Dukungan Internal Mengiringi Proses Transformasi Garuda Indonesia
Ilustrasi pesawat Boeing 737-800 NG yang dioperasikan Garuda Indonesia.(WIKIMEDIA COMMONS/BAHNFREND)
09:36
3 Februari 2026

Dukungan Internal Mengiringi Proses Transformasi Garuda Indonesia

– Dukungan internal dari karyawan menjadi salah satu fondasi penting dalam proses transformasi yang tengah dijalankan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Serikat Karyawan Garuda Indonesia (Sekarga) dan Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) menyatakan sikap mendukung langkah manajemen dalam melakukan pembenahan menyeluruh, termasuk kebijakan pengendalian biaya, demi menjaga keberlangsungan usaha maskapai pelat merah tersebut.

Pernyataan dukungan itu disampaikan di tengah dinamika industri penerbangan yang masih menghadapi tekanan, sekaligus menjadi sinyal bahwa transformasi Garuda Indonesia tidak hanya digerakkan oleh manajemen, tetapi juga melibatkan peran aktif para pekerja.

Kedua organisasi pekerja tersebut menilai, perubahan yang dijalankan perlu dipahami sebagai agenda bersama agar perusahaan dapat keluar dari tekanan kinerja dan kembali mencatatkan hasil positif.

“Fokus transformasi saat ini harus disikapi sebagai misi bersama. Langkah transformasi yang diambil bukan keputusan yang sederhana, namun diperlukan untuk menjaga keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang,” kata Ketua Sekarga Dwi Yulianta, melalui rilis pers, Selasa (3/2/2026). 

Baca juga: Transformasi Garuda Indonesia, Pengamat Ingatkan Pentingnya Efisiensi

Dwi menjelaskan, Sekarga telah melakukan dialog intensif dengan manajemen Garuda Indonesia untuk memahami kondisi perusahaan secara menyeluruh. Dari proses komunikasi tersebut, serikat karyawan menilai manajemen memiliki komitmen untuk menyehatkan perusahaan sekaligus tetap memperhatikan aspek ketenagakerjaan.

Ia menegaskan, kebijakan transformasi yang ditempuh perusahaan merupakan langkah strategis yang sejalan dengan program pemerintah dalam menyehatkan kinerja Garuda Indonesia. Karena itu, menurut Dwi, kebijakan tersebut patut mendapat dukungan dari seluruh karyawan sebagai bagian dari upaya kolektif menjaga masa depan perusahaan.

Selain menyampaikan dukungan, Sekarga juga menyalurkan berbagai aspirasi dari anggota terkait situasi dan dinamika yang terjadi di internal perusahaan. Aspirasi tersebut, lanjut Dwi, menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem hubungan industrial yang lebih transformatif melalui kolaborasi antara serikat pekerja dan perusahaan sebagai mitra strategis.

“Langkah ini penting agar visi dan misi perusahaan dapat dijalankan bersama, bukan hanya oleh manajemen, tetapi juga oleh seluruh insan Garuda,” ujarnya.

Baca juga: Garuda Indonesia Pangkas Gaji Direksi 10 Persen demi Efisiensi

Transformasi Harus Jadi Misi Bersama

Dukungan terhadap transformasi Garuda Indonesia juga datang dari awak kabin. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal IKAGI Uray Indrayana Kusumawijaya menyatakan, awak kabin memahami kebijakan efisiensi yang diterapkan perusahaan sebagai bagian dari komitmen kolektif untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Menurut Uray, kebijakan efisiensi tersebut disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi perusahaan saat ini. Di tengah proses transformasi, IKAGI menegaskan komitmen awak kabin untuk tetap menjaga profesionalisme serta kualitas layanan kepada penumpang.

“Kami mendukung kebijakan yang diterapkan perusahaan sesuai dengan kemampuan dan kondisi saat ini, serta berkomitmen menjaga profesionalisme dan kualitas layanan kepada penumpang selama proses transformasi berlangsung,” ungkap Uray.

