Menjaga Kepercayaan Pasar di Tengah Risiko Turun ke Frontier
Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono saat mengikuti fit and proper test untuk menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Senin (26/1/2026).(Kompas.com/Isna Rifka Sri Rahayu )
06:08
2 Februari 2026

Menjaga Kepercayaan Pasar di Tengah Risiko Turun ke Frontier

NEGARA bisa mencetak pertumbuhan, tetapi tidak bisa mencetak kepercayaan—itu harus dirawat. Kalimat ini terasa semakin relevan di tengah lanskap ekonomi global yang belum benar-benar tenang. Suku bunga global masih bertahan relatif tinggi, fragmentasi geopolitik meningkat, dan arus modal internasional bergerak semakin cepat merespons sentimen.

Dalam situasi seperti ini, stabilitas makroekonomi tidak lagi dinilai hanya dari angka pertumbuhan atau rendahnya inflasi, tetapi dari konsistensi arah kebijakan. Pasar membaca bukan hanya data hari ini, melainkan komitmen kebijakan untuk besok.

Dalam beberapa waktu terakhir, perhatian publik dan pelaku pasar di Indonesia juga tersedot pada dinamika kelembagaan sektor keuangan: pergantian Deputi Gubernur Bank Indonesia, perubahan dan mundurnya sejumlah pimpinan di Otoritas Jasa Keuangan, serta dinamika kepemimpinan di Bursa Efek Indonesia.

Peristiwa-peristiwa ini, wajar dalam tata kelola institusi modern, tetap dibaca pasar sebagai sinyal. Bukan semata soal siapa yang duduk di kursi, tetapi tentang kesinambungan arah kebijakan yang diwakili oleh kursi tersebut.

Indonesia memasuki fase baru pembangunan dengan agenda yang ambisius: hilirisasi industri, percepatan infrastruktur, transisi energi, serta berbagai program sosial-ekonomi yang membutuhkan pembiayaan tidak kecil. Di saat yang sama, dunia sedang berada dalam rezim biaya dana global yang lebih mahal dibanding satu dekade lalu.

Kombinasi ini membuat interaksi kebijakan fiskal dan moneter menjadi semakin strategis. Stabilitas bukan lagi sekadar capaian, melainkan proses yang harus terus dirawat di tengah tuntutan pembangunan dan dinamika global.

Baca juga: Keponakan Prabowo Usung Sinergi Kebijakan Fiskal dan Moneter Saat Fit and Proper Test Deputi Gubernur BI

Koordinasi Fiskal–Moneter di Tengah Sorotan Pasar

Koordinasi fiskal dan moneter pada dasarnya bukan hal yang problematis. Dalam situasi krisis atau transisi ekonomi, koordinasi justru diperlukan untuk mencegah perlambatan tajam. Banyak negara pascapandemi masih mengandalkan kombinasi kebijakan fiskal ekspansif dan moneter yang adaptif untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Indonesia pun tidak berada di luar tren ini. Namun, konteks kekinian membuat koordinasi tersebut berada di bawah sorotan lebih terang. Ketika terjadi dinamika kepemimpinan di bank sentral, otoritas pengawas, dan bursa, pasar cenderung memperhatikan lebih seksama arah kebijakan.

Ini bukan karena pasar curiga berlebihan, melainkan karena dalam sistem keuangan modern, ekspektasi memainkan peran besar. Dalam ekonomi terbuka, persepsi bisa sama pentingnya dengan data. Perubahan figur di posisi strategis sering diterjemahkan pasar sebagai kemungkinan perubahan penekanan kebijakan, meskipun secara formal mandat institusi tetap sama. Di era informasi real-time, narasi bergerak hampir secepat transaksi.

Baca juga: Saat Kecurigaan Jadi Bahasa Pasar: Siapa Mengemudikan Kebijakan Moneter?

Fiscal Dominance sebagai Risiko Konseptual di Era Pembiayaan Besar

Dalam literatur ekonomi, kondisi ketika tekanan fiskal memengaruhi arah kebijakan moneter dikenal sebagai fiscal dominance. Konsep ini kerap dibayangkan sebagai situasi ekstrem, padahal dalam praktik modern ia lebih sering hadir dalam bentuk yang subtil: preferensi terhadap suku bunga yang tidak terlalu tinggi agar beban utang terkendali, atau toleransi terhadap inflasi dalam batas tertentu demi menjaga ruang fiskal.

Dalam konteks Indonesia hari ini, diskusi ini menjadi relevan bukan karena krisis, melainkan karena skala agenda pembangunan yang besar. Hilirisasi, transisi energi, dan pembangunan infrastruktur memerlukan pembiayaan jangka panjang.

Banyak negara menghadapi dilema serupa. Fiscal dominance sendiri jarang muncul sebagai keputusan eksplisit. Ia biasanya merupakan hasil interaksi antara kebutuhan pembiayaan, siklus ekonomi, dan ekspektasi pasar. Ketika pasar melihat tren utang meningkat dan kebutuhan pembiayaan berlanjut, sensitivitas terhadap sinyal kebijakan moneter ikut naik.

Persoalan utamanya sering kali bukan pada besaran defisit, melainkan pada persepsi keberlanjutan. Selama pasar percaya bahwa kebijakan tetap berorientasi pada stabilitas jangka menengah, ruang gerak relatif terjaga. Namun ketika muncul ketidakpastian arah, premi risiko dapat menyesuaikan lebih cepat daripada data makro.

Baca juga: Khawatirkan Inflasi 2026, Indef Sebut Moneter Harus Dorong Sektor Rill

Kredibilitas sebagai Jangkar di Tengah Transisi

Dalam fase transisi ekonomi dan kelembagaan, kredibilitas institusi menjadi jangkar utama stabilitas. Bank sentral modern dibangun di atas reputasi menjaga stabilitas harga dan mengelola ekspektasi. Reputasi ini lahir dari konsistensi, bukan dari satu-dua keputusan personal.

Dinamika kepemimpinan di otoritas moneter, pengawas, dan pasar modal adalah bagian dari siklus institusional. Namun bagi pelaku pasar, yang diuji bukan hanya individu, melainkan kesinambungan kebijakan. Pasar bisa memaklumi pergantian figur, tetapi sensitif terhadap sinyal perubahan arah.

Indonesia memiliki modal institusional yang cukup kuat: kerangka kebijakan moneter yang jelas, aturan fiskal formal, dan pengalaman melewati berbagai episode gejolak global. Tantangannya adalah memastikan bahwa agenda pembangunan besar tetap berjalan seiring dengan disiplin kebijakan dan komunikasi yang konsisten.

Pada akhirnya, stabilitas ekonomi adalah kontrak kepercayaan antara pembuat kebijakan dan pelaku pasar. Kontrak ini tidak tertulis, tetapi konsekuensinya nyata. Selama kepercayaan terjaga, ruang kebijakan tetap luas. Ketika kepercayaan menyempit, bahkan kebijakan yang rasional dapat dipersepsikan berbeda.

Indonesia tidak berada dalam krisis fiskal maupun moneter. Justru karena fondasi relatif baik, ruang untuk menjaga kehati-hatian masih terbuka. Di tengah agenda pembangunan ambisius dan dinamika kelembagaan yang menjadi sorotan, konsistensi kebijakan dan kejernihan komunikasi menjadi aset strategis.

Pertumbuhan bisa dikejar melalui berbagai program, tetapi kepercayaan hanya lahir dari disiplin yang terjaga. Dan di situlah stabilitas jangka panjang menemukan pijakannya.

Tag:  #menjaga #kepercayaan #pasar #tengah #risiko #turun #frontier

KOMENTAR