India dan AS Capai Kesepakatan Dagang, Tarif Turun Jadi 18 Persen
Hubungan ekonomi antara India dan Amerika Serikat (AS) memasuki fase baru pada Senin (2/2/2026).
Kedua negara mencapai kesepakatan dagang yang diumumkan secara resmi oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Kesepakatan ini mencakup perubahan tajam dalam struktur tarif impor AS terhadap barang-barang India dan komitmen New Delhi terkait pasokan energi, terutama pembelian minyak mentah.
Baca juga: Ekspor Batu Bara RI Diprediksi Menurun, Permintaan China dan India Melandai
Ilustrasi Bendera India. Daftar negara dengan penduduk terbanyak di dunia 2024.
Pengumuman ini terjadi setelah periode panjang ketegangan dalam hubungan dagang kedua negara, yang bermula dari tindakan tarif tinggi dan perbedaan pandangan atas kebijakan luar negeri serta keamanan energi.
Dikutip dari Reuters, Selasa (3/2/2026), sumber resmi dari pemerintahan AS menyatakan bahwa sebagai bagian dari kesepakatan, AS akan menurunkan tarif impor atas barang asal India dari 25 persen menjadi 18 persen.
AS juga akan mencabut sebuah tarif tambahan 25 persen yang sebelumnya diberlakukan sebagai respons atas pembelian minyak Rusia oleh India.
Sebagai imbalannya, India telah setuju untuk menghentikan pembelian minyak Rusia dan secara signifikan meningkatkan pembelian minyak dari AS serta potensi pasokan lain seperti dari Venezuela.
Baca juga: Rupiah Terlemah Saat IHSG To The Moon, Anomali di RI Ternyata Juga Dialami Jepang, India, Korsel
Akar ketegangan: tarif dan minyak
Ketegangan antara kedua negara bukanlah fenomena baru. Tahun 2025 menjadi periode di mana hubungan dagang India dan AS mengalami tekanan signifikan.
Pada April 2025, pemerintahan Trump memberlakukan tarif resiprokal sekitar 25 persen atas barang India, sebagai bagian dari kebijakan tarif yang lebih luas untuk mengatasi defisit perdagangan AS.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggugat JPMorgan Chase senilai 5 miliar dollar AS. Gugatan ini terkait penutupan rekening Trump dan bisnisnya setelah kerusuhan Capitol pada 2021.
Tarif tersebut kemudian ditambah lagi 25 persen melalui sanksi sekunder yang ditujukan pada pembelian minyak Rusia oleh India, sehingga total beberapa tarif mencapai 50 persen, salah satu tingkat tertinggi yang dikenakan AS terhadap mitra dagang besar manapun.
Sikap keras AS terhadap pembelian minyak Rusia oleh India dipandang sebagai bagian dari strategi lebih luas untuk menekan pemasukan energi Rusia di tengah konflik Rusia–Ukraina yang berlanjut.
Baca juga: KFC dan Pizza Hut India Sepakat Merger di Tengah Tekanan Industri
India, yang merupakan salah satu importir minyak mentah terbesar dunia, telah secara substansial mengandalkan Rusia untuk pasokan energi sejak 2022 karena harga yang lebih rendah dibandingkan pasokan dari pasar lain.
Dalam konteks ini, tekanan tarif AS serta kemungkinan penalti yang jauh lebih tinggi, bahkan hingga 500 persen menurut beberapa laporan legislasi AS yang dibahas di Kongres, membentuk latar belakang yang menekan negosiasi antara kedua negara.
Namun demikian, pada awal Februari 2026, Trump menegaskan melalui pernyataannya di media sosial bahwa hubungan dagang telah menemukan jalan tengah.
"Kita telah mencapai kesepakatan dagang dengan India," tulis Trump, sambil menyebut India sepakat untuk menghentikan pembelian minyak Rusia dan meningkatkan pembelian barang serta energi dari AS.
Baca juga: Kontribusi Pasar Saham ke PDB 72 Persen, Bos OJK: Masih di Bawah India, Thailand, Malaysia
Rincian kesepakatan: tarif dan komitmen India
Dalam pengumuman resmi Gedung Putih, pemerintah AS menyatakan bahwa tarif khusus atas barang India akan diturunkan dari 25 persen menjadi 18 persen.
Di samping itu, tarif tambahan 25 persen yang diberlakukan sebagai penalti atas pembelian minyak Rusia juga akan dihapus setelah India menyatakan komitmennya untuk menghentikan impor minyak Rusia.
Kesepakatan ini juga mencakup komitmen India untuk menghilangkan beberapa hambatan tarif dan non-tarif terhadap barang-barang asal AS, serta rencana pembelian produk AS dalam jumlah besar.
Trump menyebut angka pembelian hingga lebih dari 500 miliar dollar AS selama periode mendatang.
Perdana Menteri India Narendra Modi berbicara pada sesi pertama KTT Pemimpin G20 di Bharat Mandapam di New Delhi pada 9 September 2023.
Baca juga: India Geser Jepang, Kini Jadi Ekonomi Terbesar Keempat di Dunia
Sementara itu, Perdana Menteri India Narendra Modi menyambut positif perkembangan tersebut. Ia mengatakan bahwa percakapannya dengan Trump berlangsung positif dan menegaskan pentingnya kerjasama bilateral yang semakin erat antara kedua ekonomi besar dunia.