Ia menambahkan, dukungan awak kabin diberikan dengan tetap mengedepankan keselamatan penerbangan dan kenyamanan penumpang sebagai prioritas utama. Menurutnya, proses transformasi tidak boleh mengurangi standar layanan yang selama ini menjadi identitas Garuda Indonesia.

Dukungan dari serikat karyawan dan awak kabin tersebut dinilai penting dalam memastikan kebijakan transformasi dapat dijalankan secara berkelanjutan. Soliditas internal, menurut Uray, menjadi modal utama bagi perusahaan untuk melewati fase perubahan yang tidak mudah.

Baca juga: Garuda Indonesia (GIAA) Terbitkan 315,6 Miliar Saham Baru, Danantara Masuk sebagai Investor

Efisiensi Tak Boleh Korbankan Keselamatan

Sementara itu, analis independen bisnis penerbangan Gatot Rahardjo menilai, efisiensi merupakan kunci utama dalam keberhasilan transformasi maskapai. Ia menyebutkan, efisiensi dapat dilakukan pada berbagai aspek, baik operasional maupun non-operasional.

Pada sisi operasional, efisiensi dapat ditempuh melalui pengelolaan rute penerbangan dan penggunaan pesawat yang lebih hemat bahan bakar. Adapun pada sisi non-operasional, langkah efisiensi dapat dilakukan melalui pengelolaan sumber daya manusia, digitalisasi proses bisnis, serta penyederhanaan prosedur kerja.

“Namun demikian, efisiensi tidak boleh mengorbankan keselamatan penerbangan maupun melanggar regulasi. Keselamatan dan keberlanjutan bisnis harus berjalan beriringan,” tegas Gatot.

Ia menilai, dukungan dari serikat karyawan dan awak kabin menjadi faktor krusial dalam memastikan kebijakan efisiensi dapat dijalankan tanpa menimbulkan gejolak internal. Menurutnya, komunikasi yang terbuka antara manajemen dan pekerja akan menentukan keberhasilan transformasi Garuda Indonesia ke depan.

Dengan adanya dukungan dari Sekarga, IKAGI, serta seluruh insan perusahaan, program transformasi Garuda Indonesia diharapkan mampu memperkuat fundamental bisnis. Manajemen menargetkan, langkah-langkah tersebut dapat mendorong pencapaian kinerja yang lebih sehat, termasuk target pencatatan laba bersih dan ekuitas positif pada akhir periode yang ditetapkan perusahaan.

Transformasi Garuda

Sebagai informasi, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengantongi Rp 23,67 triliun suntikan dana dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Suntikan dana ini untuk menyelamatkan perusahaan pelat merah ini dari kebangkrutan.

Para direksi menargetkan transformasi menyeluruh serta melakukan beragam upaya efisiensi.

Rinciannya, total penyertaan modal Dananara sebesar Rp 23,67 triliun. Angka itu didapat dari konversi pinjaman pemegang saham senilai 405 juta dollar AS atau sekitar Rp 6,65 triliun. Ada pula penyertaan modal tunai yang nilainya 1,026 miliar dollar AS, setara dengan sekitar Rp 17,02 triliun.

Dengan dana tersebut, para direksi Garuda Indonesia menargetkan transformasi menyeluruh serta melakukan beragam upaya efisiensi.

Dana ini, antara lain, akan digunakan untuk aspek paling kritikal.

Seperti, pemeliharaan pesawat Citilink yang nilainya mencapai Rp 11,2 triliun (47 persen), disusul pemeliharaan pesawat Garuda Indonesia senilai Rp 8,7 triliun (37 persen).

Modal itu juga digunakan untuk membayar utang bahan bakar energi Citilink ke Pertamina senilai Rp 3,73 triliun (16 persen).

Tag:  #dukungan #internal #mengiringi #proses #transformasi #garuda #indonesia

KOMENTAR