Inflasi Januari Naik ke 3,55 Persen, Pemerintah Nilai Bersifat Sementara
– Tingkat inflasi Indonesia pada Januari 2026 tercatat meningkat secara tahunan.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi mencapai 3,55 persen secara year on year, lebih tinggi dibandingkan inflasi Desember 2025 sebesar 2,92 persen.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menilai kenaikan tersebut bersifat sementara. Lonjakan inflasi tidak mencerminkan tekanan harga berlebihan.
Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi efek basis rendah pada awal tahun lalu. Febrio menjelaskan, pada Januari hingga Februari 2025 pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik. Kebijakan tersebut membuat tingkat harga berada di bawah tren normal.
Baca juga: Inflasi Januari Jadi Ujian Psikologis Pasar Keuangan Indonesia
Dampaknya terlihat pada perbandingan inflasi tahunan Januari 2026 yang tampak lebih tinggi.
“Peningkatan inflasi ini utamanya dipengaruhi oleh basis yang rendah pada awal tahun lalu dan bersifat temporer. Tekanan harga diperkirakan akan kembali normal pada Maret,” ujar Febrio dalam keterangan resmi, Selasa (3/2/2026).
Data BPS menunjukkan lonjakan inflasi tahunan paling besar terjadi pada kelompok harga diatur pemerintah atau administered prices. Kelompok ini naik dari 1,93 persen secara tahunan pada Desember 2025 menjadi 9,71 persen pada Januari 2026. Kontribusinya cukup signifikan terhadap inflasi tahunan.
Kondisi berbeda terlihat pada pergerakan harga bulanan. Januari 2026 mencatat deflasi sebesar 0,15 persen secara month to month. Penurunan harga dipicu koreksi sejumlah komoditas pangan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi. Kelompok ini turun 1,03 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,30 persen.
Komoditas yang paling dominan menekan harga antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, serta telur ayam ras.
Penurunan harga pangan tersebut ikut menekan inflasi komponen harga bergejolak atau volatile food. Inflasi volatile food turun tajam menjadi 1,14 persen secara tahunan dari 6,21 persen pada bulan sebelumnya.
Baca juga: Inflasi Tahunan Januari 2026 Capai 3,55 Persen, Ini Penyebabnya
Sementara itu, inflasi inti tercatat meningkat menjadi 2,45 persen secara tahunan. Kenaikan inflasi inti terutama dipicu lonjakan harga emas perhiasan. BPS mencatat harga emas perhiasan tumbuh sekitar 76,5 persen secara tahunan.
Selain emas, sewa rumah dan sejumlah jasa juga memberikan andil terhadap inflasi inti.
Febrio menegaskan pemerintah terus mencermati perkembangan inflasi ke depan. Perhatian diberikan pada tekanan yang bersumber dari faktor global dan dinamika cuaca.
Langkah pengendalian harga, khususnya komoditas pangan, terus diperkuat melalui pengamanan pasokan dan kelancaran distribusi.
“Pemerintah berkomitmen menjaga inflasi tetap terkendali sesuai sasaran, terutama inflasi pangan pada kisaran 3–5 persen. Upaya menjaga daya beli masyarakat juga terus dilakukan melalui berbagai stimulus dan penguatan koordinasi pusat dan daerah,” kata Febrio.
Pemerintah menilai stabilitas harga tetap terjaga. Kondisi tersebut dinilai tidak mengganggu momentum pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional pada awal 2026.
Tag: #inflasi #januari #naik #persen #pemerintah #nilai #bersifat #sementara