Ada Hubungan Saling Membutuhkan di Balik Pertemuan Putin dan Xi Jinping
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) bersalaman dengan Presiden China Xi Jinping (kanan) saat tiba untuk pertemuan ketiga Belt and Road Initiative Forum di Beijing, China, Selasa (17/10/2023).(AFP/SERGEI SAVOSTYANOV)
11:06
20 Mei 2026

Ada Hubungan Saling Membutuhkan di Balik Pertemuan Putin dan Xi Jinping

- Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping, pada Selasa (20/5/2026) malam.

Keduanya akan mengadakan pembicaraan seiring dengan semakin dekatnya hubungan Moskow dan Beijing di tengah perang, sanksi, dan tatanan global yang semakin terpecah belah.

Ini merupakan pertemuan kedua Putin dan Xi dalam waktu kurang dari setahun dan bertepatan dengan peringatan 25 tahun Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama yang Baik tahun 2001.

Baca juga: Dua Sahabat Lama Segera Bertemu, Xi-Putin Ngeteh Bahas Tatanan Dunia Baru


Menariknya kunjungan Putin terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meninggalkan Beijing seusai pertemuan dengan Xi.

Baik Moskow maupun Beijing sedang menghadapi hubungan yang rumit dengan Washington, dan para analis mengatakan bahwa ketidakpastian kebijakan luar negeri Trump telah berdampak pada semakin eratnya hubungan antara Rusia dan China.

Para analis mengatakan bahwa keputusan Xi untuk menjamu Trump dan Putin dalam kurun waktu seminggu bukanlah suatu kebetulan.

Itu mencerminkan upaya Beijing untuk menampilkan dirinya sebagai aktor yang dapat dipercaya dalam tatanan dunia yang semakin terfragmentasi dan bergejolak.

Baca juga: KTT Putin-Xi, Bagaimana China Mengontrol Perekonomian Rusia?

Mengapa Rusia membutuhkan China?

China telah menjadi jalur ekonomi vital bagi Rusia setelah beralih ke kondisi darurat perang, dengan perdagangan dua arah antara kedua negara meningkat lebih dari dua kali lipat antara 2020 dan 2024.

Namun, meskipun China adalah mitra dagang terbesar Rusia, Moskwa hanya menyumbang sekitar empat persen dari total perdagangan internasional Beijing.

Ekonomi China juga jauh lebih besar, dan Beijing memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dalam negosiasi antara kedua pihak.

Sejak invasi ke Ukraina, Moskwa semakin bergantung pada teknologi dan manufaktur China.

Baca juga: Putin Tiba di China Malam-malam, Siap Bertemu Xi Jinping

Menurut laporan Bloomberg baru-baru ini, Rusia mendapatkan lebih dari 90 persen impor teknologi yang dikenai sanksi dari China.

Itu termasuk komponen dengan aplikasi militer dan penggunaan ganda, yang sangat penting untuk produksi drone dan industri pertahanan lainnya.

China juga muncul sebagai pembeli penting minyak Rusia dan produk energi lainnya pada saat pasar Eropa sebagian besar tertutup bagi Moskwa akibat perang Rusia-Ukraina.

Dengan sanksi Barat yang membatasi pilihan Rusia, Kremlin memiliki sedikit alternatif yang layak untuk skala permintaan China.

Para analis mengatakan ketidakseimbangan tersebut membuat Beijing sering kali mampu bernegosiasi dari posisi yang kuat, mengamankan akses ke minyak dan gas Rusia dengan harga diskon sambil memperluas pengaruhnya atas masa depan ekonomi Moskwa.

Baca juga: Kunjungi China Setelah Trump, Putin Bisa Dapat Info Rahasia dari Xi Jinping

Mengapa China masih membutuhkan Rusia?

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping bersulang setelah pembicaraan mereka di Kremlin, Moskwa, 21 Maret 2023. SPUTNIK/PAVEL BYRKIN via AFP Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping bersulang setelah pembicaraan mereka di Kremlin, Moskwa, 21 Maret 2023.

Meski demikian, Rusia menyediakan sesuatu yang berharga, yakni akses aman ke sumber daya energi yang melimpah di luar jalur perdagangan maritim yang rentan.

Perang Iran dan blokade Selat Hormuz telah meningkatkan kekhawatiran Beijing terhadap keamanan energi, Ini mengingat ketergantungan China yang besar pada impor minyak dan gas yang melewati jalur pelayaran yang diperebutkan.

Hal itu kembali menarik perhatian pada usulan proyek pipa gas Power of Siberia 2, yang telah lama tertunda dan diperkirakan akan menjadi topik utama dalam diskusi Putin dan Xi.

Jika berasil dibangun, jalur pipa tersebut akan mengangkut 50 miliar meter kubik gas Rusia setiap tahunnya ke China melalui Mongolia, yang secara signifikan akan memperluas aliran energi antara kedua negara.

Baca juga: Drone Rusia Hantam Kapal China Sehari Sebelum Putin bertemu Xi Jinping

Namun, hubungan ini lebih dari sekadar hubungan ekonomi. China juga menghargai Rusia sebagai mitra geopolitik.

Kedua negara adalah anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan seringkali bersekutu secara diplomatik dalam menentang kebijakan yang dipimpin AS.

Meskipun para analis mengatakan bahwa China berhati-hati untuk tidak terikat secara formal dengan Rusia melalui aliansi militer yang kaku, kedua negara tersebut secara bertahap memperkuat kemitraan mereka melalui latihan militer gabungan.

Para analis mengatakan latihan tersebut membantu memberi sinyal keselarasan strategis antara Beijing dan Moskow tanpa komitmen pertahanan bersama dari aliansi formal.

Para ahli mengatakan kekuatan kemitraan ini terletak pada fleksibilitasnya. Hubungan ini terbukti lebih tahan lama karena berakar pada kepentingan ekonomi dan strategis bersama, bukan hanya ideologi.

Tag:  #hubungan #saling #membutuhkan #balik #pertemuan #putin #jinping

KOMENTAR