Praktisi Saham Ingatkan Investor Pemula Tak Tergoda Untung Instan
Ilustrasi saham, laba bersih. (Freepik)
09:08
3 Februari 2026

Praktisi Saham Ingatkan Investor Pemula Tak Tergoda Untung Instan


– Akses masyarakat ke pasar saham kini semakin terbuka seiring perkembangan teknologi digital. Namun, di balik kemudahan tersebut, investor pemula dihadapkan pada tantangan besar, terutama minimnya pemahaman risiko dan psikologi dalam berinvestasi.

Praktisi sekaligus edukator trading saham, Emir Parengkuan, menilai literasi pasar modal menjadi fondasi penting agar masyarakat tidak terjebak pada spekulasi semata.

“Banyak orang masuk pasar saham hanya karena ikut-ikutan tren, padahal tanpa pemahaman yang benar, risikonya justru sangat besar bagi keuangan jangka panjang,” kata Emir dalam rilis yang diterima Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

Baca juga: Harga Bitcoin Anjlok, Investor Pemula Perlu Lakukan Ini

Praktisi sekaligus edukator trading saham, Emir Parengkuan.Dok EMIR PARENGKUAN Praktisi sekaligus edukator trading saham, Emir Parengkuan.Menurut Emir, investasi di pasar saham bukan sekadar menebak arah harga, melainkan proses analisis yang melibatkan banyak faktor, mulai dari laporan keuangan emiten, sentimen pasar, hingga kondisi makroekonomi.

“Investor harus mengerti cara membaca pergerakan pasar dan memahami aliran modal, supaya tidak terjebak dalam pengambilan keputusan yang emosional,” ujar Emir.

Ia menekankan, dinamika bursa sangat dipengaruhi arus dana dan psikologi kolektif pelaku pasar. Karena itu, membangun pola pikir rasional dan terstruktur menjadi kunci agar investor tidak mudah terombang-ambing oleh euforia sesaat.

Baca juga: Kasus eFishery dan Pembelajaran untuk Investor Saham

Tips bagi Investor Pemula

Emir juga membagikan sejumlah pandangannya bagi masyarakat yang baru mulai berinvestasi. Ia mencontohkan, inflasi dapat menggerus daya beli dari waktu ke waktu.

“Kalau inflasi lima persen, hari ini bisa beli 100 mangga, tahun depan mungkin tinggal 95. Artinya, uang harus bekerja agar tidak kalah dari inflasi,” ujar Emir.

Menurut dia, emas dengan imbal hasil rata-rata sekitar 5–6 persen kerap dianggap sebagai safe haven. Sementara itu, imbal hasil Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka panjang berada di kisaran rata-rata 12 persen per tahun, serupa dengan saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip.

“Menurut saya, saham itu aset yang wajib dimiliki. Sebaiknya mulai sekarang, karena pengalaman di pasar juga sangat menentukan,” kata Emir.

Baca juga: Memahami Strategi Transaksi Saham: Swing Trading untuk Investor Pemula

Pentingnya Safety Net sebelum Berinvestasi

Ilustrasi investor, investasi saham, investor saham.FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi investor, investasi saham, investor saham.Emir mengingatkan agar investor pemula memiliki safety net atau cadangan keuangan sebelum terjun lebih dalam ke pasar saham.

“Kalau punya safety net, gagal 10 kali pun masih bisa hidup. Tapi kalau tidak punya, jatuh sekali saja bisa langsung pincang,” ucapnya.

Karena itu, ia menyarankan agar sebagian aset ditempatkan pada instrumen yang relatif lebih aman.

“Real estate dan emas itu hampir mendekati nol risiko. Reksa dana rata-rata bisa 7–8 persen, setidaknya harus bisa mengalahkan inflasi. Deposito menurut saya bukan pilihan utama, karena bunganya sering tidak menutup laju inflasi,” kata Emir.

Menyesuaikan Gaya Trading dengan Waktu

Selain soal instrumen, Emir juga menekankan pentingnya menyesuaikan gaya berinvestasi dengan ketersediaan waktu masing-masing individu.

“Kalau tidak punya banyak waktu, saya sarankan ubah gaya ke swing trading berbasis fundamental, yang konsepnya mirip dengan investing,” ujar Emir.

Namun, bagi mereka yang memiliki waktu dan fokus lebih, ia menilai strategi middle trading dapat menjadi pilihan.

“Yang paling penting, apa pun strateginya, perhatikan juga risikonya,” kata Emir.

Berbagi Edukasi Lewat Ruang Digital

Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak soal saham, Emir mengaku aktif membagikan edukasi pasar modal melalui berbagai kanal media sosial. Ia juga kerap berkolaborasi dengan sejumlah figur dan kreator konten saham, seperti David Noah, Hengky Adinata, dan Michael Yeoh.

Menurut Emir, kehadiran edukasi di ruang digital penting agar masyarakat awam bisa lebih mudah memahami konsep-konsep pasar modal yang selama ini terkesan rumit.

“Kalau masih bingung, silakan belajar dulu. Sekarang akses edukasi sudah terbuka lebar, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya,” ucapnya.

Selain itu, ia membangun CAK Investment Club, untuk menyederhanakan berbagai konsep teknis trading dan investasi agar mudah dipahami investor ritel.

Ia menegaskan, dunia saham tidak menawarkan jalan pintas untuk meraih keuntungan.

“Dunia saham tidak menyediakan jalan pintas, jadi jangan masuk saham dengan tangan kosong. Edukasi yang realistis adalah kunci agar investor ritel punya daya tahan dan kemampuan analisis sendiri menghadapi pasar yang terus berubah,” kata Emir.

Ia menambahkan, tujuan utama edukasi yang ia dorong bukan sekadar mengejar profit, melainkan membentuk pola pikir trading yang lebih disiplin dan berbasis data.

“Penting bagi setiap individu untuk memahami dinamika pasar sebelum menempatkan modal, supaya keputusan yang diambil benar-benar punya dasar yang kuat,” tegasnya.

Tag:  #praktisi #saham #ingatkan #investor #pemula #tergoda #untung #instan

KOMENTAR