“Sungguh menyenangkan bisa berbincang dengan Presiden Trump,” ujar Modi dalam konteks pengumuman kesepakatan dagang ini, sebagaimana dilaporkan oleh Times of India.
Tahapan perundingan
Perundingan dagang antara India dan AS yang mengarah pada kesepakatan ini berlangsung setelah beberapa putaran negosiasi yang sempat mengalami hambatan.
Selama tahun 2025, kedua negara sempat terlihat berada pada posisi yang berlawanan. India berfokus mempertahankan kebutuhan energi nasionalnya.
Baca juga: Siapa Raja Ekspor Beras Dunia 2025? India di Posisi Teratas
Sementara itu, AS menekan untuk mengurangi pembelian minyak Rusia sebagai bagian dari strategi geopolitik terhadap Moskow.
Menjelang akhir 2025, pejabat AS bahkan menyiratkan kemungkinan penyesuaian tarif atau jalur diplomatik untuk pencabutan tarif jika India menunjukkan perubahan dalam pola impor energi.
Laporan dari Times of India menyebutkan, sebelum pencapaian kesepakatan, Trump secara berkala menyampaikan optimisme tentang kemungkinan “good deal” dalam pembicaraan yang berlangsung, termasuk saat forum internasional seperti Davos, meskipun belum semua detail teknis dipublikasikan pada waktu itu.
Perubahan tarif: rangkaian kebijakan yang panjang
Sejarah tarif yang kini direvisi tidak terjadi secara mendadak. Peraturan tarif AS pada awal 2025 menunjukkan kebijakan yang semakin proteksionis.
Baca juga: Microsoft Bakal Investasi Rp 292 Triliun untuk Infrastruktur AI India
Ilustrasi tarif Trump. Presiden Prabowo dan Presiden Trump sepakat menurunkan tarif ekspor RI ke AS menjadi 19 persen.
Pada 2 April 2025, Trump menerbitkan Perintah Eksekutif terkait tarif resiprokal atas banyak negara yang memiliki defisit perdagangan besar dengan AS.
Langkah ini memasang tarif minimal 10 persen pada sejumlah impor, kemudian berkembang menjadi tarif yang lebih tinggi bagi negara-negara tertentu, termasuk India.
Tarif awal tersebut sementara dihentikan selama periode peninjauan, tetapi kembali diberlakukan dan ditingkatkan pada pertengahan hingga akhir 2025, menciptakan tekanan perdagangan yang besar.
Reaksi pelaku usaha dan pasar
Pengumuman pengurangan tarif ini memicu reaksi langsung di kalangan pelaku usaha eksportir India.
Baca juga: Putin Siap Pasok BBM Tanpa Henti ke India di Tengah Tekanan AS
Sektor-sektor seperti tekstil dan makanan laut menyatakan, harga yang lebih kompetitif di pasar AS setelah penurunan tarif dapat membantu memperbaiki kinerja ekspor mereka yang sempat terdampak oleh beban tarif tinggi.
Sebelum kesepakatan ini, sektor ekspor India menghadapi tantangan tajam akibat tarif sampai 50 persen, yang menurut berbagai analis berpotensi menekan volume perdagangan.
Kebijakan tarif baru juga dilihat sebagai salah satu faktor yang mendorong India mencari perjanjian dagang lain, termasuk dengan Uni Eropa dan blok perdagangan lainnya.
Perspektif India dalam arena perdagangan global
Kesepakatan dagang ini terjadi bersamaan dengan kemajuan India dalam negosiasi perdagangan lainnya.
Baca juga: India Cabut Aturan Mutu VSF, Ekspor Serat Indonesia Punya Ruang Tumbuh Lagi
Pada 27 Januari 2026, India menandatangani perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Uni Eropa setelah hampir dua dekade pembicaraan. Ini adalah perjanjian yang disebut sebagai salah satu langkah paling luas dalam sejarah hubungan ekonomi India dengan blok regional tersebut.
Perjanjian itu membuka tarif dan pasokan pasar dalam berbagai sektor, termasuk industri manufaktur dan jasa, meskipun masih menunggu ratifikasi penuh.
Perjanjian dengan Uni Eropa itu digadang-gadangkan akan memperkuat posisi India di perdagangan global, meredam ketergantungan pada satu mitra dagang tertentu, dan memberikan ruang pertumbuhan sektor ekspor yang lebih luas.
Ilustrasi impor.
Analisis dan keraguan
Meskipun Trump dan Modi menyampaikan optimisme atas kesepakatan tersebut, beberapa pengamat menunjukkan bahwa realisasi komitmen dalam angka 500 miliar dollar AS masih dipandang ambisius.
Baca juga: Permintaan India Melemah, Harga Referensi CPO Turun
Angka ini jauh melampaui volume impor India dari AS pada 2024, yang tercatat sekitar 41,5 miliar dollar AS.
Selain itu, beberapa analis skeptis terhadap kemampuan India benar-benar menghentikan pembelian minyak Rusia secara penuh dalam jangka pendek, mengingat kontrak yang telah ada dan kebutuhan energi domestik yang besar.
Diskusi tersebut juga diperumit oleh dinamika global yang melibatkan hubungan AS, China, Rusia, dan blok Eropa, yang semuanya memiliki implikasi terhadap kebijakan perdagangan dan keamanan energi India.
Tag: #india #capai #kesepakatan #dagang #tarif #turun #jadi #persen