Transformasi Garuda Indonesia, Pengamat Ingatkan Pentingnya Efisiensi
Danantara memproyeksikan tahun 2026 akan menjadi titik balik dalam akselerasi pemulihan kinerja PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).
Proyeksi tersebut dinilai selaras dengan program transformasi komprehensif yang saat ini tengah dijalankan perseroan.
Akselerasi pemulihan kinerja itu disebut terefleksikan dari pergerakan harga saham yang mengindikasikan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek Garuda Indonesia.
Baca juga: PGN dan Garuda Indonesia Kolaborasi Salurkan 3 Ton Bantuan untuk Korban Bencana di Sumatera
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia.
Indikasi tersebut tercermin dari lonjakan harga saham Garuda Indonesia (GIAA) yang meningkat sebesar 9,76 persen pada awal Januari 2026, hingga menyentuh posisi Rp 90 per lembar saham.
Kenaikan ini dipicu oleh adanya perubahan struktur kepemilikan saham yang melibatkan entitas pengelola aset negara.
“Pasar telah merespons positif pemulihan kinerja Garuda Indonesia, yang tercermin dari lonjakan tajam harga saham Garuda Indonesia pada awal Januari lalu,” seperti dikutip dari Danantara Economic Outlook 2026 yang digelar pada Selasa (13/1/2026) lalu.
Dalam pandangan Danantara Indonesia, prospek sejumlah badan usaha milik negara (BUMN), termasuk Garuda Indonesia yang tengah menjalani fokus transformasi, menunjukkan perbaikan.
Baca juga: Garuda Indonesia Pangkas Gaji Direksi 10 Persen demi Efisiensi
Hal tersebut tercermin dari pergerakan harga saham yang dinilai mengindikasikan meningkatnya kepercayaan investor terhadap pemulihan kinerja.
Dukungan pendanaan dan restrukturisasi
Dalam Economic Outlook 2026, Danantara menyebut sejumlah faktor yang turut menjadi pendorong akselerasi kinerja Garuda Indonesia.
Ilustrasi pesawat Airbus A330 Garuda Indonesia.
Salah satunya adalah dukungan pendanaan dalam bentuk shareholder loan (SHL) serta suntikan modal usaha senilai Rp 23,63 triliun dari Danantara.
Dana tersebut merupakan bagian dari proses restrukturisasi yang digunakan untuk mendukung program perawatan pesawat, reaktivasi armada, hingga peningkatan kapasitas produksi.
Baca juga: Garuda Indonesia (GIAA) Terbitkan 315,6 Miliar Saham Baru, Danantara Masuk sebagai Investor
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi operasional perseroan, terutama setelah Garuda menjalani proses restrukturisasi utang dan penataan ulang model bisnis dalam beberapa tahun terakhir.
Selain dukungan pendanaan, opsi integrasi Garuda Indonesia Group dengan Pelita Air juga dipandang sebagai salah satu upaya untuk mengurangi redundansi serta meningkatkan sinergi di dalam grup usaha.
Integrasi tersebut secara khusus diarahkan untuk menciptakan efisiensi, termasuk dalam pengadaan bahan bakar.
Melalui integrasi tersebut, diharapkan terdapat optimalisasi jaringan dan pemanfaatan sumber daya yang lebih efektif di antara entitas dalam grup.
Baca juga: Garuda Indonesia (GIAA) Finalisasi Inbreng Aset GMF dan Angkasa Pura
Proyeksi laba dan ekuitas positif
Serangkaian aksi korporasi yang dilakukan Garuda Indonesia bersama pemegang saham dan entitas terkait diproyeksikan dapat memperkuat portofolio bisnis perseroan secara grup.
Dengan penguatan tersebut, program transformasi penyehatan kinerja yang sedang dijalankan diharapkan dapat berdampak pada pencatatan laba bersih dan ekuitas positif pada akhir tahun 2026.
Proyeksi tersebut menjadi bagian dari skenario pemulihan yang dipaparkan dalam Danantara Economic Outlook 2026, yang menempatkan transformasi BUMN sebagai salah satu fokus dalam mendorong kinerja korporasi negara.
Pengamat: efisiensi jadi kunci
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia.
Di sisi lain, analis independen bisnis penerbangan Gatot Rahardjo menilai berbagai upaya transformasi yang dilakukan Garuda Indonesia perlu dibarengi dengan langkah efisiensi yang konsisten.
Baca juga: Ada 34 Pesawat Garuda Indonesia-Citilink Tidak Bisa Terbang
Menurut dia, salah satu kunci untuk mendukung kesuksesan bisnis maskapai penerbangan adalah dengan melakukan efisiensi, baik dalam aspek operasional maupun non-operasional.
Gatot menyampaikan, efisiensi operasional penerbangan dapat dilakukan melalui berbagai langkah konkret.
“Efisiensi operasional penerbangan misalnya dapat dilakukan dengan banyak hal, seperti operasional pesawat yang lebih hemat bahan bakar, pemilihan rute dan jaringan rute yang lebih menguntungkan, serta bekerjasama dengan Airnav untuk menjalankan performance base navigation (PBN) dalam penerbangan," kata Gatot dalam keterangannya, dikutip pada Jumat (30/1/2026).
"Adapun untuk non-operasional penerbangan misalnya, dapat dilakukan dalam hal pengelolaan SDM, penggunaan teknologi informasi (online) untuk operasional kantor, efisiensi proses dan prosedur dan lainnya,” ujar Gatot.
Baca juga: Garuda Indonesia Buka Suara Soal Kelanjutan Merger dengan Pelita Air
Ia menekankan, efisiensi tidak hanya menyasar aspek teknis penerbangan, tetapi juga tata kelola internal perusahaan.
Namun demikian, Gatot mengingatkan bahwa langkah efisiensi harus tetap berada dalam koridor regulasi dan tidak mengorbankan aspek keselamatan.
"Yang harus diperhatikan adalah bahwa efisiensi yang dilakukan maskapai penerbangan tidak boleh mengurangi aspek keselamatan penerbangan dan tidak boleh melanggar aturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian keselamatan dan bisnis penerbangan dapat tetap berjalan beriringan untuk pengembangan bisnis maskapai tersebut,” tutur Gatot.
Tag: #transformasi #garuda #indonesia #pengamat #ingatkan #pentingnya #efisiensi