Saat Amerika Serikat Memimpin AI Frontier, Tiongkok Menyiapkan Jalan Cepat untuk Mengejar Dominasi Global
Pusat data AI di Tiongkok yang sejak 2021 didukung investasi sekitar ratusan miliar. (Foto: The Guardian)
19:21
30 Januari 2026

Saat Amerika Serikat Memimpin AI Frontier, Tiongkok Menyiapkan Jalan Cepat untuk Mengejar Dominasi Global

 

— Persaingan kecerdasan buatan (AI) global memasuki fase strategis yang kian menegaskan kontras pendekatan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Washington memimpin riset AI frontier, terutama pengembangan kecerdasan buatan umum (artificial general intelligence/AGI), sementara Beijing memilih jalur pragmatis dengan memprioritaskan aplikasi nyata di sektor industri, layanan publik, dan ekonomi riil. 

Meski demikian, para pakar menilai strategi tersebut dapat menjadi jalan cepat bagi Tiongkok untuk mengejar ketertinggalan. Perbedaan pendekatan itu tercermin dari narasi para pemimpin teknologi. Di Barat, tokoh-tokoh seperti Elon Musk, Jeff Bezos, dan Mark Zuckerberg kerap membingkai AI sebagai lompatan peradaban yang berpotensi mengubah tatanan manusia. Sebaliknya, di Tiongkok, wacana serupa baru mulai muncul dari kalangan korporasi besar, salah satunya Alibaba.

Menurut laporan The Guardian, CEO Alibaba Eddie Wu menyampaikan pernyataan yang jarang terdengar dari pemimpin teknologi Tiongkok. “Dunia saat ini sedang menyaksikan fajar revolusi kecerdasan berbasis AI,” ujar Wu dalam konferensi pengembang di Hangzhou. Dia menegaskan bahwa AGI, bahkan kecerdasan buatan super (artificial superintelligence/ASI) berpotensi “meningkatkan kemampuan berpikir manusia dan membuka peluang baru bagi pengembangan potensi manusia.”

Wu menyebut ASI dapat melahirkan generasi “ilmuwan super” dan “insinyur super full-stack” yang mampu memecahkan persoalan sains dan rekayasa dengan kecepatan yang belum terbayangkan. Sejalan dengan visi tersebut, Alibaba mengumumkan rencana investasi 380 miliar yuan—sekitar Rp 918,1 triliun dengan kurs Rp 2.416 per yuan—untuk infrastruktur AI dalam tiga tahun ke depan, langkah yang mendorong saham perusahaan ke level tertinggi dalam hampir empat tahun.

Nada futuristik Wu menarik perhatian pengamat karena menyerupai retorika para CEO teknologi Barat seperti Sam Altman dari OpenAI atau Demis Hassabis dari DeepMind. Penulis teknologi Afra Wang menilai, “Pidato ASI Wu menunjukkan bahwa perusahaan besar Tiongkok mulai menyusun dan mengomunikasikan arah pengembangan AI mereka sendiri, tidak lagi sekadar mengikuti narasi Barat.”

Namun, visi korporasi tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan arah kebijakan nasional. Ya-Qin Zhang, Dekan Institute for AI Industry Research Universitas Tsinghua sekaligus mantan Presiden Baidu, menegaskan, “Tiongkok memang memiliki kelompok riset yang mengarah ke AGI. Tetapi sebagian besar perusahaan AI bekerja untuk aplikasi yang lebih baik.” Menurutnya, keterbatasan daya komputasi dan pendekatan teknologi yang pragmatis mendorong fokus pada manfaat langsung.

Pendekatan itu tercermin dalam strategi nasional “AI+” yang dirilis pemerintah Tiongkok pada Agustus lalu. Dokumen tersebut menyoroti pemanfaatan AI untuk meningkatkan diagnosis medis dan efisiensi rantai pasok, tanpa menyebut AGI. 

Julian Gewirtz, mantan pejabat senior Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat, mengatakan, “Pemerintah Tiongkok sangat fokus memetik manfaat AI di sini dan saat ini. Kita tidak seharusnya berasumsi bahwa Partai Komunis Tiongkok percaya AGI sudah dekat.”

Di Washington, perbedaan strategi tersebut justru dipandang sebagai isu geopolitik dan keamanan nasional. Presiden Microsoft Brad Smith sebelumnya memperingatkan Kongres Amerika Serikat bahwa “perlombaan antara Amerika Serikat dan Tiongkok untuk pengaruh internasional kemungkinan akan dimenangkan oleh pihak yang menjadi penggerak tercepat.” 

Sejalan dengan kekhawatiran itu, Komisi Peninjau Ekonomi dan Keamanan Amerika Serikat–Tiongkok merekomendasikan Kongres untuk “membentuk dan mendanai program bergaya Proyek Manhattan yang secara khusus ditujukan untuk memenangkan perlombaan pengembangan AGI.”

Tekanan terhadap Tiongkok juga datang melalui sanksi semikonduktor. Pembatasan ekspor chip canggih memaksa perusahaan-perusahaan Tiongkok mengandalkan perangkat domestik yang kurang efisien. Meski Nvidia sempat mendapat persetujuan menjual chip H200, Beijing dilaporkan membatasi impornya demi mengurangi ketergantungan teknologi luar negeri. Di tengah tekanan tersebut, Beijing menegaskan bahwa “kebutuhan adalah ibu dari inovasi,” dengan merujuk pada munculnya perusahaan-perusahaan AI lokal seperti DeepSeek.

Selain itu, persaingan AI turut meluas ke infrastruktur energi dan pusat data. CEO Nvidia Jensen Huang bahkan menyatakan Tiongkok berpeluang “memenangkan perlombaan AI” berkat subsidi energi bagi pusat data. Sejak 2021, Tiongkok diperkirakan telah mengucurkan sekitar USD 100 miliar—sekitar Rp 1.679 triliun dengan kurs Rp 16.790 per dolar AS—untuk sektor ini. Namun, laporan lembaga riset pemerintah menunjukkan tingkat utilisasi pusat data AI nasional baru mencapai 32 persen, memicu kekhawatiran akan pembangunan yang berlebihan.

Meski saat ini Tiongkok dinilai belum memiliki semikonduktor yang cukup canggih untuk riset kecerdasan buatan tingkat lanjut, para analis sepakat posisi persaingan belum bersifat tetap. “Status quo saat ini sangat fluktuatif,” ujar Julian Gewirtz. Dengan ambisi Presiden Xi Jinping untuk memimpin dunia dalam AI, strategi Beijing dinilai dapat berubah cepat, sehingga jarak dengan Amerika Serikat berpotensi menyempit lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #saat #amerika #serikat #memimpin #frontier #tiongkok #menyiapkan #jalan #cepat #untuk #mengejar #dominasi #global

KOMENTAR