Harga Bitcoin Terjun Bebas, Kini di Bawah 78.000 Dollar AS
ilustrasi harga Bitcoin. Harga Bitcoin terus anjlok. Harga Bitcoin anjlok dan menyeret pasar kripto hingga turun di bawah 3 triliun dollar AS. Aset kripto terbesar ini memasuki bulan terburuk sejak kejatuhan industri kripto pada 2022. Sepanjang November, harga Bitcoin turun sekitar seperempat nilai totalnya.(canva.com)
09:12
2 Februari 2026

Harga Bitcoin Terjun Bebas, Kini di Bawah 78.000 Dollar AS

- Harga Bitcoin kembali anjlok dan membuat aset kripto terbesar di dunia ini terdepak dari daftar 10 besar aset dengan kapitalisasi pasar terbesar secara global.

Pantauan KompasTekno di laman CoinMarketCap, Senin (2/2/2026) pagi, harga Bitcoin kini diperdagangkan di kisaran 77.557 dollar AS, atau sekitar Rp 1,3 miliar per keping jika mengacu pada kurs Rp 16.777.

Penurunan harga ini berdampak langsung pada kapitalisasi pasar Bitcoin yang kini berada di level sekitar 1,55 triliun dollar AS (sekitar Rp 25.999 triliun). Ini menempatkannya di peringkat ke-14 aset terbesar dunia berdasarkan nilai pasar, menurut data Infinite Marketcap.

Baca juga: Pencuci Uang Kripto Digerebek, Polisi Amankan Bitcoin Rp 3 Triliun

Dengan posisi tersebut, Bitcoin kini berada di bawah sejumlah aset besar, termasuk saham Tesla dan raksasa energi Saudi Aramco.

Harga Bitcoin kembali anjlok dan membuat aset kripto terbesar di dunia ini terdepak dari daftar 10 besar aset dengan kapitalisasi pasar terbesar secara global pada awal Februari 2026.8marketcap Harga Bitcoin kembali anjlok dan membuat aset kripto terbesar di dunia ini terdepak dari daftar 10 besar aset dengan kapitalisasi pasar terbesar secara global pada awal Februari 2026.

Terjun bebas dalam sepekan terakhir

Pantauan KompasTekno di laman CoinMarketCap, Senin (2/2/2026) pagi, harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran 77.557 dollar AS, atau sekitar Rp 1,3 miliar per keping jika mengacu pada kurs Rp 16.777.
Coin Market Cap Pantauan KompasTekno di laman CoinMarketCap, Senin (2/2/2026) pagi, harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran 77.557 dollar AS, atau sekitar Rp 1,3 miliar per keping jika mengacu pada kurs Rp 16.777.

Dalam sepekan terakhir, harga Bitcoin tercatat merosot lebih dari 11 persen, dari level sekitar 90.000 dollar AS ke kisaran 78.000 dollar AS (sekitar Rp 1,5 miliar ke Rp 1,3 miliar-an). Ini jadi level terendah harga BTC sejak April 2025.

Alhasil kini, investor tengah bearish alias pesimis, sehingga memuat tekanan jual yang kuat bagi BTC. Ini membuat posisi Bitcoin terus melorot setelah sebelumnya bertahan cukup lama di jajaran 10 besar aset dunia.

Padahal, pada Oktober lalu, Bitcoin sempat berada di peringkat ke-7 aset terbesar global, bahkan pernah menembus lima besar, mengungguli perusahaan teknologi raksasa seperti Google dan Amazon.

Sebagai perbandingan, saat mencapai rekor harga tertingginya pada Oktober 2025, Bitcoin sempat diperdagangkan di atas 126.000 dollar AS (kira-kir Rp 2,1 miliar) dengan valuasi mendekati 2,5 triliun dollar AS atau menyentuh sekitar Rp 41.943 triliun.

Tak hanya BTC, tekanan juga dirasakan oleh Ethereum (ETH). Mata uang kripto terbesar kedua ini dilaporkan turun sekitar 14,5 persen dalam sepekan, membuat kapitalisasi pasarnya menyusut ke kisaran 300 miliar dollar AS (setara Rp 5.032 triliun). 

Akibatnya, Ethereum kini berada di sekitar peringkat ke-68 aset terbesar dunia, turun dari posisi 50 besar, dan bahkan kalah nilai dari sejumlah perusahaan global, seperti Coca-Cola, Cisco, dan Caterpillar.

Baca juga: Malaysia Buru Penambang Bitcoin Ilegal Pakai Drone Canggih

Penyebab harga Bitcoin anjlok

Ilustrasi aset kripto Bitcoin.Unsplash/kanchanara Ilustrasi aset kripto Bitcoin.

Anjloknya harga Bitcoin terjadi di tengah penguatan signifikan dollar AS. Penguatan ini dipicu oleh dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat, termasuk penunjukan Kevin Warsh sebagai figur Federal Reserve yang dinilai lebih hawkish dan berpotensi mendorong suku bunga riil lebih tinggi.

Dalam dunia bank sentral, hawkish menandakan bahwa bank sentral cenderung menjaga suku bunga tetap tinggi demi menekan inflasi.

Lalu, kalau pejabat The Fed hawkish, suku bunga cenderung bakal dijaga tetap tinggi atau naik, sedangkan inflasi ditekan supaya turun. Dengan rumus suku bunga riil = suku bunga acuan dikurangi inflasi, ini berpotensi membuat suku bunga riil jadi lebih tinggi.

Suku bunga riil tinggi itu racun buat aset berisiko, termasuk kripto. Karena salah satu dampaknya adalah membuat dollar AS jadi lebih menarik. Biaya pinjaman menjadi sangat mahal dan imbal hasil menabung menjadi sangat menarik karena daya beli uang meningkat.

Alhasil investor lebih pilih simpan uang di dollar atau obligasi AS. Kondisi tersebut membuat investor menarik dana dari aset-aset berisiko, termasuk kripto, seperti Bitcoin, Ethereum, dll.

Tekanan terhadap harga Bitcoin juga berpotensi diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Baca juga: Harga Bitcoin Terjun Bebas, Kekayaan Penciptanya Amblas Rp 714 Triliun

Kepala militer Iran kembali melontarkan peringatan kemungkinan serangan terhadap Israel, di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump terkait potensi aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran.

Analis Needham, John Todaro, menyebut minat investor ritel terhadap Bitcoin saat ini berada di level yang sangat rendah.

“Level saat ini mencerminkan ketidakpedulian yang cukup ekstrem dari investor ritel,” ujarnya, seraya memperkirakan volume perdagangan Bitcoin masih akan lesu selama satu hingga dua kuartal ke depan, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Coin Desk dan Bloomberg.

Tag:  #harga #bitcoin #terjun #bebas #kini #bawah #78000 #dollar

KOMENTAR