjaga.

Hidden gems menjadi jembatan antara kebutuhan wisatawan dan harapan daerah—bukan jalan pintas menuju kerusakan, melainkan jalan sunyi menuju keseimbangan.

Pada akhirnya, pencarian hidden gems adalah kabar baik. Ia menandakan bahwa wisatawan Indonesia dan dunia mulai sadar: surga tidak selalu berada di pusat sorotan. Kadang ia justru menunggu di pinggir peta—lebih murah, lebih hijau, dan lebih jujur.

Tag:  #hidden #gems #pariwisata #indonesia #saatnya #lepas #dari #bayang #bayang #bali

KOMENTAR